31 C
Jakarta
Monday, October 12, 2026
spot_img

Kabut Asap Indonesia Mengancam Singapura, Pemerintah Siapkan Ribuan Masker N95 Jika Polusi Udara Kian Memburuk

PETISI BRAWIJAYA MEDIA, JAKARTA – Pemerintah Singapura meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi kabut asap lintas batas yang berasal dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia. Seiring memburuknya kualitas udara dalam beberapa hari terakhir, pemerintah menyiapkan persediaan masker respirator N95 termasuk pembagian secara gratis.

Kebijakan ini diterbitkan seiring penurunan kualitas udara di Singapura yang kian mendekati level “sangat tidak sehat”.

Singapura bahkan sempat dikategorikan sebagai kota terpolusi di dunia pada Jumat pagi (9/10/2026) menurut pemantau kualitas udara berbasis di Swiss, akibat kabut asap beracun yang dipicu oleh kebakaran hutan dan lahan di negara tetangga, Indonesia.

Badan Lingkungan Nasional Singapura atau National Environment Agency (NEA) pada Jumat, 9 Oktober 2026, menyatakan bahwa pemerintah telah mengaktifkan satuan tugas khusus penanganan kabut asap atau Haze Task Force. Tim tersebut melibatkan 28 lembaga pemerintah untuk mengoordinasikan langkah perlindungan masyarakat.

Pemerintah juga memastikan persediaan masker N95 tersedia di gudang peritel dan cadangan pemerintah.

Berdasarkan skenario rencana aksi NEA, pembagian masker N95 gratis akan langsung direalisasikan apabila Indeks Standar Pencemaran Udara (PSI) 24 jam menyentuh angka 201 hingga 300 (kategori sangat tidak sehat).

Pendistribusian akan dilakukan langsung oleh organisasi akar rumput kepada warga yang memenuhi syarat.

Sebagai langkah tambahan, pemerintah juga akan menempatkan mesin penjual otomatis (vending machine) masker di sejumlah pusat transportasi umum dan kantor layanan sosial terpilih untuk mempercepat akses masyarakat.

“NEA dan lembaga lainnya siap meluncurkan rencana aksi dan imbauan tahap berikutnya untuk melindungi kesehatan masyarakat,” tulis pernyataan resmi NEA.

Pembagian masker N95 ini diprioritaskan bagi warga Singapura yang rentan terhadap dampak kabut asap, seperti lansia, anak-anak, ibu hamil, serta penderita gangguan paru-paru dan jantung, serta mereka yang kesulitan mendapatkan masker secara mandiri.

Selain menyediakan masker N95, tempat-tempat perlindungan dari kabut asap yang dilengkapi pendingin udara juga disiagakan di pusat-pusat kegiatan komunitas.

Kualitas udara memburuk, pemerintah tingkatkan kewaspadaan

Data NEA menunjukkan bahwa pada pukul 19.00 waktu setempat, Jumat, 9 Oktober 2026, indeks standar pencemaran udara selama 24 jam atau Pollutant Standards Index (PSI) berada pada kisaran 136–192. Angka tersebut masuk kategori tidak sehat.

Pada waktu yang sama, konsentrasi partikel halus PM2.5 selama satu jam tercatat sebesar 69–123 mikrogram per meter kubik.

Situasi tersebut membuat pemerintah memperkirakan PSI berpotensi melampaui angka 200 dan masuk kategori sangat tidak sehat. Oleh karena itu, berbagai lembaga pemerintah diminta bersiap menjalankan langkah penanganan lanjutan apabila kondisi udara memburuk.

Per Sabtu (9/10/2026) pukul 19.00 waktu setempat, pembacaan konsentrasi PM2.5 selama 1 jam adalah 69-123µg/m3, dalam Band 2, Tinggi, dan PSI 24 jam adalah 136-192, dalam kisaran Tidak Sehat.

Sebagai informasi, NEA mengategorikan pembacaan PSI 101 hingga 200 sebagai level tidak sehat, 201 hingga 300 sebagai sangat tidak sehat, dan di atas 300 sebagai berbahaya.

Meski angka tersebut lebih rendah dibandingkan kisaran yang dilaporkan sehari sebelumnya, kualitas udara masih berada dalam kategori tidak sehat.

Pemerintah tetap mengingatkan masyarakat untuk tidak menganggap penurunan sementara tersebut sebagai tanda bahwa ancaman kabut asap telah berakhir.

Menurut pantauan Pusat Meteorologi khusus ASEAN (ASMC) pada Sabtu sore, kepulan asap dengan tingkat kepadatan sedang hingga pekat terpantau berasal dari klaster titik panas di sebagian besar wilayah Kalimantan serta Sumatera bagian selatan.

Sejumlah stasiun pemantau kualitas udara di Semenanjung Malaysia, Singapura, Kalimantan, dan Sumatera melaporkan tingkat kualitas udara berkisar antara “Tidak Sehat” hingga “Berbahaya”.

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

1,459FollowersFollow
7,451FollowersFollow
7,700SubscribersSubscribe
- Advertisement -spot_img

Latest Articles