30.6 C
Jakarta
Tuesday, October 13, 2026
spot_img

IMF Naikkan Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Global Jadi 3,1 Persen pada 2026

PETISI BRAWIJYA MEDIA, JAKARTA – Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF) menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global pada 2026 menjadi 3,1 persen, dari perkiraan sebelumnya sebesar 3,0 persen pada Juli lalu. Meski begitu, angka ini lebih lambat dibanding laju pertumbuhan 3,5 persen tahun sebelumnya.

Revisi tersebut mencerminkan ketahanan aktivitas ekonomi dunia, terutama berkat investasi di sektor kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), meskipun perekonomian global masih dibayangi konflik geopolitik, lonjakan harga energi, dan meningkatnya beban utang.

Laporan ini dirilis pada pertemuan tahunan IMF dan World Bank di Bangkok pekan ini yang dihadiri menteri keuangan dan gubernur bank sentral 191 negara anggota.

IMF memperkirakan ekonomi dunia akan tumbuh lebih cepat pada 2027, dengan laju sebesar 3,4 persen. Namun, proyeksi tersebut masih menunjukkan bahwa pemulihan ekonomi global berlangsung tidak merata dan menghadapi sejumlah risiko yang berpotensi menghambat pertumbuhan.

Lembaga ini juga memperkirakan inflasi mencapai 4,1 persen pada 2027, di atas proyeksi 3,9 persen yang disampaikan pada Juli.

IMF kini memprediksi Selat Hormuz dibuka kembali pada Maret 2027 dan diperkirakan kembali normal seperti sebelum perang, seiring ekspor minyak mentah Teluk rata-rata sudah mencapai 88% dari level sebelum konflik pada September.

Sebelum perang, selat tersebut mengangkut sekitar seperempat perdagangan minyak dunia melalui jalur laut.

Negara-negara dengan kinerja ekonomi terkuat memiliki kerentanan yang terbatas terhadap gejolak energi dan keterkaitan yang kuat dengan rantai pasokan perangkat keras AI.

Meski AI menopang ketahanan ekonomi global, IMF menyebut ledakan investasi ini juga akan semakin menambah tekanan inflasi dan kerapuhan finansial. Investasi masif mengalir ke sektor semikonduktor, pusat data, dan pembangkit listrik sebelum keuntungan produktivitas yang luas benar-benar terwujud.

IMF memperingatkan, jika keuntungan produktivitas AI gagal terwujud, saham AS berpotensi turun 20%. Pertumbuhan global pun bisa berakhir 1,1 persen di bawah estimasi dasar pada 2028, dengan kawasan Asia tertekan lebih dalam hingga 1,7 persen.

Sebaliknya, negara-negara pengimpor energi yang memiliki keterkaitan minim dengan perkembangan teknologi, termasuk banyak negara berpendapatan rendah, menghadapi tekanan paling berat berupa kenaikan biaya impor, pelemahan mata uang, dan penurunan pendapatan riil.

IMF memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Arab Saudi untuk 2026 sebesar 5 poin persentase dibandingkan perkiraan Juli, sehingga diperkirakan mengalami kontraksi 3,3 persen.

Sementara itu, Bahrain, Irak, Kuwait, dan Qatar, sebagai negara produsen komoditas yang paling terdampak gangguan output dan distribusi energi, diperkirakan mengalami kontraksi ekonomi dua digit tahun ini.

IMF memperingatkan penyangga tersebut menyempit dalam jangka pendek. Cadangan minyak global terkuras sekitar 2,7 juta barel per hari, mendekati level yang bisa memicu pergerakan harga tajam.

Harga minyak diperkirakan mencapai rata-rata 95,74 dolar AS (1 dolar AS = Rp18.399) per barel pada 2026, melonjak sekitar 41 persen dibandingkan 2025, dan turun menjadi 87,39 dolar AS per barel pada 2027.

Inflasi utama global diperkirakan naik dari 4,1 persen pada 2025 menjadi 4,7 persen tahun ini sebelum kembali turun menjadi 4,1 persen di 2027.

Pertumbuhan ekonomi global kini makin tidak merata. 32 ekonomi kini menyumbang 95% pertumbuhan global, turun drastis dari 54 ekonomi pada April lalu.

Taiwan diperkirakan tumbuh 10,7% tahun ini, sementara Korea Selatan diproyeksikan tumbuh 3,3 persen berkat permintaan semikonduktor. Amerika Serikat (AS) diproyeksikan tumbuh 2,3 persen pada 2026 dan 2027, didukung konsumsi swasta dan investasi teknologi.

Kawasan euro diperkirakan tumbuh 1,1 persen pada 2026 dan 1,2 persen pada 2027, mencerminkan berlanjutnya tekanan akibat tingginya harga energi dan lemahnya kepercayaan konsumen.

Pertumbuhan India diproyeksikan sebesar 7,0 persen pada 2026 dan 2027. Sementara itu, Jepang diperkirakan tumbuh 0,7 persen dan Inggris 1,3 persen pada 2026.

Dari segi fiskal, utang publik di ekonomi maju diproyeksikan mencapai 115 persen dari produk domestik bruto (PDB) pada 2031, naik dari 108 persen pada 2025. IMF mendesak pemerintah di berbagai negara agar dukungan bagi rumah tangga yang menghadapi kenaikan biaya energi dan pangan tetap bersifat sementara dan tersasar.

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

1,459FollowersFollow
7,451FollowersFollow
7,700SubscribersSubscribe
- Advertisement -spot_img

Latest Articles