{"id":3598,"date":"2026-05-13T09:10:45","date_gmt":"2026-05-13T09:10:45","guid":{"rendered":"https:\/\/petisibrawijaya.or.id\/?p=3598"},"modified":"2026-05-17T09:14:03","modified_gmt":"2026-05-17T09:14:03","slug":"viral-nobar-film-dokumenter-pesta-babi-berujung-polemik-hingga-pembubaran-di-sejumlah-daerah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/petisibrawijaya.or.id\/?p=3598","title":{"rendered":"Viral! Nobar Film Dokumenter \u201cPesta Babi\u201d Berujung Polemik hingga Pembubaran di Sejumlah Daerah"},"content":{"rendered":"<p><strong>PETISI BRAWIJAYA MEDIA, JAKARTA<\/strong> &#8211; Gelombang polemik tengah mengiringi pemutaran film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita. Kegiatan nonton bareng (nobar) film tersebut dilaporkan dibubarkan di sejumlah daerah dan kampus, memicu perdebatan soal kebebasan berekspresi, sensitivitas isu sosial, hingga keterlibatan aparat keamanan.<\/p>\n<p>Film dokumenter &#8216;Pesta Babi&#8217; karya Dandhy Laksono tersebut menyoroti hilangnya hutan di Papua usai dikonversi menjadi perkebunan industri dengan mengatasnamakan ketahanan pangan dan transisi energi. Film ini juga merekam perjuangan masyarakat Papua dalam mempertahankan tanah leluhur mereka.<\/p>\n<p>Dokumenter tersebut menyoroti perjuangan masyarakat adat suku Marind, Yei, Awyu, dan Muyu dalam mempertahankan tanah leluhur mereka dari ekspansi industri perkebunan sawit, tebu, hingga proyek pangan skala besar yang disebut mengubah kawasan hutan adat menjadi wilayah industri.<\/p>\n<p>Tak hanya menampilkan cerita lapangan, film ini juga memuat penelusuran data mengenai kepemilikan dan afiliasi bisnis perusahaan perkebunan di Papua Selatan, termasuk pihak-pihak yang disebut memperoleh keuntungan dari proyek tersebut.<\/p>\n<p>Film dokumenter yang mengangkat isu sosial dan konflik di Papua itu menjadi sorotan publik setelah beberapa agenda pemutarannya dihentikan oleh aparat maupun pihak kampus dengan berbagai alasan, mulai dari persoalan perizinan hingga kekhawatiran memicu ketegangan sosial.<\/p>\n<p><strong>Pembubaran Nobar oleh Pihak TNI<\/strong><\/p>\n<p>Di Ternate, Maluku Utara, pembubaran nobar dilakukan oleh aparat TNI AD saat kegiatan diskusi dan pemutaran film berlangsung di Pendopo Benteng Oranje, Kelurahan Gamalama, Ternate Tengah, pada Jumat (8\/5) pukul 20.00 WIT, yang digelar Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Ternate bersama Society of Indonesian Environmental Journalist (SIEJ) Maluku Utara.<\/p>\n<p>Pihak Kodim 1501\/Ternate menyebut kegiatan tersebut tidak memiliki izin resmi serta dianggap berpotensi menimbulkan kesalahpahaman terkait isu SARA. Aparat mengklaim langkah yang dilakukan bersifat preventif demi menjaga stabilitas keamanan masyarakat.<\/p>\n<p>&#8220;Kami melihat di media sosial, banyaknya penolakan akan kegiatan film ini, karena banyak yang menilai ini bersifat provokatif dari judulnya,&#8221; ujar Letkol Inf Jani Setiadi saat memimpin pembubaran aksi nobar tersebut.<\/p>\n<p>Jani mengklaim penilaian negatif terhadap isi film datang dari masyarakat dan bukan dari asumsi TNI. Ia meminta kegiatan nobar tersebut tidak dilanjutkan, mengingat isu SARA di Maluku Utara sangat sensitif dan mudah dipolitisasi.<\/p>\n<p>Ia menyebut TNI tak melarang kegiatan diskusi selama dilaksanakan sesuai prosedur dan memiliki izin. Ia juga menyinggung materi yang disampaikan tak boleh menimbulkan potensi konflik di tengah masyarakat.<\/p>\n<p>&#8220;Ini bukan pendapat pribadi saya. Tapi jika tidak percaya, akan saya tunjukkan, banyak yang sifat provokatif menurut masyarakat, menurut di media sosial,&#8221; ujarnya.<\/p>\n<p>&#8220;Hingga saat ini, aparat keamanan bersama unsur terkait masih terus melakukan komunikasi dan koordinasi dengan pihak penyelenggara guna memastikan situasi tetap aman dan terkendali,&#8221; bunyi keterangan yang dibagikan.<\/p>\n<p>&#8220;Pendekatan yang dilakukan mengedepankan musyawarah, edukasi, dan langkah preventif demi menjaga stabilitas keamanan serta keharmonisan masyarakat di Kota Ternate,&#8221; tambahnya.<\/p>\n<p>Namun, tindakan tersebut menuai kritik dari sejumlah organisasi jurnalis dan aktivis sipil. AJI Ternate menilai pembubaran nobar sebagai bentuk intimidasi terhadap ruang demokrasi dan kebebasan berekspresi warga.<\/p>\n<p>Mereka menegaskan bahwa pemutaran film dokumenter seharusnya menjadi ruang diskusi publik, bukan justru dibatasi oleh aparat.<\/p>\n<p>&#8220;Ini bukan sekadar pembubaran nobar film, tapi bentuk nyata intimidasi terhadap ruang demokrasi dan kebebasan berekspresi warga. Aparat tidak seharusnya menjadi pihak yang menentukan karya apa yang boleh atau tidak boleh ditonton masyarakat,&#8221; tegas Ketua AJI Ternate Yunita Kaunar.<\/p>\n<p><strong>Pembubaran Nobar oleh Pihak Kampus<\/strong><\/p>\n<p>Tak hanya di Ternate, pembubaran serupa juga dilaporkan terjadi di tiga kampus di Mataram, Nusa Tenggara Barat, juga membubarkan nobar Pesta Babi: Undikma, Unram, dan UIN Mataram.<\/p>\n<p>Peristiwa pembubaran pertama dilakukan Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan Unram, Sujita bersama puluhan satpam kampus, pada Kamis (7\/5) sekitar pukul 18.55 WITA.<\/p>\n<p>Sujita beralasan film dokumenter yang mengupas dampak deforestasi hingga perampasan tanah adat di Papua itu tidak layak ditonton. Ia lantas meminta para mahasiswa untuk membatalkan pemutaran film itu.<\/p>\n<p>&#8220;Film ini saya kira kurang baik untuk ditonton,&#8221; ujarnya kepada wartawan, Jumat (8\/5).<\/p>\n<p>Sujita mengklaim pembubaran nobar film &#8216;Pesta Babi&#8217; itu dilakukan atas perintah Rektor Unram, Sukardi. Ia lantas menyarankan mahasiswa untuk menonton pertandingan sepakbola atau film lainnya.<\/p>\n<p>&#8220;Saya menolak demi menjaga kondusivitas dan supaya tidak ada ketersinggungan antara kita,&#8221; tuturnya.<\/p>\n<p>&#8220;Mending kita nonton film lain atau sepakbola,&#8221; imbuhnya.<\/p>\n<p>Video dan unggahan terkait penghentian acara nobar tersebut kemudian viral di media sosial dan memancing reaksi luas dari masyarakat. Sebagian pihak menilai langkah pembubaran tersebut sebagai bentuk pembungkaman terhadap karya kritis.<\/p>\n<p><strong>Tanggapan Komnas HAM dan Menteri HAM RI<\/strong><\/p>\n<p>Ketua Komnas HAM RI, Anis Hidayah, mengecam pembubaran nobar tersebut. Menurut Anis, film adalah bagian dari kebebasan berpendapat dan berekspresi yang dilindungi konstitusi.<\/p>\n<p>Sementara itu, Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) Natalius Pigai menegaskan pelarangan pemutaran maupun nobar film tidak dapat dilakukan secara sepihak tanpa dasar hukum dan keputusan pengadilan.<\/p>\n<p>Menurut Pigai pembatasan terhadap karya film hanya dapat dilakukan melalui mekanisme hukum yang diatur dalam perundang-undangan.<\/p>\n<p>Oleh karena itu, pihak yang tidak memiliki kewenangan hukum tidak dibenarkan melakukan pelarangan terhadap pemutaran film di ruang publik.<\/p>\n<p>&#8220;Film itu hanya boleh dilarang menurut keputusan pengadilan, menurut undang-undang,&#8221; kata Pigai.<\/p>\n<p><strong>Tanggapan Ketua DPR RI<\/strong><\/p>\n<p>Ketua DPR RI, Puan Maharani, turut buka suara terkait polemik tersebut. Ia mengaku telah mendengar laporan mengenai pembubaran nobar di sejumlah wilayah dan menilai isu yang diangkat dalam film memang sensitif di tengah masyarakat. Meski demikian, DPR disebut akan menindaklanjuti persoalan tersebut melalui komisi terkait.<\/p>\n<p>&#8220;Harus ditindaklanjuti dengan baik dan karenanya kami juga di DPR akan meminta komisi terkait meminta penjelasan hal itu,&#8221; kata Puan usai memimpin rapat paripurna di kompleks parlemen, Jakarta, Selasa.<\/p>\n<p>Dia juga mengaku belum mengetahui isi dari film tersebut yang kini sedang menjadi pembicaraan publik.<\/p>\n<p>Namun, dia mendengar bahwa judul atau isi dari film itu memuat hal yang sensitif.<\/p>\n<p>Jika nyatanya film &#8220;Pesta Babi&#8221; itu memuat narasi yang sensitif dan tidak baik untuk masyarakat, maka hal itu juga harus diantisipasi dengan baik.<\/p>\n<p>&#8220;Isi film itu saya juga tidak tahu, namun kami akan tindaklanjuti di DPR,&#8221; katanya.<\/p>\n<p><strong>Tanggapan Koalisi Masyarakat Sipil<\/strong><\/p>\n<p>Sebagai informasi, sejak diputar secara terbatas dan disertai diskusi publik mulai Maret 2026, rangkaian intimidasi terhadap pemutaran film disebut terus terjadi. Koalisi Masyarakat Sipil mencatat sedikitnya ada 21 kasus intimidasi serius di berbagai daerah.<\/p>\n<p>Salah satu kejadian pertama tercatat pada 9 April 2026 di Dompu, Nusa Tenggara Timur, ketika pemutaran film diawasi aparat intelijen. Tekanan juga terjadi di lingkungan pendidikan, termasuk di SMAN 1 Sungayang, Tanah Datar, Sumatra Barat. Pada Mei 2026, pihak sekolah disebut mendapat komunikasi dari Badan Intelijen Negara terkait pemutaran film tersebut.<\/p>\n<p>Sementara di Yogyakarta, sejumlah ruang alternatif pemutaran dilaporkan memilih menolak menjadi lokasi acara karena khawatir terhadap tekanan dan situasi keamanan.<\/p>\n<p>Koalisi Masyarakat Sipil yang terdiri dari 10 organisasi pemerhati demokrasi dan hak asasi manusia menilai tindakan pelarangan tersebut sebagai bentuk pelanggaran terhadap hak berekspresi dan hak masyarakat untuk memperoleh informasi.<\/p>\n<p>\u201cMasyarakat punya hak menentukan sendiri apa yang ingin mereka tonton dan diskusikan. Aparat keamanan tidak memiliki kewenangan menjadi penentu tafsir atau selera atas sebuah karya seni,\u201d tulis Koalisi dalam pernyataan resminya.<\/p>\n<p>Koalisi juga menilai pembubaran tanpa alasan jelas justru memperlihatkan masih kuatnya praktik sensor terhadap ruang budaya dan pengetahuan di Indonesia. Kondisi ini dinilai berbahaya karena bisa memunculkan iklim swasensor di kalangan pekerja seni, komunitas budaya, hingga ruang pemutaran independen.<\/p>\n<p>Mereka mengingatkan bahwa kebebasan berekspresi dijamin konstitusi dan merupakan bagian dari hak asasi manusia yang harus dilindungi negara.<\/p>\n<p>Selain itu, Koalisi menyoroti dugaan adanya unsur pidana dalam tindakan ancaman dan pembubaran paksa terhadap acara pemutaran film.<\/p>\n<p>Mereka merujuk pada Pasal 448 KUHP yang dinilai dapat dikenakan kepada pihak-pihak yang melakukan intimidasi dan pembubaran secara sewenang-wenang.<\/p>\n<p>Koalisi pun mendesak pihak kampus, kepolisian, TNI, dan pemerintah untuk menghentikan segala bentuk intimidasi, pengawasan berlebihan, serta pembubaran terhadap forum diskusi dan pemutaran film yang berlangsung damai.<\/p>\n<p>Di tengah kontroversi tersebut, satu hal justru terlihat jelas: semakin besar tekanan untuk membungkam film Pesta Babi, semakin luas pula rasa penasaran publik untuk menontonnya.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>PETISI BRAWIJAYA MEDIA, JAKARTA &#8211; Gelombang polemik tengah mengiringi pemutaran film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita. Kegiatan nonton bareng (nobar) film tersebut dilaporkan dibubarkan di sejumlah daerah dan kampus, memicu perdebatan soal kebebasan berekspresi, sensitivitas isu sosial, hingga keterlibatan aparat keamanan. Film dokumenter &#8216;Pesta Babi&#8217; karya Dandhy Laksono tersebut menyoroti hilangnya hutan di [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":3599,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[2,7,3],"tags":[],"class_list":{"0":"post-3598","1":"post","2":"type-post","3":"status-publish","4":"format-standard","5":"has-post-thumbnail","7":"category-headline-news","8":"category-megapolitan","9":"category-politik"},"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v27.3 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Viral! Nobar Film Dokumenter \u201cPesta Babi\u201d Berujung Polemik hingga Pembubaran di Sejumlah Daerah - Petisi Brawijaya<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/petisibrawijaya.or.id\/?p=3598\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Viral! Nobar Film Dokumenter \u201cPesta Babi\u201d Berujung Polemik hingga Pembubaran di Sejumlah Daerah - Petisi Brawijaya\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"PETISI BRAWIJAYA MEDIA, JAKARTA &#8211; Gelombang polemik tengah mengiringi pemutaran film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita. Kegiatan nonton bareng (nobar) film tersebut dilaporkan dibubarkan di sejumlah daerah dan kampus, memicu perdebatan soal kebebasan berekspresi, sensitivitas isu sosial, hingga keterlibatan aparat keamanan. Film dokumenter &#8216;Pesta Babi&#8217; karya Dandhy Laksono tersebut menyoroti hilangnya hutan di [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/petisibrawijaya.or.id\/?p=3598\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Petisi Brawijaya\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/petisi.brawijaya\/\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2026-05-13T09:10:45+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2026-05-17T09:14:03+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"http:\/\/petisibrawijaya.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/WhatsApp-Image-2026-05-13-at-10.40.54.jpeg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"720\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"566\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"petisiadm\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"petisiadm\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"6 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/petisibrawijaya.or.id\\\/?p=3598#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/petisibrawijaya.or.id\\\/?p=3598\"},\"author\":{\"name\":\"petisiadm\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/petisibrawijaya.or.id\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/af5f32ff6cc0ae2da590caf92129b28b\"},\"headline\":\"Viral! Nobar Film Dokumenter \u201cPesta Babi\u201d Berujung Polemik hingga Pembubaran di Sejumlah Daerah\",\"datePublished\":\"2026-05-13T09:10:45+00:00\",\"dateModified\":\"2026-05-17T09:14:03+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/petisibrawijaya.or.id\\\/?p=3598\"},\"wordCount\":1246,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/petisibrawijaya.or.id\\\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/petisibrawijaya.or.id\\\/?p=3598#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/petisibrawijaya.or.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/05\\\/WhatsApp-Image-2026-05-13-at-10.40.54.jpeg\",\"articleSection\":[\"Headline News\",\"Megapolitan\",\"Politik\"],\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/petisibrawijaya.or.id\\\/?p=3598#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/petisibrawijaya.or.id\\\/?p=3598\",\"url\":\"https:\\\/\\\/petisibrawijaya.or.id\\\/?p=3598\",\"name\":\"Viral! Nobar Film Dokumenter \u201cPesta Babi\u201d Berujung Polemik hingga Pembubaran di Sejumlah Daerah - Petisi Brawijaya\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/petisibrawijaya.or.id\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/petisibrawijaya.or.id\\\/?p=3598#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/petisibrawijaya.or.id\\\/?p=3598#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/petisibrawijaya.or.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/05\\\/WhatsApp-Image-2026-05-13-at-10.40.54.jpeg\",\"datePublished\":\"2026-05-13T09:10:45+00:00\",\"dateModified\":\"2026-05-17T09:14:03+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/petisibrawijaya.or.id\\\/?p=3598#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/petisibrawijaya.or.id\\\/?p=3598\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/petisibrawijaya.or.id\\\/?p=3598#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/petisibrawijaya.or.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/05\\\/WhatsApp-Image-2026-05-13-at-10.40.54.jpeg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/petisibrawijaya.or.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/05\\\/WhatsApp-Image-2026-05-13-at-10.40.54.jpeg\",\"width\":720,\"height\":566,\"caption\":\"Film dokumenter Pesta Babi karya Dandhy Laksono dan Cypri Paju Dale tengah viral. Simak sinopsis, kontroversi, dan fakta menarik di balik film tentang Papua ini\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/petisibrawijaya.or.id\\\/?p=3598#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/petisibrawijaya.or.id\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Viral! Nobar Film Dokumenter \u201cPesta Babi\u201d Berujung Polemik hingga Pembubaran di Sejumlah Daerah\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/petisibrawijaya.or.id\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/petisibrawijaya.or.id\\\/\",\"name\":\"Petisi Brawijaya\",\"description\":\"Barisan Kebenaran Untuk Demokrasi\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/petisibrawijaya.or.id\\\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/petisibrawijaya.or.id\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/petisibrawijaya.or.id\\\/#organization\",\"name\":\"Petisi Brawijaya\",\"url\":\"https:\\\/\\\/petisibrawijaya.or.id\\\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/petisibrawijaya.or.id\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/petisibrawijaya.or.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/10\\\/petisi-logo.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/petisibrawijaya.or.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/10\\\/petisi-logo.png\",\"width\":545,\"height\":181,\"caption\":\"Petisi Brawijaya\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/petisibrawijaya.or.id\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.facebook.com\\\/petisi.brawijaya\\\/\"]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/petisibrawijaya.or.id\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/af5f32ff6cc0ae2da590caf92129b28b\",\"name\":\"petisiadm\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/ef5cf825eeadba46b8473399d34d5fa31f9a38bb4a94abe4b3dda776bb5cede2?s=96&d=blank&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/ef5cf825eeadba46b8473399d34d5fa31f9a38bb4a94abe4b3dda776bb5cede2?s=96&d=blank&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/ef5cf825eeadba46b8473399d34d5fa31f9a38bb4a94abe4b3dda776bb5cede2?s=96&d=blank&r=g\",\"caption\":\"petisiadm\"},\"sameAs\":[\"http:\\\/\\\/petisibrawijaya.or.id\"],\"url\":\"https:\\\/\\\/petisibrawijaya.or.id\\\/?author=1\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Viral! Nobar Film Dokumenter \u201cPesta Babi\u201d Berujung Polemik hingga Pembubaran di Sejumlah Daerah - Petisi Brawijaya","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/petisibrawijaya.or.id\/?p=3598","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Viral! Nobar Film Dokumenter \u201cPesta Babi\u201d Berujung Polemik hingga Pembubaran di Sejumlah Daerah - Petisi Brawijaya","og_description":"PETISI BRAWIJAYA MEDIA, JAKARTA &#8211; Gelombang polemik tengah mengiringi pemutaran film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita. Kegiatan nonton bareng (nobar) film tersebut dilaporkan dibubarkan di sejumlah daerah dan kampus, memicu perdebatan soal kebebasan berekspresi, sensitivitas isu sosial, hingga keterlibatan aparat keamanan. Film dokumenter &#8216;Pesta Babi&#8217; karya Dandhy Laksono tersebut menyoroti hilangnya hutan di [&hellip;]","og_url":"https:\/\/petisibrawijaya.or.id\/?p=3598","og_site_name":"Petisi Brawijaya","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/petisi.brawijaya\/","article_published_time":"2026-05-13T09:10:45+00:00","article_modified_time":"2026-05-17T09:14:03+00:00","og_image":[{"width":720,"height":566,"url":"http:\/\/petisibrawijaya.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/WhatsApp-Image-2026-05-13-at-10.40.54.jpeg","type":"image\/jpeg"}],"author":"petisiadm","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"petisiadm","Est. reading time":"6 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/petisibrawijaya.or.id\/?p=3598#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/petisibrawijaya.or.id\/?p=3598"},"author":{"name":"petisiadm","@id":"https:\/\/petisibrawijaya.or.id\/#\/schema\/person\/af5f32ff6cc0ae2da590caf92129b28b"},"headline":"Viral! Nobar Film Dokumenter \u201cPesta Babi\u201d Berujung Polemik hingga Pembubaran di Sejumlah Daerah","datePublished":"2026-05-13T09:10:45+00:00","dateModified":"2026-05-17T09:14:03+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/petisibrawijaya.or.id\/?p=3598"},"wordCount":1246,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/petisibrawijaya.or.id\/#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/petisibrawijaya.or.id\/?p=3598#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/petisibrawijaya.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/WhatsApp-Image-2026-05-13-at-10.40.54.jpeg","articleSection":["Headline News","Megapolitan","Politik"],"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/petisibrawijaya.or.id\/?p=3598#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/petisibrawijaya.or.id\/?p=3598","url":"https:\/\/petisibrawijaya.or.id\/?p=3598","name":"Viral! Nobar Film Dokumenter \u201cPesta Babi\u201d Berujung Polemik hingga Pembubaran di Sejumlah Daerah - Petisi Brawijaya","isPartOf":{"@id":"https:\/\/petisibrawijaya.or.id\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/petisibrawijaya.or.id\/?p=3598#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/petisibrawijaya.or.id\/?p=3598#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/petisibrawijaya.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/WhatsApp-Image-2026-05-13-at-10.40.54.jpeg","datePublished":"2026-05-13T09:10:45+00:00","dateModified":"2026-05-17T09:14:03+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/petisibrawijaya.or.id\/?p=3598#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/petisibrawijaya.or.id\/?p=3598"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/petisibrawijaya.or.id\/?p=3598#primaryimage","url":"https:\/\/petisibrawijaya.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/WhatsApp-Image-2026-05-13-at-10.40.54.jpeg","contentUrl":"https:\/\/petisibrawijaya.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/WhatsApp-Image-2026-05-13-at-10.40.54.jpeg","width":720,"height":566,"caption":"Film dokumenter Pesta Babi karya Dandhy Laksono dan Cypri Paju Dale tengah viral. Simak sinopsis, kontroversi, dan fakta menarik di balik film tentang Papua ini"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/petisibrawijaya.or.id\/?p=3598#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/petisibrawijaya.or.id\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Viral! Nobar Film Dokumenter \u201cPesta Babi\u201d Berujung Polemik hingga Pembubaran di Sejumlah Daerah"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/petisibrawijaya.or.id\/#website","url":"https:\/\/petisibrawijaya.or.id\/","name":"Petisi Brawijaya","description":"Barisan Kebenaran Untuk Demokrasi","publisher":{"@id":"https:\/\/petisibrawijaya.or.id\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/petisibrawijaya.or.id\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/petisibrawijaya.or.id\/#organization","name":"Petisi Brawijaya","url":"https:\/\/petisibrawijaya.or.id\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/petisibrawijaya.or.id\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/petisibrawijaya.or.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/petisi-logo.png","contentUrl":"https:\/\/petisibrawijaya.or.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/petisi-logo.png","width":545,"height":181,"caption":"Petisi Brawijaya"},"image":{"@id":"https:\/\/petisibrawijaya.or.id\/#\/schema\/logo\/image\/"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/petisi.brawijaya\/"]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/petisibrawijaya.or.id\/#\/schema\/person\/af5f32ff6cc0ae2da590caf92129b28b","name":"petisiadm","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/ef5cf825eeadba46b8473399d34d5fa31f9a38bb4a94abe4b3dda776bb5cede2?s=96&d=blank&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/ef5cf825eeadba46b8473399d34d5fa31f9a38bb4a94abe4b3dda776bb5cede2?s=96&d=blank&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/ef5cf825eeadba46b8473399d34d5fa31f9a38bb4a94abe4b3dda776bb5cede2?s=96&d=blank&r=g","caption":"petisiadm"},"sameAs":["http:\/\/petisibrawijaya.or.id"],"url":"https:\/\/petisibrawijaya.or.id\/?author=1"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/petisibrawijaya.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3598","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/petisibrawijaya.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/petisibrawijaya.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/petisibrawijaya.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/petisibrawijaya.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=3598"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/petisibrawijaya.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3598\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3600,"href":"https:\/\/petisibrawijaya.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3598\/revisions\/3600"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/petisibrawijaya.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/3599"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/petisibrawijaya.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=3598"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/petisibrawijaya.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=3598"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/petisibrawijaya.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=3598"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}