{"id":3866,"date":"2026-05-28T18:10:32","date_gmt":"2026-05-28T18:10:32","guid":{"rendered":"https:\/\/petisibrawijaya.or.id\/?p=3866"},"modified":"2026-06-07T18:13:20","modified_gmt":"2026-06-07T18:13:20","slug":"viral-dugaan-skandal-pemalsuan-riset-ilmiah-oleh-wni-di-konferensi-internasional-di-denmark","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/petisibrawijaya.or.id\/?p=3866","title":{"rendered":"Viral! Dugaan Skandal Pemalsuan Riset Ilmiah oleh WNI di Konferensi Internasional di Denmark"},"content":{"rendered":"<p><strong>PETISI BRAWIJAYA MEDIA, JAKARTA<\/strong> &#8211; Dunia akademik Indonesia tengah menjadi sorotan setelah muncul dugaan skandal pemalsuan riset ilmiah yang melibatkan sejumlah warga negara Indonesia (WNI) dalam konferensi International Society of Pneumonia and Pneumococcal Diseases (ISSPD) di Kopenhagen, Denmark, pada 17-21 Mei 2026. Kasus ini pun dengan cepat menjadi viral di media sosial dan memicu perhatian luas dari kalangan peneliti hingga pemerintah.<\/p>\n<p>Kasus ini pertama kali ramai dibahas setelah diungkap oleh epidemiolog Wa Ode Dwi Daningrat melalui akun Instagramnya, Senin (25\/5\/2026). Ia turut berpartisipasi dalam konferensi ilmiah itu, mewakili tim Oxford University. Masalah ini pun menjadi perbincangan di media sosial di Indonesia kemudian.<\/p>\n<p>Wa Ode Dwi Daningrat atau Dwi merupakan peneliti Indonesia yang berkiprah di bidang clinical medicine di University of Oxford. Dwi menemukan kejanggalan terhadap abstrak ilmiah yang disodorkan sekelompok periset tersebut dalam ISPPD tersebut.<\/p>\n<p>ISPPD atau International Society of Pneumonia and Pneumococcal Diseases merupakan forum ilmiah global utama di bidang pneumonia dan penyakit pneumokokal. Forum ini mempertemukan ribuan ilmuwan, dokter, epidemiolog, dan peneliti kesehatan dari berbagai negara.<\/p>\n<p>Menurut Dwi, sekelompok periset itu menyodorkan 19 abstrak yang dipamerkan dalam acara tersebut. Ia menyebut terdapat indikasi fabrikasi data hingga penggunaan kecerdasan buatan artificial intelligence (AI) dalam penyusunan riset itu.<\/p>\n<p>Menurutnya, jumlah abstrak sebanyak itu tidak masuk akal dibuat dalam waktu singkat. Selain itu, salah satu kejanggalan yang ditemukan adalah munculnya istilah \u201cserotipe 0\u201d pada bakteri Streptococcus pneumoniae, padahal dalam literatur ilmiah tidak dikenal klasifikasi tersebut.<\/p>\n<p>&#8220;Yang paling mind blowing adalah salah satunya ada grafik yang menyatakan serotipe 0. Di situ awal kecurigaan. Di Streptococcus pneumoniae itu ada 107 serotipe tapi tidak ada serotipe 0,&#8221; ungkap Dwi.<\/p>\n<p>Adapun Streptococcus pneumoniae merupakan bakteri penyebab penyakit pneumokokus. Bakteri ini diklasifikasikan ke dalam serotipe berdasarkan struktur kimia kapsul polisakarida yang menyelubunginya. Serotipe inilah yang menentukan keganasan bakteri dan menjadi dasar pembuatan vaksin.<\/p>\n<p>Dwi menjelaskan, sejumlah abstrak penelitian yang dipresentasikan juga dinilai mustahil dilakukan dalam waktu singkat karena melibatkan data lintas negara dan membutuhkan jaringan penelitian besar. Ia menduga sebagian tulisan dan data penelitian dibuat menggunakan AI-generated content tanpa proses penelitian nyata.<\/p>\n<p>Misalnya lokasi penelitian yang tercantum di Peruvian Andes, dataran tinggi Ethiopia, Guatemala, Lebanon, hingga Nepal tanpa adanya persetujuan etik maupun kolaborasi dengan peneliti setempat.<\/p>\n<p>\u201cYang bikin saya sangat concern sekali sehingga saya melaporkan adalah hasil penelitian-penelitian mereka tentang vaksin sangat besar dan hasil-hasil penelitian mereka memang bombastis,\u201d kata Dwi.<\/p>\n<p>Selain dugaan fabrikasi data, muncul pula tuduhan pemalsuan identitas selama konferensi berlangsung. Seorang peserta disebut berganti nama, atribut, hingga penampilan saat melakukan presentasi di hadapan peserta konferensi internasional.<\/p>\n<p>Menurut Dwi, ia menangkap basah perempuan bernama asli Prihantini mengaku sebagai Dimas Fajar Prasetyo ketika mempresentasikan penelitian secara lisan di hari kedua untuk segmen poster spotlight.<\/p>\n<p>Namun, sebelum Prihantini maju ke podium, ia melepas kartu nama yang bertuliskan Riana Dwi Kurniawati dan menggantinya dengan kartu nama Dimas Fajar Prasetyo yang diambil dari tas.<\/p>\n<p>\u201cItu persis di depan mata saya, enggak ada sama sekali sekat. Mungkin mbaknya buru-buru jadi sudah tidak memperhatikan lagi orang di sekitarnya,\u201d kata Dwi.<\/p>\n<p>Di momen itu Dwi pun menanyakan langsung identitas Prihartini karena merasa janggal, mengapa sosok Dimas bukan seorang lelaki. Kecurigaannya tidak berkurang kala Prihartini mengakui dirinya sebagai Dimas.<\/p>\n<p>Dugaan pemalsuan identitas makin diperkuat saat Prihartini ketahuan berganti jilbab kala memasuki ruang station 4 yang dihadiri oleh Dwi. Menurut pengamatan Dwi, Prihantini diduga melapisi jilbab merah dengan kerudung hitam.<\/p>\n<p>Prihantini mengenakan kerudung hitam saat mempresentasikan penelitian berbeda di section 2 dengan mengaku sebagai Riana Dwi Kurniati. Jarak waktu presentasi dua segmen itu berselang 10 menit, kata Dwi.<\/p>\n<p>Menurut dia, nama Prihantini tidak tercantum sebagai penulis di abstrak penelitian maupun poster. Namun, nama Prihantini dan Rivaldy Fajar mendadak muncul di materi presentasi.<\/p>\n<p>Setelah sesi presentasi, Dwi meminta Prihantini menjelaskan isi penelitian yang diklaim ditulis lima orang dengan nama Prihantini sebagai penulis utama, Dimas Fajar Prasetyo, Aminatus Sa\u2019adah, Riana Dwi Kurniati, dan Rivaldy Fajar selaku pemimpin tim.<\/p>\n<p>Dwi menilai Prihantini tidak mampu menjelaskan bagaimana abstrak maupun poster penelitian mereka tentang vaksin Pneumococcal Conjugate Vaccine (PVC).<\/p>\n<p>Setelah didesak oleh Dwi, Prihartini mengakui bahwa ia bukan Dimas maupun Riana sebagaimana pengakuannya di depan ilmuwan mancanegara yang mengikuti konferensi.<\/p>\n<p>Dugaan sementara, Prihantini dan Kawan-kawannya ingin mendapatkan dana hadiah bepergian ke luar negeri untuk mengikuti konferensi (travel grants) tanpa benar-benar melakukan penelitian.<\/p>\n<p>Menurut Dwi, di konferensi ISPPD, total ada 174 travel grant yang bisa dimanfaatkan periset. Sebanyak 96 travel grant di antaranya berasal dari Gates Foundation. Semua itu diakomodir oleh Kenes Group, sebuah penyelenggara internasional yang banyak membidani konferensi ilmiah, termasuk ISPPD.<\/p>\n<p>Dwi menyebut hibah yang bisa didapat bisa mencapai sekitar 2.500 euro atau sekitar Rp 52 juta per orang. Akomodasinya mencapai 200 euro dalam sehari. Sementara acara tersebut berlangsung selama lima hari.<\/p>\n<p>&#8220;Di ISPPD itu registrasinya untuk yang non-member, bukan bagian dari komunitas peneliti International Society ini, ya, itu 715 Euro. Kemudian mungkin bisa diperkirakan aja penerbangan dari Indonesia ke Copenhagen seperti apa, dan itu akomodasi dikasih untuk 5 hari termasuk breakfast dan juga makan on-site gitu seperti itu,&#8221; katanya.<\/p>\n<p>&#8220;Di ISPPD itu registrasinya untuk yang non-member, bukan bagian dari komunitas peneliti International Society ini, ya, itu 715 Euro. Kemudian mungkin bisa diperkirakan aja penerbangan dari Indonesia ke Copenhagen seperti apa, dan itu akomodasi dikasih untuk 5 hari termasuk breakfast dan juga makan on-site gitu seperti itu,&#8221; katanya.<\/p>\n<p>Dwi menuturkan, panitia ISPPD 2026 telah membatalkan fasilitas travel grants untuk kelompok Prihantini pada 21 Mei setelah kejadiannya dilaporkan pada 19 Mei 2026. Hanya saja pihak panitia memang tidak merilis informasi itu ke publik.<\/p>\n<p>Kelompok riset Prihartini ditengarai telah mengikuti konferensi lain seperti International Conference on Resource Sustainability 2025 di University of Adelaide, Australia, kemudian ajang Outstanding Research Abstract Award di Kyoto, Jepang, hingga Asian Pacific Association for the Study of the Liver Single Topic Conference 2025 di Tokyo, Jepang.<\/p>\n<p>Dugaan pemalsuan riset dan identitas ini merupakan pelanggaran etik berat di dunia akademik. Kasus ini memicu kekhawatiran terhadap citra riset Indonesia di mata internasional. Sejumlah akademisi menilai dugaan pemalsuan data ilmiah dapat merusak kredibilitas peneliti Indonesia sekaligus memperburuk kepercayaan terhadap publikasi akademik nasional.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>PETISI BRAWIJAYA MEDIA, JAKARTA &#8211; Dunia akademik Indonesia tengah menjadi sorotan setelah muncul dugaan skandal pemalsuan riset ilmiah yang melibatkan sejumlah warga negara Indonesia (WNI) dalam konferensi International Society of Pneumonia and Pneumococcal Diseases (ISSPD) di Kopenhagen, Denmark, pada 17-21 Mei 2026. Kasus ini pun dengan cepat menjadi viral di media sosial dan memicu perhatian [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":3867,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[2,4,7],"tags":[],"class_list":["post-3866","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","category-headline-news","category-hukum","category-megapolitan"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v27.3 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Viral! Dugaan Skandal Pemalsuan Riset Ilmiah oleh WNI di Konferensi Internasional di Denmark - Petisi Brawijaya<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/petisibrawijaya.or.id\/?p=3866\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Viral! Dugaan Skandal Pemalsuan Riset Ilmiah oleh WNI di Konferensi Internasional di Denmark - Petisi Brawijaya\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"PETISI BRAWIJAYA MEDIA, JAKARTA &#8211; Dunia akademik Indonesia tengah menjadi sorotan setelah muncul dugaan skandal pemalsuan riset ilmiah yang melibatkan sejumlah warga negara Indonesia (WNI) dalam konferensi International Society of Pneumonia and Pneumococcal Diseases (ISSPD) di Kopenhagen, Denmark, pada 17-21 Mei 2026. Kasus ini pun dengan cepat menjadi viral di media sosial dan memicu perhatian [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/petisibrawijaya.or.id\/?p=3866\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Petisi Brawijaya\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/petisi.brawijaya\/\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2026-05-28T18:10:32+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2026-06-07T18:13:20+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"http:\/\/petisibrawijaya.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/WhatsApp-Image-2026-05-28-at-16.41.24.jpeg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1200\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"675\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"petisiadm\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"petisiadm\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"5 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/petisibrawijaya.or.id\\\/?p=3866#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/petisibrawijaya.or.id\\\/?p=3866\"},\"author\":{\"name\":\"petisiadm\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/petisibrawijaya.or.id\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/af5f32ff6cc0ae2da590caf92129b28b\"},\"headline\":\"Viral! Dugaan Skandal Pemalsuan Riset Ilmiah oleh WNI di Konferensi Internasional di Denmark\",\"datePublished\":\"2026-05-28T18:10:32+00:00\",\"dateModified\":\"2026-06-07T18:13:20+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/petisibrawijaya.or.id\\\/?p=3866\"},\"wordCount\":973,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/petisibrawijaya.or.id\\\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/petisibrawijaya.or.id\\\/?p=3866#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/petisibrawijaya.or.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/06\\\/WhatsApp-Image-2026-05-28-at-16.41.24.jpeg\",\"articleSection\":[\"Headline News\",\"Hukum\",\"Megapolitan\"],\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/petisibrawijaya.or.id\\\/?p=3866#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/petisibrawijaya.or.id\\\/?p=3866\",\"url\":\"https:\\\/\\\/petisibrawijaya.or.id\\\/?p=3866\",\"name\":\"Viral! Dugaan Skandal Pemalsuan Riset Ilmiah oleh WNI di Konferensi Internasional di Denmark - Petisi Brawijaya\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/petisibrawijaya.or.id\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/petisibrawijaya.or.id\\\/?p=3866#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/petisibrawijaya.or.id\\\/?p=3866#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/petisibrawijaya.or.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/06\\\/WhatsApp-Image-2026-05-28-at-16.41.24.jpeg\",\"datePublished\":\"2026-05-28T18:10:32+00:00\",\"dateModified\":\"2026-06-07T18:13:20+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/petisibrawijaya.or.id\\\/?p=3866#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/petisibrawijaya.or.id\\\/?p=3866\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/petisibrawijaya.or.id\\\/?p=3866#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/petisibrawijaya.or.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/06\\\/WhatsApp-Image-2026-05-28-at-16.41.24.jpeg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/petisibrawijaya.or.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/06\\\/WhatsApp-Image-2026-05-28-at-16.41.24.jpeg\",\"width\":1200,\"height\":675,\"caption\":\"Viral nama Rifaldy Fajar dan Prihantini yang diduga telah melakukan penipuan riset konferensi ilmiah internasional. (Instagram\\\/w.o.d.d)\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/petisibrawijaya.or.id\\\/?p=3866#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/petisibrawijaya.or.id\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Viral! Dugaan Skandal Pemalsuan Riset Ilmiah oleh WNI di Konferensi Internasional di Denmark\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/petisibrawijaya.or.id\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/petisibrawijaya.or.id\\\/\",\"name\":\"Petisi Brawijaya\",\"description\":\"Barisan Kebenaran Untuk Demokrasi\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/petisibrawijaya.or.id\\\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/petisibrawijaya.or.id\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/petisibrawijaya.or.id\\\/#organization\",\"name\":\"Petisi Brawijaya\",\"url\":\"https:\\\/\\\/petisibrawijaya.or.id\\\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/petisibrawijaya.or.id\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/petisibrawijaya.or.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/10\\\/petisi-logo.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/petisibrawijaya.or.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/10\\\/petisi-logo.png\",\"width\":545,\"height\":181,\"caption\":\"Petisi Brawijaya\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/petisibrawijaya.or.id\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.facebook.com\\\/petisi.brawijaya\\\/\"]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/petisibrawijaya.or.id\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/af5f32ff6cc0ae2da590caf92129b28b\",\"name\":\"petisiadm\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/ef5cf825eeadba46b8473399d34d5fa31f9a38bb4a94abe4b3dda776bb5cede2?s=96&d=blank&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/ef5cf825eeadba46b8473399d34d5fa31f9a38bb4a94abe4b3dda776bb5cede2?s=96&d=blank&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/ef5cf825eeadba46b8473399d34d5fa31f9a38bb4a94abe4b3dda776bb5cede2?s=96&d=blank&r=g\",\"caption\":\"petisiadm\"},\"sameAs\":[\"http:\\\/\\\/petisibrawijaya.or.id\"],\"url\":\"https:\\\/\\\/petisibrawijaya.or.id\\\/?author=1\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Viral! Dugaan Skandal Pemalsuan Riset Ilmiah oleh WNI di Konferensi Internasional di Denmark - Petisi Brawijaya","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/petisibrawijaya.or.id\/?p=3866","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Viral! Dugaan Skandal Pemalsuan Riset Ilmiah oleh WNI di Konferensi Internasional di Denmark - Petisi Brawijaya","og_description":"PETISI BRAWIJAYA MEDIA, JAKARTA &#8211; Dunia akademik Indonesia tengah menjadi sorotan setelah muncul dugaan skandal pemalsuan riset ilmiah yang melibatkan sejumlah warga negara Indonesia (WNI) dalam konferensi International Society of Pneumonia and Pneumococcal Diseases (ISSPD) di Kopenhagen, Denmark, pada 17-21 Mei 2026. Kasus ini pun dengan cepat menjadi viral di media sosial dan memicu perhatian [&hellip;]","og_url":"https:\/\/petisibrawijaya.or.id\/?p=3866","og_site_name":"Petisi Brawijaya","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/petisi.brawijaya\/","article_published_time":"2026-05-28T18:10:32+00:00","article_modified_time":"2026-06-07T18:13:20+00:00","og_image":[{"width":1200,"height":675,"url":"http:\/\/petisibrawijaya.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/WhatsApp-Image-2026-05-28-at-16.41.24.jpeg","type":"image\/jpeg"}],"author":"petisiadm","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"petisiadm","Est. reading time":"5 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/petisibrawijaya.or.id\/?p=3866#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/petisibrawijaya.or.id\/?p=3866"},"author":{"name":"petisiadm","@id":"https:\/\/petisibrawijaya.or.id\/#\/schema\/person\/af5f32ff6cc0ae2da590caf92129b28b"},"headline":"Viral! Dugaan Skandal Pemalsuan Riset Ilmiah oleh WNI di Konferensi Internasional di Denmark","datePublished":"2026-05-28T18:10:32+00:00","dateModified":"2026-06-07T18:13:20+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/petisibrawijaya.or.id\/?p=3866"},"wordCount":973,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/petisibrawijaya.or.id\/#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/petisibrawijaya.or.id\/?p=3866#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/petisibrawijaya.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/WhatsApp-Image-2026-05-28-at-16.41.24.jpeg","articleSection":["Headline News","Hukum","Megapolitan"],"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/petisibrawijaya.or.id\/?p=3866#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/petisibrawijaya.or.id\/?p=3866","url":"https:\/\/petisibrawijaya.or.id\/?p=3866","name":"Viral! Dugaan Skandal Pemalsuan Riset Ilmiah oleh WNI di Konferensi Internasional di Denmark - Petisi Brawijaya","isPartOf":{"@id":"https:\/\/petisibrawijaya.or.id\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/petisibrawijaya.or.id\/?p=3866#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/petisibrawijaya.or.id\/?p=3866#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/petisibrawijaya.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/WhatsApp-Image-2026-05-28-at-16.41.24.jpeg","datePublished":"2026-05-28T18:10:32+00:00","dateModified":"2026-06-07T18:13:20+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/petisibrawijaya.or.id\/?p=3866#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/petisibrawijaya.or.id\/?p=3866"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/petisibrawijaya.or.id\/?p=3866#primaryimage","url":"https:\/\/petisibrawijaya.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/WhatsApp-Image-2026-05-28-at-16.41.24.jpeg","contentUrl":"https:\/\/petisibrawijaya.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/WhatsApp-Image-2026-05-28-at-16.41.24.jpeg","width":1200,"height":675,"caption":"Viral nama Rifaldy Fajar dan Prihantini yang diduga telah melakukan penipuan riset konferensi ilmiah internasional. (Instagram\/w.o.d.d)"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/petisibrawijaya.or.id\/?p=3866#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/petisibrawijaya.or.id\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Viral! Dugaan Skandal Pemalsuan Riset Ilmiah oleh WNI di Konferensi Internasional di Denmark"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/petisibrawijaya.or.id\/#website","url":"https:\/\/petisibrawijaya.or.id\/","name":"Petisi Brawijaya","description":"Barisan Kebenaran Untuk Demokrasi","publisher":{"@id":"https:\/\/petisibrawijaya.or.id\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/petisibrawijaya.or.id\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/petisibrawijaya.or.id\/#organization","name":"Petisi Brawijaya","url":"https:\/\/petisibrawijaya.or.id\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/petisibrawijaya.or.id\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/petisibrawijaya.or.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/petisi-logo.png","contentUrl":"https:\/\/petisibrawijaya.or.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/petisi-logo.png","width":545,"height":181,"caption":"Petisi Brawijaya"},"image":{"@id":"https:\/\/petisibrawijaya.or.id\/#\/schema\/logo\/image\/"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/petisi.brawijaya\/"]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/petisibrawijaya.or.id\/#\/schema\/person\/af5f32ff6cc0ae2da590caf92129b28b","name":"petisiadm","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/ef5cf825eeadba46b8473399d34d5fa31f9a38bb4a94abe4b3dda776bb5cede2?s=96&d=blank&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/ef5cf825eeadba46b8473399d34d5fa31f9a38bb4a94abe4b3dda776bb5cede2?s=96&d=blank&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/ef5cf825eeadba46b8473399d34d5fa31f9a38bb4a94abe4b3dda776bb5cede2?s=96&d=blank&r=g","caption":"petisiadm"},"sameAs":["http:\/\/petisibrawijaya.or.id"],"url":"https:\/\/petisibrawijaya.or.id\/?author=1"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/petisibrawijaya.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3866","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/petisibrawijaya.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/petisibrawijaya.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/petisibrawijaya.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/petisibrawijaya.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=3866"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/petisibrawijaya.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3866\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3868,"href":"https:\/\/petisibrawijaya.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3866\/revisions\/3868"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/petisibrawijaya.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/3867"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/petisibrawijaya.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=3866"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/petisibrawijaya.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=3866"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/petisibrawijaya.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=3866"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}