30.5 C
Jakarta
Sunday, October 11, 2026
spot_img

Menkomdigi Buka Suara soal Data Center AI Jatiluhur yang Disetop KDM: Lokasi Harus Dikaji Lintas Sektor

PETISI BRAWIJAYA MEDIA, JAKARTA – Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid angkat bicara mengenai penghentian sementara proyek pusat data berbasis kecerdasan artifisial (artificial intelligence/AI) milik BDx Data Centers di Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat.

Pernyataan tersebut disampaikan Meutya setelah Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menghentikan sementara pembangunan proyek BDx di Jatiluhur. Proyek tersebut memiliki nilai investasi sekitar Rp3,5 triliun dan direncanakan memiliki kapasitas hingga 640 megawatt (MW).

Meutya menilai pembangunan pusat data tidak cukup hanya mempertimbangkan kebutuhan industri dan investasi. Menurut dia, penentuan lokasi data center perlu dikaji secara lintas sektor dengan memperhitungkan kebutuhan komputasi, konektivitas, serta ketersediaan energi dan air.

“Kalau data center begini, tentu harus dicari balancing-nya. Jadi kita tentu punya kebutuhan kemampuan komputasi yang tentu memerlukan data center. Tapi di saat yang bersamaan, tentu kita harus melihat kecukupan energi,” kata Meutya kepada media di kantornya, Rabu (7/10).

Data teknis mencatat kebutuhan air data center BDx diproyeksikan mencapai 384 liter per detik atau setara 33.000 meter kubik per hari ketika beroperasi pada kapasitas penuh.

Meutya Hafid meminta pembangunan pusat data center di Indonesia tidak mengganggu kebutuhan energi dan air masyarakat.

“Tidak boleh kecukupan energi terganggu untuk hal-hal lain, terutama layanan publik. Tidak boleh juga kebutuhan air terganggu,” ujarnya.

Meutya mengatakan, keseimbangan antara hadirnya data center dengan kebutuhan masyarakat harus dikoordinasi dengan berbagai sektor.

Koordinasi tersebut perlu dilakukan untuk menentukan izin serta regulasi sebelum pembangunan data center di lokasi yang dinilai layak.

Meutya mengakui kebutuhan pembangunan data center di Indonesia meningkat seiring pertumbuhan ekonomi digital dan perkembangan geopolitik yang mendorong masuknya investasi pusat data ke berbagai negara.

Namun, menurut dia, Indonesia tidak boleh membangun data center tanpa mempertimbangkan kapasitas sumber daya yang tersedia.

Ia menegaskan kebutuhan masyarakat tidak boleh dikorbankan demi memenuhi kebutuhan komputasi.

“Dari Komdigi misalnya, kebutuhan kita untuk komputasi sekarang berapa, pengguna internet berapa, di mana titik-titik yang konektivitasnya baik dan di situ layak dibangun data center. Yang penting masyarakat kebutuhannya tidak perlu diganggu, tapi di sisi lain juga kebutuhan komputasinya,” pungkasnya.

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

1,459FollowersFollow
7,451FollowersFollow
7,700SubscribersSubscribe
- Advertisement -spot_img

Latest Articles