30.5 C
Jakarta
Sunday, October 11, 2026
spot_img

Industri Obat dan Makanan Berpotensi Sumbang Rp10.000 Triliun per Tahun, BPOM Dorong Percepatan Perizinan

PETISI BRAWIJAYA MEDIA, JAKARTA – Industri obat dan makanan dinilai memiliki potensi ekonomi yang besar bagi Indonesia. Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Taruna Ikrar menyebut sektor tersebut berpotensi memberikan kontribusi hingga Rp10.000 triliun per tahun terhadap perekonomian nasional, seiring besarnya jumlah perusahaan dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang bergerak di bidang farmasi dan pangan.

Pernyataan tersebut disampaikan Taruna Ikrar seusai menjadi pembicara dalam kuliah umum di Universitas Mataram, Nusa Tenggara Barat, Kamis (8/10/2026).

Menurut dia, ekosistem industri obat dan makanan di Indonesia mencakup sekitar 45.000 perusahaan besar serta 4,2 juta UMKM.

Besarnya jumlah pelaku usaha tersebut menjadi salah satu alasan BPOM melihat sektor obat dan makanan sebagai penggerak potensial pertumbuhan ekonomi. Aktivitas bisnis di sektor ini mencakup produksi, pengolahan, distribusi, hingga pemasaran produk yang dibutuhkan masyarakat sehari-hari.

Taruna mengatakan skala pendapatan pelaku usaha sangat beragam, mulai dari ratusan juta rupiah per tahun hingga perusahaan dengan pendapatan mencapai triliunan rupiah.

“Ada yang revenue ratusan juta per tahun, ada yang untung ratusan miliar, bahkan ada triliunan hingga ratusan triliun. Kalau digabung semuanya dari 4,3 juta pelaku usaha tentu angka Rp10 ribu triliun itu bukan khayalan,” ujarnya.

Ikrar menuturkan BPOM tidak hanya berkaitan dengan pengawasan keamanan dan mutu obat serta makanan, tetapi juga mendukung pertumbuhan ekonomi di Indonesia.

Keterlibatan jutaan UMKM membuat industri obat dan makanan memiliki jangkauan ekonomi yang luas. Selain perusahaan berskala besar, usaha kecil juga berperan dalam menggerakkan produksi pangan olahan dan menyediakan lapangan pekerjaan di berbagai daerah.

BPOM mencatat, pelaku usaha pangan olahan yang telah terdaftar di lembaga tersebut terdiri atas lebih dari 2.900 usaha menengah, 4.600 usaha kecil, dan 7.900 usaha mikro.

Data tersebut memperlihatkan bahwa pengembangan sektor pangan tidak hanya berkaitan dengan peningkatan kapasitas perusahaan besar, tetapi juga dengan kemampuan UMKM untuk memenuhi standar keamanan, mutu, dan ketentuan perizinan.

Lebih lanjut, ia merinci bahwa estimasi kontribusi sektor obat dan makanan yang menyentuh angka Rp10.000 triliun (atau setara dengan 558,32 miliar dolar Amerika Serikat) tersebut merepresentasikan sekitar 35 hingga 40 persen dari total Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia yang berada di kisaran Rp23.000 triliun.

Melihat ekosistem industri yang begitu luas, BPOM berkomitmen untuk terus mempercepat proses layanan regulasi dan perizinan guna memfasilitasi para pelaku usaha dalam menggenjot kapasitas produksi mereka.

“Kami berkomitmen untuk melakukan transformasi memberi dukungan, bukan hanya dari riset development, bukan hanya dari edukasi, tapi termasuk hilirisasi,” kata Ikrar.

Ia juga menegaskan bahwa optimalisasi sektor obat dan makanan memegang andil penting dalam upaya mewujudkan target ambisius pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 8 persen, yang diharapkan mampu membawa Indonesia keluar dari jerat negara berpendapatan menengah (middle-income trap) menuju visi negara maju.

“Strategi kami turun gunung untuk mendukung Presiden Prabowo, mendukung pemerintah, untuk keluar dari negara berpenghasilan menengah menjadi negara maju,” pungkas Ikrar.

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

1,459FollowersFollow
7,451FollowersFollow
7,700SubscribersSubscribe
- Advertisement -spot_img

Latest Articles