30.1 C
Jakarta
Wednesday, April 22, 2026
spot_img

Menperin Pastikan Ketersediaan Plastik Nasional Aman di tengah Gejolak Penutupan Selat Hormuz

PETISI BRAWIJAYA MEDIA, JAKARTA – Di tengah gejolak Selat Hormuz akibat konflik Timur Tengah yang berpotensi memengaruhi rantai pasok bahan baku petrokimia dan subsektor industri plastik nasional, pemerintah memastikan stok plastik dalam energi tetap aman.

Kepastian tersebut disampaikan Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita usai menggelar pertemuan bersama pelaku industri hulu petrokimia, industri antara, industri hilir, hingga industri daur ulang plastik di Jakarta, pada Kamis, 16 April 2026.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyampaikan bahwa industri telah memberikan komitmen untuk menjaga kesinambungan suplai, terutama bagi pelaku industri kecil agar tetap kompetitif. Kendati demikian, pemerintah tetap memantau ketat situasi global yang berpotensi memengaruhi produksi.

“Dari hasil pertemuan, kami mendapatkan jaminan dari industri bahwa stok plastik seharusnya tidak ada masalah. Saya garis bawahi kata seharusnya, karena pemerintah tetap akan terus memantau perkembangan situasi global secara cermat yang berdampak terhadap produksi dan stok subsektor ini,” ujar Agus di Jakarta, Kamis (16/4/2026).

Selain itu, industri yang hadir juga menyatakan komitmennya untuk menjaga kesinambungan suplai plastik, khususnya bagi pelaku industri kecil dan menengah (IKM), agar produk-produk mereka tetap kompetitif di pasar.

Agus mengakui gejolak di Selat Hormuz telah memicu distorsi harga produk plastik akibat kenaikan biaya logistik dan waktu pengiriman bahan baku impor. Durasi pengiriman yang semula rata-rata 15 hari kini melonjak hingga 50 hari, sehingga berdampak langsung pada peningkatan beban biaya produksi industri.

Menperin menegaskan bahwa situasi global saat ini menjadi momentum untuk memperkuat kemandirian industri petrokimia nasional, khususnya dalam penyediaan bahan baku domestik.

Ketergantungan terhadap impor dinilai masih cukup tinggi, sehingga penguatan sektor hulu, termasuk pemanfaatan bahan baku lokal dan pengembangan industri daur ulang, menjadi strategi penting ke depan.

Pemerintah juga mendorong kolaborasi lintas sektor untuk memperkuat ekosistem industri plastik nasional agar lebih tahan terhadap gejolak global.

“Peristiwa ini semakin menegaskan pentingnya membangun industri petrokimia nasional yang kuat dan mandiri. Hal tersebut agar ketergantungan terhadap bahan baku impor dapat terus dikurangi,” ucap Agus.

Dalam pertemuan tersebut juga terungkap bahwa investor berharap agar subsektor industri petrokimia semakin menarik bagi penanaman modal baru. Salah satu faktor penting yang dinilai perlu diperkuat adalah perlindungan pasar domestik dari gempuran produk impor.

Pemerintah, lanjut Menperin, akan terus mengupayakan pemenuhan kebutuhan bahan baku nasional dengan tetap menjaga keseimbangan antara kebutuhan sektor energi, termasuk bahan bakar kendaraan bermotor, dan kebutuhan bahan baku industri petrokimia.

Situasi ini, lanjut Menperin, menjadi momentum penting untuk memperkuat kemandirian industri petrokimia nasional. Pemerintah berupaya mengurangi ketergantungan bahan baku impor dengan mengeksplorasi sumber alternatif domestik, salah satunya penggunaan crude palm oil (CPO) sebagai substitusi nafta.

Meski dari sisi harga masih relatif tinggi, opsi tersebut dinilai layak untuk terus dieksplorasi sebagai bagian dari strategi diversifikasi bahan baku dan mengurangi ketergantungan terhadap bahan baku impor.

“Kita harus melihat seluruh potensi sumber daya nasional yang bisa menjadi alternatif bahan baku industri petrokimia, termasuk CPO, meskipun tantangan keekonomiannya masih perlu dihitung secara matang,” tutur Menperin.

Selain diversifikasi bahan baku, pelaku industri juga mengharapkan perlindungan pasar domestik dari gempuran produk impor agar iklim investasi di subsektor petrokimia tetap menarik bagi penanaman modal baru.

Adapun pada pertemuan tersebut, asosiasi dan pelaku industri yang hadir, antara lain Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, dan Plastik Indonesia (INAPLAS), PT Chandra Asri Petrochemical, PT Lotte Chemical Indonesia, PT Asahimas Chemical, PT Polytama Propindo, PT Polyplex Films Indonesia, PT Kofuku Plastic Indonesia, Indorama Group, PT Trinseo Materials Indonesia, PT Lotte Chemical Titan Nusantara, Asosiasi Daur Ulang Plastik Indonesia (ADUPI), PT Astina Indah Abadi, dan PT Bumi Lestari Unggul.

Selanjutnya, PT Selamat Anugrah Indonesia, PT Pelita Mekar Semesta, Indonesian Plastics Recyclers (IPR), Gabungan Industri Aneka Tenun Plastik Indonesia (GIATPI), Asosiasi Ekspor Impor Plastik Indonesia (AEIXIPINDO), Asosiasi Industri Kemasan Fleksibel Indonesia (Rotokemas), PT Supernova Flexible Packaging, Asosiasi Plastik Akal Sehat Indonesia (PASTI), Asosiasi Biaxially Oriented Films Indonesia (ABOFI), PT Indopoly, serta Asosiasi Industri Plastik Hilir Indonesia (APHINDO).

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

1,459FollowersFollow
7,451FollowersFollow
7,700SubscribersSubscribe
- Advertisement -spot_img

Latest Articles