32.3 C
Jakarta
Friday, July 3, 2026
spot_img

BPS Catat Inflasi RI Naik Jadi 3,34% Pada Juni 2026 Melebihi Estimasi Konsensus, BI Ungkap Penyebab Utamanya

PETISI BRAWIJAYA MEDIA, JAKARTA – Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa tingkat inflasi Indonesia secara tahunan (year-on-year/yoy) pada Juni 2026 mencapai 3,34 persen, meningkat dibandingkan inflasi tahunan Mei 2026 yang tercatat sebesar 3,08 persen.

“Terjadi inflasi di Juni 2026 yang lebih tinggi dari pada inflasi Mei 2026,” ujar Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono dalam Jumpa Pers BRS di Jakarta, Rabu, (2/7/2026).

Ateng menjelaskan bahwa kenaikan inflasi tersebut tercermin dari meningkatnya Indeks Harga Konsumen (IHK) menjadi 111,89 pada Juni 2026. Selain inflasi tahunan, BPS juga mencatat inflasi secara bulanan (month-to-month/mtm) sebesar 0,44 persen, sementara inflasi tahun kalender (year-to-date/ytd) mencapai 1,79 persen.

Menurut BPS, laju inflasi masih berada dalam kisaran sasaran inflasi nasional yang ditetapkan pemerintah bersama Bank Indonesia, yakni 1,5 hingga 3,5 persen. Meski demikian, angka inflasi Juni mendekati batas atas target tersebut sehingga perlu terus diwaspadai.

Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar terhadap inflasi tahunan. Kemudian disusul inflasi dari kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya, serta transportasi.

“Utamanya didorong tiga kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar yang mencatat inflasi 4,67%. Kelompok ini memberi andil inflasi 1,36%,” kata Ateng.

Beberapa komoditas yang memberikan andil signifikan pada kelompok makanan antara lain ikan segar, beras, minyak goreng, cabai merah, daging ayam ras, cabai rawit, tembakau, dan bawang merah.

Sementara inflasi pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mencapai 10,10 persen dengan andil inflasi 0,69 persen, dipicu kenaikan harga emas perhiasan.

Selain itu, kelompok transportasi juga memberikan kontribusi besar terhadap kenaikan inflasi mencapai 4,57 persen pada Juni 2026, dengan andil inflasi 0,55 persen. Peningkatan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi serta naiknya tarif angkutan menjadi faktor yang mendorong inflasi pada kelompok tersebut.

“Inflasi pada kelompok ini didorong bensin, tarif angkutan udara, mobil, motor, dan juga pelumas oli mesin,” ujar Ateng.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso, mengatakan inflasi yang masih terkendali merupakan hasil dari konsistensi kebijakan moneter yang diterapkan bank sentral bersama pemerintah dalam menjaga stabilitas harga.

Berdasarkan data BPS, Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Juni 2026 mengalami inflasi sebesar 0,44 persen secara bulanan atau month to month (mtm). Sementara itu, secara tahunan inflasi tercatat sebesar 3,34 persen.

Bank Indonesia menilai perkembangan inflasi saat ini masih sesuai dengan sasaran inflasi nasional sebesar 2,5±1 persen. Dengan kondisi tersebut, BI optimistis tren inflasi tetap terkendali hingga dua tahun ke depan.

Pada Juni 2026, inflasi inti tercatat sebesar 0,23 persen secara bulanan, sedikit lebih tinggi dibandingkan Mei 2026 yang berada di level 0,22 persen.

Menurut BI, kenaikan inflasi inti terutama dipengaruhi oleh masih tingginya harga komoditas global. Meski demikian, ekspektasi inflasi masyarakat dinilai tetap terjaga.

Sementara itu, inflasi inti (core inflation) pada Juni 2026 mengalami peningkatan menjadi 2,76 dibandingkan 2,59 persen pada Mei 2026. Angka tersebut mencerminkan bahwa tekanan inflasi yang berasal dari komponen harga yang relatif stabil masih berada pada level yang terkendali.

“Ke depan, Bank Indonesia meyakini inflasi akan tetap terkendali dalam kisaran sasaran 2,5±1 persen pada 2026 dan 2027,” ujar Ramdan.

Sementara itu, kelompok volatile food atau pangan bergejolak masih mencatatkan kondisi yang relatif terkendali.

Pada Juni 2026, inflasi kelompok ini hanya mencapai 0,14 persen secara bulanan, lebih rendah dibandingkan inflasi 0,22 persen pada Mei 2026. Tekanan harga terutama berasal dari komoditas bawang merah, bawang putih, dan beras.

Menurut BI, kenaikan harga ketiga komoditas tersebut dipicu oleh menurunnya produksi di sejumlah daerah sentra, meningkatnya biaya transportasi, serta berakhirnya musim panen raya.

Meski demikian, secara tahunan inflasi volatile food justru mengalami penurunan menjadi 5,58 persen dari sebelumnya 6,24 persen.

BI memperkirakan inflasi pangan akan tetap terkendali berkat koordinasi bersama pemerintah melalui TPIP dan TPID serta implementasi Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS).

Tekanan inflasi terbesar pada Juni 2026 berasal dari kelompok administered prices atau harga yang diatur pemerintah.

Kelompok ini mengalami inflasi sebesar 1,41 persen secara bulanan, meningkat tajam dibandingkan Mei 2026 yang tercatat 0,52 persen.

Menurut BI, kenaikan tersebut terutama dipicu oleh meningkatnya harga bensin dan tarif angkutan udara.

Tekanan harga muncul setelah adanya penyesuaian harga BBM nonsubsidi dan kenaikan harga avtur yang terdorong oleh tingginya harga energi global.

Secara tahunan, inflasi kelompok administered prices tercatat sebesar 3,42 persen, meningkat dibandingkan bulan sebelumnya yang berada di level 2,07 persen.

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

1,459FollowersFollow
7,451FollowersFollow
7,700SubscribersSubscribe
- Advertisement -spot_img

Latest Articles