29.9 C
Jakarta
Wednesday, July 1, 2026
spot_img

Kepala Bakom Tepis Isu Krisis 1998 Terulang: Fundamental Ekonomi Indonesia Kini Jauh Lebih Kokoh

PETISI BRAWIJAYA MEDIA, JAKARTA – Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, Muhammad Qodari, menepis berbagai kekhawatiran yang berkembang di masyarakat terkait potensi terulangnya krisis ekonomi seperti yang terjadi pada 1998. Ia menegaskan bahwa kondisi perekonomian Indonesia saat ini berada dalam keadaan yang sangat stabil dengan fundamental yang jauh lebih kuat dibandingkan hampir tiga dekade lalu.

Pernyataan tersebut disampaikan sebagai respons atas munculnya berbagai spekulasi mengenai pelemahan nilai tukar rupiah dan dinamika ekonomi global yang dinilai sebagian pihak berpotensi memengaruhi stabilitas ekonomi nasional.

Menurut Qodari, kekhawatiran tersebut tidak memiliki dasar yang kuat apabila melihat indikator makroekonomi Indonesia saat ini. Berbagai instrumen ekonomi dinilai berada dalam kondisi sehat sehingga tidak dapat disamakan dengan situasi yang terjadi menjelang krisis moneter 1998.

“Jadi, sebetulnya indikator-indikator fundamental kita sangat kuat, kondisinya jauh lebih kuat jika dibandingkan saat menghadapi krisis 1998 dan itu yang membuat situasi dan kondisi pada hari ini menjadi sangat-sangat stabil,” ujar Qodari, dalam keterangannya Selasa (30/6/2026).

Ia menjelaskan, pada kuartal I 2026 ekonomi Indonesia tumbuh 5,61 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Menurutnya, capaian tersebut mencerminkan kekuatan fundamental ekonomi nasional dan menjadi salah satu yang tertinggi di dunia.

Selain pertumbuhan ekonomi, tingkat inflasi nasional juga masih terkendali. Inflasi tahunan Indonesia tercatat 3,08 persen. Meski lebih tinggi dibandingkan April 2026 yang sebesar 2,42 persen, angka tersebut dinilai masih menunjukkan stabilitas harga di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Qodari juga menyoroti rasio utang pemerintah terhadap produk domestik bruto (PDB) yang saat ini berada di kisaran 40-41 persen. Menurut dia, posisi tersebut masih jauh di bawah batas maksimal 60 persen yang diatur dalam peraturan perundang-undangan.

“Angka tersebut masih jauh di bawah batas maksimal 60 persen sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan sehingga tetap berada dalam kategori aman,” kata Qodari.

Menurut Qodari, sektor perbankan Indonesia saat ini juga memiliki kondisi yang jauh berbeda dibandingkan saat krisis moneter 1998.

Ia mengatakan perbankan nasional kini memiliki capital adequacy ratio (CAR) yang kuat sehingga mampu menjaga stabilitas sistem keuangan.

Selain itu, keberadaan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) disebut menjadi pembeda utama dibandingkan kondisi saat krisis lebih dari dua dekade lalu.

“Dan satu yang sangat berbeda dengan tahun 1998 adalah kita sekarang punya yang namanya Lembaga Penjamin Simpanan sehingga masyarakat menjadi tenang,” katanya.

Pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto juga diklaim terus bergerak cepat dalam merespons dinamika global untuk meminimalkan dampak langsung bagi masyarakat. Salah satu langkah konkret yang diambil adalah pemberian subsidi kedelai sebesar Rp2.000 per kilogram bagi produsen tahu dan tempe.

Langkah ini diambil sebagai solusi atas kenaikan harga kedelai dunia yang dipicu oleh pelemahan nilai tukar Rupiah. Qodari memastikan bahwa setiap persoalan yang berkembang di masyarakat terpantau dengan baik oleh jajaran kabinet.

“Persoalan yang ada di masyarakat itu sampai di tangan, sampai di telinga para pembantu beliau (Presiden Prabowo Subianto), dan disampaikan kepada Bapak Presiden,” pungkas Qodari.

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

1,459FollowersFollow
7,451FollowersFollow
7,700SubscribersSubscribe
- Advertisement -spot_img

Latest Articles