PETISI BRAWIJAYA MEDIA, JAKARTA – Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, mengungkapkan bahwa proses lelang sejumlah proyek infrastruktur Pemerintah Provinsi 9Pemprov) Jawa Barat saat ini mengalami penurunan minat dari kalangan kontraktor. Menurutnya, kondisi tersebut dipengaruhi oleh pelemahan nilai tukar rupiah yang menimbulkan ketidakpastian biaya pelaksanaan proyek konstruksi.
Dedi menjelaskan bahwa berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya ketika proyek-proyek pemerintah daerah selalu diperebutkan banyak peserta tender, saat ini sejumlah paket pekerjaan justru minim peminat.
Para pelaku usaha konstruksi disebut lebih berhati-hati karena khawatir terjadi kenaikan biaya material dan operasional selama masa pengerjaan proyek.
Menurut Dedi, fluktuasi nilai tukar rupiah berdampak langsung terhadap harga berbagai kebutuhan konstruksi, mulai dari bahan bangunan hingga peralatan proyek yang memiliki keterkaitan dengan pasar global.
Kondisi tersebut membuat kontraktor kesulitan menghitung risiko dan margin keuntungan ketika mengikuti tender pemerintah.
“Biasanya orang ngantri rebutan. Setelah saya analisis, faktor penyebabnya harga. Mereka menghitung tidak ada untungnya,” kata Dedi usai rapat paripurna di DPRD Jabar, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Rabu (3/6/2026).
Meski demikian, Pemprov Jabar akhirnya melakukan evaluasi terhadap sejumlah paket pekerjaan sehingga proyek-proyek tersebut kembali mendapatkan peminat.
“Tetapi akhirnya juga ada peminatnya setelah kita lakukan evaluasi,” ucapnya.
Saat ini Pemprov Jabar tengah menggarap sejumlah proyek infrastruktur, di antaranya rekonstruksi dan pelebaran Jalan Raya perbatasan Bandung-Garut dari lebar sembilan meter menjadi 12 meter, pembangunan dan perbaikan jalan provinsi di berbagai daerah, serta sejumlah proyek jembatan dan sarana konektivitas antarwilayah.
Dedi memastikan hingga saat ini dampak pelemahan rupiah masih dapat diantisipasi melalui penyesuaian dan negosiasi dalam pelaksanaan proyek.
“Nilai tukar dolar mempengaruhi harga semen, hot mix, beton, semuanya berpengaruh. Tapi sampai hari ini masih bisa kita negosiasikan,” ucapnya.
Sebagai informasi, berdasarkan data Bank Indonesia, nilai tukar rupiah berada di level 17.940,10 Rupiah per dolar AS pada Rabu, 3 Juni 2026. Angka tersebut masih berada di kisaran tertinggi dalam beberapa bulan terakhir dan menjadi salah satu faktor yang memengaruhi biaya pembangunan infrastruktur.



