31.9 C
Jakarta
Sunday, June 14, 2026
spot_img

Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Media Asing Ramai-Ramai Soroti Kondisi Ekonomi Indonesia

PETISI BRAWIJAYA MEDIA, JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS terus mengalami tekanan berat hingga berhasil menembus angka psikologis baru di level Rp 18.000 pada Kamis (4/6). Kondisi ini menarik perhatian luas dari berbagai media internasional yang menyoroti kerentanan ekonomi Indonesia saat ini.

Al Jazeera

Media Qatar Al Jazeera menyoroti kondisi ini, dengan menggarisbawahi bahwa hal tersebut merupakan yang terendah sepanjang sejarah Indonesia.

“Rupiah Indonesia telah mencapai level terlemahnya terhadap dolar AS, menembus ambang batas psikologis 18.000 di tengah melonjaknya biaya energi,” demikian laporan Al Jazeera.

Al Jazeera memahami bahwa kondisi ini dipicu oleh perang AS-Israel vs Iran, mengingat Republik Indonesia (RI) turut mengimpor energi bersih, meski punya cadangan minyak dan gas yang melimpah.

“Tekanan yang dihasilkan pada neraca perdagangan telah berkontribusi pada arus keluar modal dan pelemahan mata uang,” demikian laporan Al Jazeera.

Channel News Asia (CNA)

Channel News Asia (CNA) juga memberikan porsi pemberitaan. CNA mengutip AFP dengan menulis judul “Indonesian rupiah falls to record low against US dollar”.

Dimuat pada rangkuman awal, bagaimana rupiah “mencapai 18.028 terhadap greenback meskipun ada upaya bank sentral baru-baru ini untuk memberikan dukungan”.

“Rupiah Indonesia mencapai level terlemahnya terhadap dolar AS pada Kamis (4 Juni), menembus ambang batas psikologis 18.000 di tengah kekhawatiran tentang perekonomian negara di tengah melonjaknya biaya energi,” tulis laman itu, dikutip Kamis (4/6/2026).

“Rupiah telah jatuh lebih dari 7% tahun ini dan merupakan mata uang dengan kinerja terburuk di Asia, menurut Bloomberg News, karena perang AS-Israel terhadap Iran menyebabkan harga minyak global melonjak,” tambahnya.

Dikatakan pula bagaimana pelemahan tersebut, dipicu oleh tingginya permintaan dolar yang disebabkan oleh lonjakan harga minyak dan menyempitnya surplus perdagangan. Ditegaskan bahwa Indonesia adalah importir minyak bersih dan sangat terdampak oleh kenaikan biaya minyak mentah, di tengah upaya keras pemerintah mempertahankan harga bahan bakar bersubsidi.

“Surplus perdagangan negara telah terpukul, menyempit menjadi hanya US$89 juta pada bulan April, dari US$3,3 miliar sebulan sebelumnya, yang semakin mengurangi pasokan dolar di pasar Indonesia,” muat laman itu merujuk ekonom lokal Josua Pardede yang merujuk AFP.

AFP

Kantor berita AFP menyoroti merosotnya rupiah hingga menyentuh angka Rp 18.028 per dollar AS meskipun Bank Indonesia (BI) telah berulang kali melakukan intervensi.

Media yang berbasis di Perancis itu menyebut lonjakan harga minyak mentah dunia dipicu oleh perang Iran tak bisa dilepaskan dari kondisi ini.

Sebab, kenaikan harga minyak memukul perekonomian Indonesia yang berstatus sebagai negara importir bersih atau net importer minyak.

Kondisi tersebut diperparah oleh menyusutnya surplus perdagangan dari 3,3 miliar dollar AS menjadi hanya 89 juta dollar AS pada April.

Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede mengungkapkan, 18.000 merupakan angka psikologis bagi investor pasar yang didorong oleh tingginya permintaan dollar untuk impor energi di tengah menipisnya surplus perdagangan.

“Pasokan dollar dari perdagangan menipis, sementara kebutuhan dollar untuk impor energi, bahan baku, dividen, pembayaran utang luar negeri, dan kebutuhan musiman tetap signifikan,” ujar Josua kepada AFP.

“Inilah mengapa peningkatan suku bunga BI dan intervensi tidak cukup untuk membalikkan (depresiasi) rupiah,” lanjutnya.

Bloomberg

Media ekonomi Bloomberg menyoroti pelemahan rupiah memimpin pelemahan mata uang di Asia.

Sepanjang tahun 2026, rupiah telah terdepresiasi sekitar 7 persen, menjadikannya mata uang dengan kinerja terburuk di antara mata uang pasar berkembang global yang dipantau Bloomberg.

Penurunan ini dinilai Bloomberg juga dipicu oleh lonjakan harga minyak Brent yang memicu kekhawatiran terhadap keseimbangan fiskal dan eksternal Indonesia.

Faktor lainnya menurut Bloomberg adalah merosotnya cadangan devisa ke level terendah dalam dua tahun terakhir.

Kondisi ini pun turut meningkatkan risiko penurunan peringkat utang Indonesia oleh Fitch Ratings dan Moody’s Ratings.

Mohit Mirpuri dari SGMC Capital Pte menyatakan investor bersikap sangat berhati-hati akibat situasi ini.

“Investor tetap berhati-hati di tengah kekhawatiran yang berkepanjangan atas lintasan fiskal Indonesia, spekulasi seputar potensi penurunan peringkat, dan pelemahan rupiah yang terus berlanjut,” kata Mirpuri.

Sementara itu, Kepala Riset PT Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata melihat adanya pemisahan kondisi pasar Indonesia dengan tren global.

“Ini bukan lagi cerita tentang aksi jual pasar berkembang yang berbasis luas. Sebaliknya, ini menjadi cerita tentang risiko spesifik Indonesia,” kata Liza.

Kondisi ini diamini oleh salah satu pendiri Alphagate Capital, Henry Wibowo.

Dia menambahkan bahwa kekhawatiran peringkat kredit dan prospek Indonesia kini tengah membebani pasar akibat risiko pelebaran defisit fiskal.

Xinhua Net

Media asing asal China, Xinhua Net, merilis artikel berjudul “Indonesian rupiah weakens beyond 18,000 per dollar” pada Kamis, 4 Juni 2026.

Disebutkan bahwa Rupiah Indonesia melemah melewati level psikologis Rp 18.000 per dolar AS pada Kamis (4/6/2026) pagi di tengah ketidakpastian global dan data ekonomi Amerika Serikat yang lebih kuat dari perkiraan.

Mengutip kantor berita nasional Antara, berdasarkan data pasar, mata uang rupiah turun 0,27 persen menjadi Rp 18.015 per dolar AS, sehingga total pelemahannya sepanjang tahun ini mencapai lebih dari 7 persen.

Para analis mengatakan permintaan terhadap dolar AS didukung oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta data ketenagakerjaan dan sektor jasa AS yang solid, sementara sentimen pasar domestik masih cenderung lesu.

“Rupiah diperkirakan akan tetap berada di bawah tekanan seiring menguatnya dolar AS,” kata analis mata uang Lukman Leong.

Ia menambahkan bahwa nilai tukar rupiah kemungkinan masih akan berfluktuasi dalam kisaran Rp 17.900 hingga Rp 18.050 per dolar AS.

Bank Indonesia pada Rabu (3/6/2026) menyatakan akan terus mengambil langkah-langkah yang konsisten dan terukur untuk menstabilkan rupiah dengan mengoptimalkan instrumen kebijakan yang dimiliki serta menjaga kecukupan likuiditas valuta asing.

Lebih lanjut, pada Rabu (20/5/2026) lalu, Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen guna memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah di tengah memburuknya kondisi global. Kenaikan tersebut mengakhiri periode delapan bulan berturut-turut di mana suku bunga acuan dipertahankan tidak berubah.

 

Asia Times

Media Hong Kong Asia Times juga menyoroti kondisi serupa sambil menekankan bahwa hal ini terjadi karena pemerintah dan Bank Indonesia “bertindak terlalu lambat, ragu-ragu, dan tidak konsisten” terhadap situasi.

Dalam artikel berjudul “Indonesia’s rupiah rout is not just about the dollar”, Asia Times mencermati bahwa penurunan tajam nilai tukar rupiah ini, yang sudah terjadi selama dua bulan terakhir, menunjukkan adanya perihal serius, yaitu fenomena kelebihan beban ekstrem.

“Keruntuhan mata uang tersebut tidak lagi mencerminkan fundamental daya beli yang mendasarinya, tetapi mencerminkan ketidakseimbangan pasar yang didorong oleh kepanikan, pelarian modal besar-besaran, dan kekurangan likuiditas dolar akut di pasar spot domestik,” tulis Asia Times.

“Krisis yang sedang berkembang ini diperparah oleh keterlambatan respons Bank Indonesia terhadap meningkatnya tekanan pasar. Bank sentral terlalu terlena dengan moderasi inflasi domestik, yang turun menjadi 2,42 persen pada April 2026,” lanjut Asia Times.

Asia Times mengamati bahwa keputusan Bank Indonesia mengambil instrumen non-suku bunga untuk menstabilkan rupiah gagal menghentikan penurunan nilai mata uang tersebut.

The Strait Times

Strait Times sendiri memuat artikel berjudul “Rupiah falls through key psychological level, putting markets on guard for intervention”. Dimuat bagaimana pelemahan rupiah di bawah level kunci Rp 18.000 terhadap dolar hari ini, membuat pengamat pasar waspada.

“Rupiah Indonesia jatuh di bawah level psikologis kunci 18.000 per dolar AS pada 4 Juni, membuat pengamat pasar waspada terhadap intervensi dari bank sentral negara tersebut,” muat laman tersebut.

“Nilai tukar rupiah merosot 0,35% menjadi 18.029,5 per dolar AS pada pukul 11.06 pagi waktu Singapura, sehingga penurunan nilai tukar pada tahun 2026 mencapai lebih dari 7%,” tulisnya.

“Terhadap dolar Singapura, rupiah juga jatuh ke level terendah baru, diperdagangkan pada 14.047,71 – turun 0,32% semalam dan mencatatkan penurunan 9,3% sejak awal tahun,” tambahnya.

Sepanjang 2026, rupiah telah melemah 8,6 persen terhadap dolar Singapura. Rupiah telah terdepresiasi sekitar 7 persen terhadap dolar AS sepanjang 2026, menjadikannya mata uang dengan kinerja terburuk di Asia pada tahun 2026.

Sebagian tertekan oleh kekhawatiran bahwa harga minyak yang tinggi akan memperlebar defisit anggaran Indonesia melalui biaya subsidi energi yang lebih tinggi.

“Penembusan di bawah 18.000 dapat mempercepat arus keluar dana asing dari saham dan obligasi lokal, menjadikan level tersebut sebagai ujian penting bagi para pembuat kebijakan yang berupaya memulihkan kepercayaan pada ekonomi yang menghadapi tantangan yang semakin besar,” tambah laman itu.

Menurut media tersebut, pengumuman Presiden Prabowo Subianto bahwa pemerintah akan mengendalikan langsung ekspor sejumlah komoditas penting turut memicu peningkatan kekhawatiran pasar.

“Sentimen investor terhadap aset Indonesia memburuk pada tahun 2026 setelah MSCI memperingatkan bahwa negara tersebut dapat diklasifikasikan ulang sebagai pasar negara berkembang, sementara Fitch Ratings dan Moody’s Ratings merevisi prospek mereka terhadap kedaulatan negara. Kekhawatiran juga meningkat atas upaya pemerintah untuk melakukan kontrol yang lebih besar terhadap ekspor komoditas utama,” tulisnya lagi.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) telah mencatat penurunan setiap bulan sepanjang 2026 dan berada di jalur menuju kerugian tahunan terbesar sejak 2008.

Gelombang aksi jual juga menyebabkan Indonesia kehilangan statusnya sebagai pasar saham terbesar di Asia Tenggara kepada Singapura setelah mempertahankan posisi tersebut selama lima tahun.

Dana global tercatat telah menarik lebih dari 3,2 miliar dollar AS (sekitar 4,1 miliar dollar Singapura) dari pasar saham Indonesia sepanjang 2026.

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

1,459FollowersFollow
7,451FollowersFollow
7,700SubscribersSubscribe
- Advertisement -spot_img

Latest Articles