25.2 C
Jakarta
Thursday, April 2, 2026
spot_img

BRIN Peringatkan Ancaman ‘Godzilla’ El Nino Mulai April 2026, Ini Daftar Wilayah yang Berpotensi Dilanda Kemarau Ekstrem

PETISI BRAWIJAYA MEDIA, JAKARTA – Indonesia diimbau meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi fenomena iklim yang dijuluki “Godzilla” El Nino yang diperkirakan mulai muncul pada April 2026. Fenomena ini berpotensi memicu musim kemarau yang lebih panjang dari biasanya.

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperkirakan penguatan El Nino dapat menyebabkan penurunan curah hujan secara signifikan, terutama di wilayah selatan ekuator seperti Jawa dan Sumatra.

Istilah “Godzilla” digunakan untuk menggambarkan El Nino dengan intensitas sangat kuat atau super El Nino, yang mampu memicu perubahan ekstrem pada pola cuaca global. Fenomena ini berkaitan dengan pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur yang menggeser pembentukan awan dari wilayah Indonesia. Terakhir kali bumi merasakan amukan fenomena sekuat ini adalah pada periode 2015-2016.

Ancaman ini semakin nyata karena ‘Godzilla’ El Nino diprediksi datang bersamaan dengan fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) Positif.

“Godzilla El Nino dan IOD positif mungkin terdengar menarik, tetapi dampaknya cukup serius. Kemarau bisa menjadi lebih panjang dan lebih kering, sementara hujan semakin jarang turun di Indonesia,” tulis BRIN melalui akun Instagram resminya.

Profesor Riset dari Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN Erma Yulihastin memprediksi Godzilla El Nino dan IOD positif akan berlangsung bersamaan sepanjang musim kemarau, mulai April hingga Oktober 2026.

BRIN menjelaskan dampak fenomena El Nino kuat dan IOD positif tidak akan terjadi secara merata di seluruh wilayah Indonesia. Pengalaman serupa pernah terjadi pada fenomena El Nino dan IOD positif pada 2023.

Ancaman Kekeringan & Karhutla:

Wilayah selatan Indonesia diperkirakan menghadapi risiko kekeringan yang lebih besar, terutama di kawasan lumbung padi seperti Pantai Utara (Pantura) Jawa. Kondisi tersebut berpotensi mengganggu produksi pertanian akibat berkurangnya pasokan air irigasi.

Meski demikian, BRIN menilai kondisi kemarau panjang dapat dimanfaatkan sebagai peluang untuk meningkatkan produksi garam nasional, terutama di wilayah selatan Indonesia. Minimnya curah hujan dinilai dapat mempercepat proses kristalisasi garam di tambak.

Optimalisasi produksi garam tersebut diharapkan dapat mendukung target swasembada garam nasional pada periode 2026–2027 sekaligus menjadi salah satu langkah mitigasi terhadap dampak anomali iklim.

Selain itu, fenomena ini juga meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan di beberapa wilayah Sumatra dan Kalimantan akibat cuaca panas yang berkepanjangan.

Ancaman Banjir:

Sebaliknya, wilayah timur laut seperti Sulawesi, Maluku, dan Halmahera justru diprediksi mengalami curah hujan tinggi yang berisiko memicu banjir dan longsor.

“Oleh karena itu pemerintah perlu mewaspadai dampak kekeringan yang dapat mengancam lumpung pangan nasional di wilayah Pantura Jawa, selain itu dampak Karhutla di Kalimantan dan Sumatra juga harus dimitigasi. Namun di saat yang bersamaan, pemerintah juga sebaiknya menyiapkan strategi untuk menangani kelebihan curah hujan di wilayah Sulawesi, Halmahera, Maluku atau dampaknya terhadap banjir dan longsor,” ungkap Erna.

Wilayah Terdampak Prediksi BMKG

Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut sebagian wilayah Indonesia mulai memasuki musim kemarau pada April 2026, di tengah tanda-tanda awal kemunculan fenomena El Nino.

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menjelaskan, kondisi iklim global saat ini masih berada pada fase netral dengan indeks ENSO -0,28 dan diperkirakan bertahan hingga Juni. Namun, peluang munculnya El Nino lemah hingga moderat pada pertengahan tahun mencapai 50–60 persen perlu menjadi perhatian.

Sebanyak 114 zona musim (16,3 persen wilayah) diprediksi mulai kemarau pada April, terutama di sebagian pesisir utara Jawa bagian barat, pesisir utara dan selatan Jawa Tengah, sebagian besar D.I Yogyakarta, sebagian Jawa Timur, sebagian Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan sebagian kecil Sulawesi Selatan.

Sementara itu, sebanyak 184 ZOM (26,3 persen) dan 163 ZOM (23,3 persen) wilayah lain baru akan memasuki musim kemarau pada Mei hingga Juni.

BMKG memperkirakan puncak musim kemarau terjadi pada Agustus 2026, yang mencakup 429 ZOM atau sekitar 61,4 persen wilayah Indonesia. Wilayah lain akan mengalami puncak kemarau pada Juli (12,6 persen) dan September (14,3 persen).

Wilayah yang memasuki puncak musim kemarau pada Juli, meliputi sebagian wilayah Sumatra, Kalimantan bagian tengah dan utara, serta merambah ke sebagian kecil Jawa, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, hingga wilayah barat Pulau Papua.

BMKG pun menghimbau agar masyarakat tetap diminta waspada terhadap potensi perubahan cuaca yang cepat dan dampaknya terhadap lingkungan serta aktivitas sehari-hari.

Pemerintah pun diharapkan memperkuat langkah mitigasi, mulai dari pengelolaan sumber daya air, penyesuaian kalender tanam, hingga kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana hidrometeorologi.

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

1,459FollowersFollow
7,451FollowersFollow
7,700SubscribersSubscribe
- Advertisement -spot_img

Latest Articles