PETISI BRAWIJAYA MEDIA, JAKARTA – Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan di pasar keuangan, seiring meningkatnya kekhawatiran pelaku pasar terhadap kondisi fiskal domestik dan ketidakpastian ekonomi global.
Dalam perdagangan akhir pekan, nilai tukar rupiah terhadap dolar Singapura dilaporkan melemah 0,52%, menembus level Rp 14.000 per dollar Singapura. Level tersebut menjadi salah satu titik terlemah sepanjang sejarah serta level psikologis baru terhadap dolar Singapura.
Ini menjadi pertama kali nya dalam sejarah rupiah menyentuh level tersebut.
Sementara terhadap dolar Amerika Serikat (AS) rupiah juga menyentuh level terlemah sepanjang sejarah di di level Rp17.881 per dolar AS pada perdagangan 29 Mei 2026.
Tak hanya dengan SGD, rupiah juga terpantau makin tak beradaya dengan mata uang negara tetangga lainnya yakni ringgit Malaysia. Kurs rupiah kini berada di level Rp4.502,95/MYR atau melemah 1,01% terhadap ringgit Malaysia.
Posisi tersebut juga membuat rupiah menembus level psikologis Rp4.500/MYR untuk pertama kalinya. Level ini sekaligus menjadi posisi terlemah rupiah terhadap ringgit Malaysia sepanjang sejarah.
Penguatan ringgit terhadap rupiah tidak lepas dari kondisi neraca perdagangan Malaysia yang masih cukup sehat.
Berdasarkan data Department of Statistics Malaysia (DOSM), total perdagangan Malaysia pada Maret 2026 tumbuh 9,3% secara tahunan menjadi MYR273,0 miliar atau setara sekitar Rp1.188 triliun dengan asumsi kurs Rp4.352/MYR.
Angka tersebut naik dari MYR249,8 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan perdagangan Malaysia ditopang oleh pertumbuhan ekspor dan impor yang sama-sama meningkat.
Ekspor Malaysia naik 8,3% menjadi MYR148,8 miliar, sementara impor tumbuh lebih tinggi, yakni 10,4% menjadi MYR124,2 miliar. Meski demikian, Malaysia masih mencatat surplus perdagangan sebesar MYR24,6 miliar pada Maret 2026, walaupun sedikit menyempit 0,9% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Surplus perdagangan ini menjadi salah satu faktor penting bagi ringgit. Ketika ekspor masih kuat dan arus perdagangan tetap sehat, pasokan devisa ke dalam negeri cenderung lebih terjaga. Kondisi ini dapat membantu menopang stabilitas mata uang.
Di saat ekonomi Malaysia masih menunjukkan kinerja yang cukup solid, ringgit juga mendapat tambahan tenaga dari kepercayaan investor asing yang relatif terjaga.
Kondisi ini berbeda dengan Indonesia. Di dalam negeri, pasar masih menghadapi sejumlah tantangan yang beririsan langsung dengan persepsi investor dan pelaku pasar terhadap prospek ekonomi nasional.
Salah satu sorotan utama datang dari kekhawatiran terhadap pengelolaan fiskal. Beban sejumlah program pemerintah yang dinilai besar membuat pelaku pasar mencermati lebih ketat arah belanja negara dan kemampuan pemerintah menjaga disiplin fiskal.
Analis mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai pelemahan rupiah terhadap dollar Singapura juga berpotensi masih berlanjut dalam beberapa waktu ke depan.
Ia memperkirakan rupiah dapat bergerak menuju Rp 15.000 sampai Rp 16.000 per dollar Singapura jika tekanan di pasar keuangan domestik belum mereda.
Berbagai program pemerintah yang membutuhkan anggaran besar dinilai memunculkan pertanyaan mengenai keberlanjutan pengelolaan fiskal dan kesehatan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Apalagi, posisi defisit APBN pada 2025 tercatat mencapai 2,92% terhadap produk domestik bruto (PDB). Angka ini sudah sangat dekat dengan batas maksimal defisit yang diatur dalam undang-undang, yakni 3% terhadap PDB.
Ibrahim juga menyoroti sejumlah program strategis pemerintah yang memerlukan alokasi dana besar, seperti program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Meski sebagian kebutuhan anggaran program tersebut telah mengalami penyesuaian, pasar dinilai masih mencermati dampaknya terhadap fiskal nasional.
Ibrahim juga menyoroti program Koperasi Desa Merah Putih atau Kopdes.
Menurut dia, program tersebut masih memunculkan berbagai pandangan di kalangan pelaku ekonomi dan investor terkait efektivitas serta prospek keberhasilannya dalam jangka panjang.
“Kita tahu bahwa banyak sekali program-program pemerintah ya yang jumbo, yang besar dan membuat kekhawatiran tentang defisit anggaran terutama MBG dan Koperasi Merah Putih. Nah walaupun MBG itu sudah sebagian ditutup ya, tetapi ini sebelumnya dampaknya cukup luar biasa ya di atas Rp 300 triliun dana yang digunakan untuk MBG,” ujarnya.
Kondisi tersebut membuat pasar semakin sensitif terhadap arah kebijakan fiskal Indonesia. Selama sentimen tersebut belum mereda, volatilitas nilai tukar diperkirakan masih akan tinggi.
Meningkatnya kehati-hatian investor tersebut diyakini berdampak pada derasnya arus keluar modal asing atau capital outflow dari pasar keuangan Indonesia.
Saat investor global mengurangi eksposur terhadap aset domestik, permintaan terhadap rupiah juga ikut menurun. Tekanan terhadap nilai tukar pun menjadi semakin besar.
Di tengah tekanan global yang masih tinggi, kepercayaan investor menjadi faktor penting bagi stabilitas rupiah.



