28.4 C
Jakarta
Sunday, June 7, 2026
spot_img

Jokowi Siap Bersafari Politik ke Seluruh Indonesia, Pengamat: Bisa Dongkrak PSI dan Posisi Tawar Gibran di 2029

PETISI BRAWIJAYA MEDIA, JAKARTA – Presiden ke-7 Republik Indonesia, Joko Widodo atau Jokowi, dikabarkan siap melakukan safari politik ke berbagai wilayah Indonesia mulai Juni 2026. Agenda tersebut disebut akan dibarengi dengan kunjungan ke struktur daerah Partai Solidaritas Indonesia (PSI), memunculkan spekulasi mengenai konsolidasi politik menuju Pemilu 2029.

Rencana tersebut dikonfirmasi oleh Ketua DPP PSI Bidang Politik, Bestari Barus. Menurutnya, Jokowi akan memenuhi sejumlah undangan masyarakat dan tokoh daerah sekaligus menyambangi Dewan Pimpinan Daerah (DPD) PSI di sejumlah provinsi.

Bestari mengatakan gaya blusukan yang selama ini identik dengan Jokowi memang lahir ketika mantan presiden tersebut masih berada di PDIP. Namun kini, PSI berharap masyarakat melihat Jokowi dalam identitas politik yang baru.

“Pak Jokowi sudah tidak lagi di sana, dan mudah-mudahan menjadi kesempatan juga pada saat mengunjungi seluruh Indonesia nanti Pak Jokowi menyatakan sekarang sudah bersama PSI,” kata Bestari Barus saat dihubungi, Jumat (29/5/2026).

Bestari mengingkapkan, pada tahap awal safari politik itu dijadwalkan dimulai di Lampung, Nusa Tenggara Timur (NTT), dan Jawa Barat.

Menurut Bestari, kehadiran Jokowi dalam safari politik tersebut diharapkan dapat memengaruhi persepsi publik terhadap pilihan politik mereka.

“Jadi yang dahulu selama 10 tahun orang suka sama Pak Jokowi ketika menjabat, hari ini jadi permakluman publik, ‘Oh, beliau sudah di sini di PSI. Kita jangan lagi milih partai yang itu,’ kan begitu,” ujarnya.

Bestari menilai Jokowi masih memiliki basis massa yang kuat dan berpotensi memberikan coat-tail effect atau efek ekor jas bagi PSI menjelang agenda politik mendatang.

Menurut dia, perpindahan dukungan pendukung Jokowi ke PSI menjadi hal yang wajar dan tidak perlu dipersoalkan oleh partai lain, termasuk PDIP.

“Jadi efek ekor jas yang kemarin ini, makanya timbullah kegelisahan-kegelisahan itu. Wajarlah, kan namanya Pak Jokowi dicintai rakyat, kemudian pindah ya silent voters-nya Pak Jokowi, pendukung Pak Jokowi juga akan ikut pindah tentu ke mana? Ke PSI sehingga ada kekhawatiran-kekhawatiran mungkin ya kita maklumilah,” kata Bestari.

Respon PDIP

Ketua DPP PDI Perjuangan (PDIP) yang juga Wakil Ketua Komisi XIII DPR, Andreas Hugo Pareira, menanggapi santai rencana Presiden ke-7 Joko Widodo yang akan melakukan safari politik ke sejumlah daerah di Indonesia.

Andreas bahkan menyinggung polemik ijazah Jokowi yang hingga kini masih menjadi perhatian publik. Menurutnya, masyarakat bahkan sampai saat ini ikut mempertanyakan keaslian ijazah Jokowi.

Ia pun menyarankan agar Jokowi sebaiknya turut membawa ijazahnya saat melakukan safari politik ke sejumlah daerah.

“Makanya, baiknya Jokowi turun ke masyarakat sambil bawa ijazahnya. Karena sampai sekarang kasus ijazah ini menyita waktu dan perhatian masyarakat, tapi tidak jelas penyelesaiannya. Masyarakat ikut bertanya, apakah ijazah Jokowi asli atau palsu?” tuturnya.

Tanggapan Sejumlah Pengamat Politik Soal Safari Politik Jokowi

Pengamat politik dari Parameter Politik Indonesia, Adi Prayitno, turut mengomentari soal rencana Jokowi melakukan kunjungan ke sejumlah daerah dalam waktu dekat. Ia menilai safari politik Jokowi tidak bisa dilepaskan dari dinamika menuju Pemilu 2029.

Menurut Adi, publik wajar mengaitkan agenda keliling Indonesia itu dengan upaya memperkuat basis dukungan PSI, mengingat kedekatan politik Jokowi dengan partai yang kini dipimpin putranya, Kaesang Pangarep.

Ia menilai kehadiran Jokowi di berbagai daerah berpotensi menjadi instrumen konsolidasi politik yang menguntungkan PSI dalam menghadapi kontestasi mendatang.

“Jokowi identik dengan PSI dan PSI sudah menjadikan Jokowi sebagai figur sentral mereka. Karena itu, banyak pihak menilai safari politik ini merupakan bagian dari konsolidasi dukungan menuju Pemilu 2029,” kata Adi saat dihubungi, Jumat (29/5/2026).

Selain itu, Adi juga menyoroti kemungkinan dampak politik terhadap posisi putranya, Gibran Rakabuming Raka, yang kini menjabat sebagai wakil presiden.

Menurut Adi, apabila konsolidasi politik Jokowi berjalan efektif, maka salah satu pihak yang akan memperoleh keuntungan adalah Gibran karena posisinya akan semakin diperhitungkan dalam peta politik nasional menuju Pilpres 2029.

“Publik mengkonfirmasi bahwa Jokowi sering turun ke bawah maka orang yang suka dan senang sama Jokowi akan semakin memberi dukungan politik kepada anaknya, Mas Gibran,” katanya.

Ia menilai safari politik tersebut dapat menjadi sarana untuk meningkatkan bargaining position atau posisi tawar politik Gibran di tengah mulai menghangatnya pembicaraan mengenai figur-figur potensial pada kontestasi 2029.

Dengan dukungan jaringan politik Jokowi yang masih cukup kuat di sejumlah daerah, Gibran dinilai berpotensi memperoleh efek elektoral maupun penguatan legitimasi politik.

Pandangan serupa disampaikan pengamat politik Hendri Satrio. Menurutnya, rencana Jokowi berkeliling Indonesia menunjukkan bahwa mantan kepala negara tersebut masih ingin memainkan peran aktif dalam dinamika politik nasional.

“Ini kan jadi yang pertama adalah tidak benar ucapan Pak Jokowi bahwa dirinya akan kembali ke Solo jadi warga biasa, sekarang artinya dia masih ingin tetap beraktivitas politik. Apa pun tujuannya kelihatannya kan memang yang menjadi hal utama adalah menjaga marwah politik dia agar tidak layu ya, maka dia harus melakukan itu,” kata Hendri.

Hendri menilai PSI kini menjadi kendaraan politik yang paling dekat dengan Jokowi. Karena itu, setiap aktivitas politik Jokowi berpotensi memberi dampak terhadap penguatan elektoral partai tersebut menjelang Pemilu 2029.

Ia bahkan menyebut langkah itu sebagai sinyal awal mulai memanasnya persaingan politik menuju pemilu berikutnya.

“Dan PSI adalah kendaraan politik beliau yang baru, gitu. Jadi artinya Pak Jokowi mulai memanaskan suhu pertarungan Pilpres dan Pemilu 2029. Dia mengharapkan tentunya PSI bisa lolos ke Senayan gitu ya dengan berbagai hal,” ujarnya.

Di sisi lain, tidak semua pengamat sepakat bahwa safari politik Jokowi akan berdampak signifikan terhadap elektabilitas PSI maupun Gibran.

Direktur ABC Riset & Consulting, Erizal, menilai pengaruh politik Jokowi pasca tidak lagi menjabat presiden belum tentu mampu secara otomatis mendongkrak suara PSI ataupun meningkatkan elektabilitas Gibran secara signifikan.

“Blusukan Jokowi ke seluruh Indonesia tidak akan memberikan efek elektoral apa-apa terhadap PSI maupun Gibran,” kata Erizal.

Erizal melihat kehadiran Jokowi di daerah-daerah memang masih dielu-elukan warga, apalagi kalau ada pembagian sembako.

“Tapi, itu sudah tak berpengaruh apa-apa lagi,” kata Erizal.

Menurutnya, dinamika politik 2029 akan ditentukan banyak faktor lain di luar figur Jokowi.

“Misalnya, saat ini, mana ada elektabilitas Gibran itu naik secara signifikan. Ia masih berada di bawah Dedi Mulyadi dan Anies Baswedan. Padahal Gibran sudah di posisi Wapres. Semua orang se-Indonesia juga sudah tahu bahwa ia anaknya Jokowi,” kata Erizal.

Meski demikian, dengan semakin terbukanya keterlibatan Jokowi dalam aktivitas PSI, sejumlah pengamat menilai konfigurasi koalisi dan peta kekuatan menuju Pemilu 2029 berpotensi mengalami perubahan dibandingkan periode sebelumnya.

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

1,459FollowersFollow
7,451FollowersFollow
7,700SubscribersSubscribe
- Advertisement -spot_img

Latest Articles