25.9 C
Jakarta
Wednesday, April 8, 2026
spot_img

Imbas Konflik Timur Tengah, ID Food Kekurangan Kemasan Plastik: Distribusi Pangan Terancam

PETISI BRAWIJAYA MEDIA, JAKARTA – Konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah mulai menimbulkan dampak nyata terhadap sektor pangan nasional. PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero) atau ID Food mengungkapkan tengah menghadapi kesulitan serius dalam memperoleh bahan baku plastik untuk kemasan produk pangan, yang berpotensi mengganggu rantai pasok nasional.

Kelangkaan ini dipicu oleh terganggunya rantai pasok global bahan baku plastik, khususnya dari kawasan Timur Tengah yang menjadi salah satu pemasok utama dunia. Konflik yang melibatkan Iran vs Amerika Serikat – Israel menyebabkan distribusi bahan baku petrokimia, seperti polyethylene dan polypropylene, ikut tersendat.

Selain itu, penutupan jalur strategis seperti Selat Hormuz memperparah kondisi, mengingat jalur tersebut merupakan salah satu rute utama distribusi energi dan bahan baku industri global.

Direktur Utama ID Food, Ghimoyo, menyatakan bahwa kelangkaan biji plastik kini telah dirasakan langsung oleh berbagai pabrik di dalam negeri. Kondisi tersebut tidak hanya bersifat sementara, tetapi mulai berdampak sistemik pada industri pangan.

“Selain itu, kami kesulitan yang sekarang lagi viral, bukan lagi viral, lagi terasa di pihak kami sebagai pemain pangan, yaitu kesulitan kemasan. Jadi di semua pabrik-pabrik itu sudah mulai terasa kelangkaan biji plastik,” kata Direktur Utama ID Food, Ghimoyo dalam Rapat Kerja bersama Komisi IV DPR RI di Gedung Parlemen, Jakarta, Selasa (7/4/2026).

Indonesia sendiri masih sangat bergantung pada impor bahan baku plastik, termasuk naphta yang sebagian besar berasal dari Timur Tengah. Ketergantungan ini membuat industri dalam negeri rentan terhadap gejolak geopolitik global.

Menurut Ghimoyo, persoalan kemasan plastik menjadi sangat krusial karena hampir seluruh produk pangan menggunakan material tersebut.

“Karena ini seluruh pangan, seluruh pupuk, seluruh beras itu menggunakan karung plastik. Lalu kemasan-kemasan kiloan, kemasan minyak goreng juga menggunakan bahan yang sama,” jelasnya.

Tak hanya mengganggu rantai pasok pangan dalam negeri, kelangkaan pasokan kemasan plastik ini juga berpotensi menimbulkan gangguan pada pelaksanaan sejumlah program pemerintah yang ditugaskan kepada ID FOOD.

“Kami aktif mengelola dan mendistribusikan CPP (Cadangan Pangan Pemerintah), khususnya untuk enam komoditas strategis yaitu daging ruminansia, daging ayam, telur, gula, minyak goreng, dan ikan kembung,” terangnya.

“Kami juga aktif mendukung program pemerintah melalui Gerakan Pangan Murah (GPM) bersama Badan Pangan Nasional. ID Food menyuplai sekitar 420 titik penugasan dari total 1.900 titik Gerakan Pangan Nasional di tahun 2026,” sambung Ghimoyo.

Namun, Ghimoyo menyebut pihaknya belum melihat dampak langsung ke harga jual akibat lonjakan harga plastik.

“Belum tahu [ada potensi kenaikan harga produk jadi atau tidak], karena cuma ini aja. Cuma ada kelangkaan itu aja. Kelangkaan suplainya,” terangnya.

Sebelumnya Ketua Umum Gabungan Produsen Makanan Minuman Indonesia (Gapmmi) Adhi S Lukman mengatakan produksi industri hulu plastik di dalam negeri turun hingga sekitar sepertiga kapasitas. Bahkan, sejumlah pemasok dilaporkan tidak dapat berproduksi karena keterbatasan bahan baku.

Selain kelangkaan, lonjakan harga bahan baku plastik turut menjadi tekanan tambahan. Di tingkat produsen, harga dilaporkan naik hingga 30–60 persen, bahkan di tingkat pedagang bisa mencapai dua hingga tiga kali lipat akibat keterbatasan stok.

Kenaikan ini secara langsung meningkatkan biaya produksi kemasan, yang pada akhirnya dapat berdampak pada harga jual produk pangan di pasar.

“Saya dapat info juga bahkan beberapa pedagang plastik itu menaikkan harga bisa sampai 100 persen karena mereka merasa stoknya terbatas, sementara dibutuhkan,” kata Adhi.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Indonesia impor plastik dan barang dari plastik (HS 39) senilai US$ 873,2 juta atau setara Rp 14,78 triliun (kurs Rp 16.927) pada Februari 2026. Barang tersebut dipasok dari berbagai negara.

Impor plastik dan barang dari plastik pada Februari 2026 paling banyak berasal dari China yakni US$ 380,1 juta. Kemudian disusul dari Thailand US$ 82,7 juta dan dari Korea Selatan (Korsel) US$ 66,7 juta.

Indonesia juga tercatat impor plastik dan barang plastik dari Amerika Serikat (AS) yang saat ini sedang berperang dengan Iran. Tercatat impornya mencapai US$ 29,9 juta pada Februari 2026.

Kemudian Indonesia juga impor plastik dan barang plastik dari Arab Saudi senilai US$ 14,9 juta pada Februari 2026. Pemasok juga ada berasal dari Vietnam, Jepang, Singapura, Malaysia dan Taiwan.

Diketahui negara pemasok di Asia seperti China, Thailand, dan Vietnam kini lebih memprioritaskan kebutuhan domestik dan mulai membatasi ekspor. Sejumlah negara bahkan menahan pasokan untuk menjaga ketersediaan dalam negeri.

Imbasnya, pasokan bahan baku plastik di RI berada pada level yang tidak aman.

Adapun kemampuan industri petrokimia dalam negeri saat ini baru mampu memenuhi sekitar 50%–60% kebutuhan. Ini artinya, sekitar 40%–50% sisanya masih bergantung pada impor, terutama dari kawasan Timur Tengah dan sebagian dari China.

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

1,459FollowersFollow
7,451FollowersFollow
7,700SubscribersSubscribe
- Advertisement -spot_img

Latest Articles