PETISI BRAWIJAYA MEDIA, JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali mencatatkan pelemahan dan menutup perdagangan pada level terendah sepanjang sejarah, yakni Rp17.104 per dolar AS pada Jumat (10/4/2026).
Berdasarkan data pasar spot, rupiah ditutup melemah 0,08 persen dibandingkan posisi hari sebelumnya yang berada di level Rp17.090 per dolar AS. Pelemahan ini sekaligus memperpanjang tren tekanan terhadap mata uang Garuda dalam beberapa waktu terakhir.
Tekanan terhadap rupiah tidak terjadi secara sendiri, melainkan sejalan dengan pergerakan mayoritas mata uang di kawasan Asia yang juga mengalami depresiasi terhadap dolar AS.
Won Korea mencatat pelemahan terdalam yakni 0,75%, disusul baht Thailand yang melemah 0,48%, peso Filipina melmeah 0,39%, yen Jepang melemah 0,21%, dolar Singapura melemah 0,19%, rupee India melemah 0,10%, rupiah melemah 0,08%, yuan China melemah 0,05% terhadap dolar AS.
Sedangkan mata uang Asia lainnya menguat terhadap dolar AS sore ini. Ringgit Malaysia menguat 0,31%, dolar Hong Kong menguat 0,02% dan dolar Taiwan menguat 0,02% terhadap dolar AS.
Sementara itu, indeks dolar AS yang mencerminkan kekuatan mata uang Negeri Paman Sam terhadap sejumlah mata uang utama dunia juga terpantau menguat ke level 98,98 dari sebelumnya 98,81. Kondisi ini semakin menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Sejumlah analis menilai pelemahan rupiah dipicu oleh kombinasi faktor global dan domestik. Dari sisi global, meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah menjadi salah satu pemicu utama yang mendorong investor mencari aset aman (safe haven) seperti dolar AS.
Selain itu, ekspektasi inflasi Amerika Serikat yang masih tinggi turut memperkuat posisi dolar AS di pasar global. Hal ini berdampak langsung terhadap arus modal yang keluar dari negara berkembang, termasuk Indonesia.
Di sisi domestik, tekanan juga datang dari kondisi fiskal. Defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang meningkat serta kebutuhan pembiayaan pemerintah turut memengaruhi persepsi investor terhadap stabilitas ekonomi nasional.
Harga minyak mentah yang bertahan di atas US$90 per barel, melebihi asumsi APBN 2026, berpotensi memperlebar defisit fiskal. Keputusan pemerintah untuk menahan gejolak harga guna menjaga daya beli justru ditafsirkan pasar sebagai kebijakan populis yang mengikis disiplin fiskal.
Upaya menahan harga bahan bakar demi stabilitas sosial berarti memperbesar beban subsidi. Di sisi lain, menaikkan harga berisiko menekan daya beli masyarakat yang saat ini sedang lesu.
Defisit APBN pada kuartal I-2026 tercatat mencapai rekor tertinggi, yakni Rp240,1 triliun atau setara 0,93% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Ini terjadi akibat belanja pemerintah yang masih sangat ekspansif.
Salah satu pendorong utama kenaikan belanja pemerintah di awal tahun adalah program prioritas Presiden Prabowo Subianto, yaitu Makan Bergizi Gratis (MBG).
Sementara itu, Asian Development Bank (ADB) memperkirakan pertumbuhan ekonomi kawasan Asia berkembang akan melambat menjadi 5,1 persen pada 2026 dan 2027, seiring tekanan dari konflik geopolitik dan ketidakpastian perdagangan global.
Meski demikian, Indonesia justru diproyeksikan mampu tumbuh lebih tinggi, yakni sebesar 5,2 persen pada periode tersebut, meningkat dari proyeksi sebelumnya 5,1 persen.
Namun, prospek ini tetap dibayangi risiko apabila konflik di Timur Tengah berkepanjangan dan semakin memburuk.



