30.1 C
Jakarta
Wednesday, April 22, 2026
spot_img

RI Beli Minyak Rusia Saat Sudah Deal dengan AS, Bahlil: Indonesia Politik Bebas Aktif, Boleh Belanja di Mana Saja

PETISI BRAWIJAYA MEDIA, JAKARTA – Pemerintah Indonesia tetap melanjutkan rencana pembelian minyak mentah dari Rusia meskipun telah memiliki kerja sama energi dengan Amerika Serikat (AS). Kebijakan ini mencuat di tengah dinamika geopolitik global, termasuk kebijakan AS yang mulai memperketat sikap terhadap perdagangan energi Rusia.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan langkah tersebut merupakan bagian dari prinsip politik luar negeri Indonesia yang bebas aktif.

“Yang jelas kita kedepankan politik bebas aktif. Dalam politik itu juga ada ekonomi bebas aktif. Jadi kita bisa belanja dengan siapa saja dengan negara yang sudah kita ajak kerja sama termasuk Rusia, Afrika, Nigeria,” ujar Bahlil usai rapat terbatas di Istana Negara, Kamis (16/4/2026).

Bahlil menegaskan bahwa keputusan untuk membeli minyak dari Rusia didasarkan pada kepentingan nasional, khususnya dalam menjamin pasokan energi dalam negeri.

“Pasti pertanyaan kemudian adalah apakah dengan kita membeli crude dari Rusia kemudian bagaimana perjanjian kita dengan negara lain termasuk dengan Amerika? Saya katakan bahwa kebutuhan crude kita setiap tahun itu kurang lebih sekitar 300 juta barel,” kata Bahlil.

Meski demikian Bahlil menegaskan pembelian minyak dari Rusia ini tidak akan memengaruhi kerja sama perdagangan yang telah diteken Indonesia dengan Amerika Serikat (AS).

Bahlil menjelaskan bahwa konsumsi BBM nasional saat ini mencapai 1,6 juta barel per hari, sementara produksi atau lifting migas diperlukan sekitar 600.000 hingga 610.000 barel per hari. Dengan demikian, Indonesia masih membutuhkan impor sekitar 1 juta barel per hari.

“Di tengah kondisi global yang seperti ini, kita harus mampu mencari cadangan-cadangan minyak dari berbagai sumber. Tidak hanya di satu negara tapi hampir semua negara,” kata Bahlil.

Saat ditanya terkait dengan berapa banyak volume impor mentah (crude oil) dari Rusia, Bahlil mengaku belum bisa mengungkapkan. Sebab, pemerintah telah menandatangani perjanjian untuk tidak mengungkapkan detil kesepakatan.

“Volumenya saya nggak boleh karena ada kesepakatan kami, kami nggak boleh berbicara tentang volume,” katanya dalam keterangan pers di Istana Merdeka, Jakarta Pusat, Kamis (16/4/2026).

Sama halnya dengan volume, Bahlil juga belum bisa mengatakan berapa anggaran yang dibutuhkan untuk membeli minyak Rusia. Namun, dia memastikan minyak mentah yang bakal dikirim ke Indonesia tersebut didasarkan pada harga minyak mentah dunia.

“Kalau beli itu kan trading biasa, tinggal volume dan harga pasar aja tergantung ICP (harga minyak mentah dunia) dunia kan?” ujar dia.

Lebih penting dari itu, Bahlil memastikan dengan komitmen impor dari Rusia ini, kebutuhan minyak nasional hingga akhir tahun nanti akan tetap aman.

“Dan atas arahan Bapak Presiden itu saya menindaklanjuti untuk crude satu tahun dari mulai bulan ini sampai dengan bulan Desember, Insyaallah udah aman. Jadi kita nggak perlu risau, tinggal kita meningkatkan produksi daripada kilang kita,” pungkasnya.

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

1,459FollowersFollow
7,451FollowersFollow
7,700SubscribersSubscribe
- Advertisement -spot_img

Latest Articles