28.7 C
Jakarta
Wednesday, April 22, 2026
spot_img

Jaga Ekosistem Sungai, Pemprov DKI Gelar Operasi Tangkap Ikan Sapu-Sapu, Hasil Capai 6,98 Ton

PETISI BRAWIJAYA MEDIA, JAKARTA – Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta menggelar operasi penangkapan massal ikan sapu-sapu sebagai upaya menjaga keseimbangan ekosistem perairan. Operasi besar-besaran ini merupakan bagian dari upaya pengendalian populasi ikan sapu-sapu yang dinilai telah menguasai perairan Jakarta.

Spesies invasif ini dikenal mampu hidup di berbagai kondisi air, baik bersih maupun tercemar, sehingga populasinya cepat berkembang dan mengancam keberadaan ikan lokal.

Dalam pelaksanaannya, operasi ini melibatkan berbagai unsur lintas instansi, mulai dari Sudin KPKP, Dinas Lingkungan Hidup, Sumber Daya Air, hingga badan terkait lainnya.

Kegiatan yang dilaksanakan serentak di lima wilayah pada Jumat, 17 April 2026, di mulai pada pukul 07.30 WIB hingga 11.00 WIB di lima wilayah Jakarta. Total hasil tangkapan mencapai 6,98 ton, dalam satu hari kegiatan.

Gubernur Pramono Anung menyampaikan bahwa hasil tersebut menjadi sinyal awal perlunya upaya berkelanjutan untuk menekan populasi ikan invasif tersebut. “Yang paling utama di Jakarta Selatan, itu lebih dari 3,5 ton (terkumpul) dan total hampir 6,5 ton ikan sapu-sapu yang berhasil ditangkap,” ucap Pramono di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Minggu, 19 April 2026.

Berdasarkan data Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Perikanan (KPKP) Jakarta, jumlah total tangkapan 6,98 ton tersebut,  Rinciannya adalah, di Jakarta Utara yang berlokasi di saluran permukiman Kelapa Gading Barat, tercatat 545 ekor dengan berat sekitar 271 kilogram.

Sementara itu, di Jakarta Barat, tepatnya di Kali Anak TSI, Cengkareng, ditemukan 71 ekor dengan total berat 17 kilogram.

Untuk wilayah Jakarta Pusat yang mencakup tujuh kecamatan, jumlah tangkapan mencapai 536 ekor atau sekitar 565 kilogram.

Di Jakarta Timur yang melibatkan 10 kecamatan, tercatat 4.128 ekor dengan berat mencapai 825 kilogram.

Adapun Jakarta Selatan menjadi wilayah dengan jumlah tangkapan terbesar, yakni di pintu air outlet Setu Babakan, Srengseng Sawah, dengan total 63.600 ekor atau setara 5.300 kilogram.

Pramono menegaskan, dominasi ikan sapu-sapu di perairan Jakarta tidak bisa dianggap remeh. Berdasarkan catatan Kementerian Kelautan dan Perikanan, populasi ikan tersebut telah mencapai lebih dari 60 persen di sejumlah perairan ibu kota.

“Dan ikan ini sangat-sangat invasif, kemudian juga membuat ikan-ikan lain yang ada di tempat itu, terutama yang endemik lokal, hampir semuanya tidak bisa bertahan hidup karena telurnya dimakan. Dan kemudian juga yang paling berbahaya adalah, kemarin dalam rapat saya dilaporkan oleh Kepala KKP bahwa pada ikan ini rata-rata kadar residunya sudah di atas 0,3,” ujar Pramono.

“Dan itu berbahaya sekali. Kalau itu kemudian dikonsumsi akan berbahaya, dan kalau dibiarkan maka dia akan merusak, karena saat membuat sarang, dia menggerogoti dinding dan sebagainya,” lanjutnya.

Sebagai tindak lanjut, Pemprov Jakarta berencana menyiapkan petugas khusus yang akan fokus melakukan pembersihan dan penangkapan ikan sapu-sapu secara berkala.

Upaya ini melibatkan Petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) agar pengendalian populasi dapat berjalan konsisten.

“Jakarta akan punya PPSU untuk secara berkala membersihkan ikan sapu-sapu di Jakarta. Sebab kalau tidak, maka ekosistem air Jakarta pasti akan rusak,” terang Pramono.

Menurut dia, pembentukan penugasan khusus ini menjadi langkah strategis karena laju perkembangbiakan ikan sapu-sapu tergolong sangat cepat.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta, Hasudungan Sidabalok, menyampaikan rencana berkoordinasi dengan pihak lain untuk melakukan tindakan serupa dalam skala yang lebih besar dan frekuensi yang lebih sering. Adapun koordinasi itu akan dilakukan antar wilayah kota administrasi, Dinas Lingkungan Hidup, serta pihak terkait lainnya.

Selain itu, Ia menjelaskan bahwa tindak lanjut hasil penangkapan dilakukan sesuai prosedur, yakni ikan dimatikan dan dikubur secara higienis di lokasi yang telah ditentukan. Langkah ini dilakukan agar ikan tidak kembali ke perairan, tidak diperjualbelikan, serta dapat dimanfaatkan sebagai kompos alami.

“Hasil tangkapan ikan (sapu-sapu) dikubur dalam kondisi mati. Selain itu, 1.000 kilogram ikan sapu-sapu yang berasal dari Setu Babakan dibawa ke Balai Riset Budidaya Ikan Hias, KKP, sebagai bahan penelitian pengembangan media kultur budidaya maggot,” katanya.

Ia juga mengapresiasi keterlibatan berbagai pihak dalam kegiatan ini, mulai dari jajaran pemerintah daerah, petugas lapangan, hingga partisipasi masyarakat. Menurutnya, kolaborasi menjadi kunci dalam menjaga kualitas lingkungan perairan di Jakarta.

“Kami mengajak masyarakat untuk terus mendukung upaya pelestarian lingkungan. Perairan yang sehat tidak hanya berdampak pada ekosistem, tetapi juga bagi kualitas hidup warga secara keseluruhan,” katanya.

Tanpa pengendalian yang konsisten, dominasi ikan sapu-sapu berpotensi merusak keseimbangan ekosistem sekaligus mengganggu fungsi saluran air di ibu kota.

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

1,459FollowersFollow
7,451FollowersFollow
7,700SubscribersSubscribe
- Advertisement -spot_img

Latest Articles