33.8 C
Jakarta
Friday, April 24, 2026
spot_img

BI Proyeksikan Ekonomi Indonesia Tumbuh 4,9–5,7 Persen pada 2026

PETISI BRAWIJAYA MEDIA, JAKARTA – Bank Indonesia (BI) memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2026 berada dalam kisaran 4,9 persen hingga 5,7 persen. Proyeksi tersebut disampaikan Gubernur BI Perry Warjiyo dalam pengumuman hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) April 2026, pada Rabu, 22 April 2026.

“Bank Indonesia terus memperkuat bauran kebijakan melalui kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran yang bersinergi erat dengan kebijakan Pemerintah untuk menjaga stabilitas dengan tetap mendukung pertumbuhan ekonomi,” ujar Perry.

Perry menjelaskan bahwa prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap terjaga, terutama didukung oleh kuatnya permintaan domestik. Sejumlah indikator menunjukkan bahwa kinerja ekonomi pada triwulan I 2026 mengalami peningkatan yang cukup positif.

Konsumsi rumah tangga menjadi salah satu motor utama pertumbuhan, didorong oleh tingkat kepercayaan masyarakat yang tetap tinggi serta peningkatan aktivitas belanja, khususnya selama periode Hari Besar Keagamaan Nasional seperti Idulfitri.

Selain itu, belanja pemerintah juga berkontribusi signifikan melalui berbagai stimulus, termasuk penyaluran Tunjangan Hari Raya (THR), bantuan sosial, serta transfer ke daerah.

Meski prospek domestik relatif kuat, BI mengingatkan bahwa tekanan dari kondisi ekonomi global masih menjadi tantangan utama. Ketidakpastian geopolitik dan perlambatan ekonomi dunia berpotensi memengaruhi kinerja ekspor serta stabilitas pasar keuangan.

Dalam RDG yang berlangsung pada 21–22 April 2026, BI juga memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan (BI-Rate) di level 4,75 persen. Sementara itu, suku bunga deposit facility tetap di 3,75 persen dan lending facility di 5,50 persen.

Keputusan ini diambil sebagai langkah menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian global, termasuk dampak konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah yang turut memengaruhi perekonomian dunia.

BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi global 2026 melambat menjadi 3 persen, dari proyeksi sebelumnya 3,1 persen. Sementara inflasi global diprediksi meningkat menjadi 4,2 persen.

Di sisi lain, tekanan pasar keuangan global juga meningkat seiring pergeseran aliran modal ke aset lindung nilai (safe haven), yang turut menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Perry menegaskan, kebijakan moneter ke depan akan tetap diarahkan untuk menjaga inflasi dalam sasaran 2,5 persen plus minus 1 persen pada 2026 dan 2027. BI juga siap melakukan penyesuaian kebijakan apabila diperlukan guna memastikan stabilitas ekonomi tetap terjaga.

Selain itu, BI juga mencatat nilai tukar rupiah relatif stabil. Per 21 April 2026, rupiah berada di level Rp17.140 per dolar AS, atau melemah 0,87 persen dibandingkan posisi akhir Maret 2026.

Ke depan, Bank Sentral tetap optimistis rupiah akan stabil dan cenderung menguat, ditopang imbal hasil yang menarik serta prospek pertumbuhan ekonomi domestik yang tetap solid.

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

1,459FollowersFollow
7,451FollowersFollow
7,700SubscribersSubscribe
- Advertisement -spot_img

Latest Articles