27.1 C
Jakarta
Wednesday, May 6, 2026
spot_img

Kementerian ESDM Uji Coba Penggunaan Bahan Bakar B50 pada Kereta Api, Jadi yang Pertama di Dunia!

PETISI BRAWIJAYA MEDIA, JAKARTA – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mulai menguji penggunaan bahan bakar biodiesel B50 pada moda transportasi kereta api sebagai bagian dari upaya mempercepat transisi energi dan memperkuat kemandirian energi nasional.

Uji coba tersebut dilakukan di fasilitas Pengawas Urusan Kereta (PUK) Lempuyangan, Yogyakarta, dengan melibatkan sejumlah pihak termasuk PT Kereta Api Indonesia (Persero).

B50 merupakan bahan bakar campuran yang terdiri dari 50 persen solar dan 50 persen biodiesel berbasis minyak nabati, khususnya kelapa sawit. Program ini merupakan kelanjutan dari kebijakan mandatori biodiesel sebelumnya, seperti B30 dan B40.

Pemerintah menargetkan implementasi penuh B50 dimulai pada 1 Juli 2026 dan berlaku untuk seluruh sektor transportasi, termasuk kereta api sebagai moda angkutan massal utama.

Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, mengatakan pengujian ini menjadi tahap penting sebelum implementasi nasional.

“Pengujian dilakukan dalam kondisi nyata agar dapat melihat langsung performa bahan bakar B50 pada operasional kereta api,” ujar Eniya, dalam sambutan di PUK Lempuyangan Yogyakarta, Senin, (27/4/2026).

Eniya mengatakan sektor perkeretaapian menjadi salah satu fokus uji coba B50 karena kereta api merupakan moda transportasi massal dengan konsumsi bahan bakar yang cukup besar.

“Karena pelaksanaan B50 itu harus menyeluruh ke seluruh moda transportasi. Jadi kereta termasuk moda transportasi utama yang kita lihat ini harus memakai juga B50,” ujarnya.

Diketahui, pengujian B50 digunakan pada generator pemasok daya di rangkaian kereta api dan lokomotif penggeraknya. Mandatori B50 juga digunakan pada angkutan kereta api yang berbasis subsidi (public service obligation/PSO) dan non-subsidi.

“Nah, perkeretaapian termasuk yang transportasi umum yang digunakan di publik, dan ini perlu dilakukan pengujian ini,” katanya.

Sebagai informasi penggunaan B50 diuji dalam dua skema utama, yakni pada generator (genset) kereta dan lokomotif. Untuk genset, uji coba dilakukan pada perjalanan relasi Lempuyangan–Jakarta dengan durasi waktu cukup panjang hingga 2.400 jam operasional.

Sementara itu, pengujian pada lokomotif dilakukan pada rute Surabaya–Jakarta yang akan memakan waktu lebih panjang atau setara 6 bulan penggunaan. Langkah ini, kata Eniya, untuk memastikan B50 bisa digunakan pada sisi operasional normal di moda transportasi, termasuk kereta api.

Kementerian ESDM menargetkan seluruh rangkaian uji coba di sektor perkeretaapian ini rampung pada Oktober 2026.

“Di Surabaya-Jakarta itu untuk lokomotif selama 6 bulan. Jadi nanti terakhir untuk uji perkeretaapian ini di Oktober 2026. Kita melaksanakan uji di kondisi yang sesungguhnya untuk melihat hasilnya seperti apa,” terangnya.

Menurutnya uji jalan dalam kondisi nyata sudah berlangsung sejak 9 Desember 2025, setelah sebelumnya melalui berbagai pengujian laboratorium.

“Jadi sejak 9 Desember kita sudah mulai seluruh rangkaian dari uji pelaksanaan di otomotif, di pertambangan, di alat pertanian, di perkapalan, di genset, dan terakhir ini uji di perkeretaapian karena harus nunggu Lebaran selesai. Jadi baru kali ini kita uji untuk yang kereta,” ujarnya.

Ia menyebut program B50 merupakan hasil pengembangan jangka panjang selama sekitar 15 tahun dan saat ini menjadi salah satu yang pertama di dunia.

“Tentu saja program B50 ini sudah mempunyai sejarah yang panjang sejak 15 tahun yang lalu. Kali ini kita membuktikan di dunia bahwa B50 itu hanya ada di Indonesia. Kita saat ini capaiannya sudah nomor 1 di dunia,” tegas Eniya.

Menurutnya, karena Indonesia merupakan negara pertama di dunia yang berencana menerapkan B50, belum ada kajian teknis serupa selain yang dilakukan Kementerian ESDM bersama pihak terkait seperti Lemigas dan PT KAI (Persero).

“Saat ini banyak negara yang berbondong-bondong datang ke kita untuk mengetahui bagaimana menjalankan B50. Karena memang rujukannya belum ada selain di Indonesia,” ujar Eniya.

“Jadi kita harapkan nanti KAI juga melaporkan secara detail bagaimana hasil filternya, kapan harus diganti, dan seterusnya,” sambungnya.

Menurut dia, uji coba ini menjadi langkah penting untuk memastikan kesiapan implementasi di berbagai sektor. Pemerintah berharap proses pengujian berjalan lancar dan memberikan hasil optimal.

“Dan yang perlu diketahui badan usaha saat ini juga meningkatkan spesifikasi dari B50, spesifikasi dari FAME (Fatty Acid Methyl Ester) yang dicampur dengan solar yang disediakan oleh Pertamina Patra Niaga,” ujarnya.

Sementara itu, Direktur Pengelola Sarana Prasarana PT KAI Heru Kuswanto mengatakan selaku perwakilan direksi PT KAI, menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam penyelenggaraan kegiatan uji penggunaan B50 pada sektor kereta api.

“Tujuan utama biodiesel B50, campuran 50 persen minyak sawit dan 50 persen solar adalah untuk memperkuat ketahanan energi nasional, dan mewujudkan energi hijau yang lebih berkelanjutan,” katanya.

Selain memperkuat ketahanan energi, penggunaan B50 juga diharapkan mampu menurunkan emisi karbon serta mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil impor.

PT KAI menyatakan dukungannya terhadap program ini dengan tetap mengedepankan aspek keselamatan, keandalan mesin, serta evaluasi teknis berkelanjutan selama masa uji coba.

“Harapannya ini berjalan lancar dan memberikan manfaat optimal bagi industri perkeretapaian dalam mendukung transisi energi nasional, dan transportasi yang berkelanjutan dan ramah lingkungan,” pungkasnya.

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

1,459FollowersFollow
7,451FollowersFollow
7,700SubscribersSubscribe
- Advertisement -spot_img

Latest Articles