PETISI BRAWIJAYA MEDIA, JAKARTA – Direktorat Jenderal (Ditjen) Imigrasi Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan (Kemenimipas) mencatat penerbitan sebanyak 1.274 Golden Visa hingga 18 Mei 2026. Dari program tersebut, pemerintah mengklaim berhasil menghimpun realisasi investasi mencapai Rp52,1 triliun.
Capaian tersebut disampaikan Direktur Jenderal Imigrasi Hendarsam Marantoko dalam kegiatan Sosialisasi Golden Visa untuk Peningkatan Investasi dan Pertumbuhan Ekonomi Nasional yang digelar di Hotel Ayana Midplaza, Jakarta, Kamis (21/5/2026).
“Kebijakan ini telah memberikan dampak nyata terhadap perekonomian nasional dengan nilai realisasi investasi pemegang Golden Visa yang telah mencapai lebih dari Rp 52,1 triliun,” ujar Hendarsam dalam sambutannya.
Berdasarkan data Direktorat Jenderal Imigrasi per 18, 18 Mei 2026, jumlah penerbitan Golden Visa kita telah mencapai 1.274 penerbitan.
Hendarsam membeberkan dari total penerbitan tersebut, penerbitan Golden Visa terbanyak diberikan kepada warga negara asing (WNA) maupun diaspora dari Amerika Serikat, yang disusul dengan Cina, Taiwan, Australia, Rusia, Belanda, Inggris, Jepang, dan Korea Selatan.
Menurut Hendarsam, jumlah penerbitan Golden Visa itu telah melampaui target awal pemerintah yang sebelumnya ditetapkan sebanyak 1.000 visa sejak program tersebut diluncurkan pada Juli 2024.
“Selain menunjukkan peningkatan kepercayaan global terhadap Indonesia, kebijakan ini telah memberikan dampak nyata terhadap perekonomian nasional,” ujar Hendarsam.
Hendarsam juga mengungkap adanya PNBP yang diterima dari penerbitan Golden Visa. PNBP yang diterima dari penerbitan Golden Visa mencapai Rp 16,3 miliar.
“Di sisi lain, Penerimaan Negara Bukan Pajak atau PNBP penerbitan Golden Visa juga telah mencapai lebih dari Rp 16,3 miliar. Hal ini menunjukkan bahwa kebijakan Golden Visa tidak hanya mendukung kemudahan investasi, tetapi juga memberikan kontribusi langsung terhadap penerimaan negara,” katanya.
Ia menjelaskan investasi tersebut masuk melalui berbagai kategori kuota. Mulai dari investor perusahaan, investor individu, second home, eks WNI, keturunan eks WNI, hingga kategori silver hair.
Hendarsam menegaskan program Golden Visa merupakan upaya pemerintah untuk mendorong investasi yang berkualitas. Program ini juga diharapkan dapat menguatkan daya saing RI di tingkat global.
“Direktorat Jenderal Imigrasi menghadirkan fasilitas keimigrasian yang kompetitif bagi investor, pelaku-pelaku usaha global, tokoh dunia, diaspora, dan talenta internasional melalui kebijakan Golden Visa. Kebijakan ini merupakan bentuk keberpihakan pemerintah dalam mendorong peningkatan investasi berkualitas, transfer pengetahuan, penciptaan lapangan kerja, serta penguatan daya saing Indonesia di tingkat global,” katanya.
Kendati membuka pintu lebar-lebar bagi modal asing, Hendarsam menegaskan bahwa proses seleksi tetap berjalan ketat. Pemerintah tidak akan mengorbankan kedaulatan dan keamanan demi aspek ekonomi semata.
“Kebijakan ini dirancang dengan prinsip selectivity yang tetap mengedepankan aspek keamanan negara dan kemanfaatan ekonomi serta keberlanjutan pembangunan nasional,” tegas Hendarsam.
Hendarsam menyadari keberhasilan implementasi Golden Visa tidak dapat dilakukan sendiri oleh Ditjen Imigrasi sehingga diperlukan sinergi dan kolaborasi lintas sektor, baik dengan kementerian, lembaga, pemerintah daerah, pelaku usaha, asosiasi, maupun masyarakat internasional.
Untuk itu melalui kegiatan sosialisasi, Hendarsam berharap seluruh pemangku kepentingan memperoleh pemahaman yang komprehensif mengenai kebijakan dan mekanisme Golden Visa tersebut, persyaratan dan fasilitas yang diberikan, peluang pemanfaatan bagi investor dan talenta global, serta pengawasan dan pengendalian yang dilakukan oleh pemerintah.
Ke depan, Ditjen Imigrasi berkomitmen untuk terus menghadirkan pelayanan keimigrasian yang modern, responsif, dan mendukung agenda strategis nasional, termasuk dalam menciptakan kemudahan berusaha dan peningkatan investasi.
“Semoga kegiatan sosialisasi ini dapat memberikan manfaat yang optimal dan semakin memperkuat sinergi dalam mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia yang inklusif, berkelanjutan, dan berdaya saing global,” pungkasnya.



