PETISI BRAWIJAYA MEDIA, JAKARTA – Danantara Indonesia Trust resmi meluncurkan tiga kemitraan strategis perdana di bidang kesehatan, pendidikan, dan literasi budaya sebagai bagian dari penguatan program filantropi serta pembangunan sosial berkelanjutan di Indonesia.
Peluncuran kemitraan tersebut ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Danantara Indonesia Trust dengan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Yayasan Karya Salemba Empat, dan Museum dan Cagar Budaya atau Indonesia Heritage Agency di Jakarta, Senin (25/5/2026).
CEO Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara sekaligus Pembina Danantara Indonesia Trust, Rosan Roeslani, mengatakan pembentukan Danantara Indonesia Trust merupakan langkah untuk memperluas kontribusi sosial lembaga tersebut di luar pengelolaan investasi dan aset negara.
“Danantara Indonesia didirikan bukan hanya untuk mengelola aset dan investasi negara, tetapi juga untuk berkontribusi pada kemajuan sosial Indonesia. Melalui Danantara Indonesia Trust, kami memperluas misi untuk memperkuat sumber daya manusia dan menjawab tantangan sosial, karena kami percaya, penciptaan nilai jangka panjang harus berjalan seiring dengan dampak nyata bagi masyarakat,” jelas Rosan, dalam keterangan tertulis, yang dikutip pada Selasa, 26 Mei 2026.
Ia mengatakan Danantara Indonesia Trust dibentuk untuk memperluas kontribusi sosial Danantara Indonesia di luar pengelolaan investasi dan aset negara.
Danantara Indonesia Trust telah memperoleh pendanaan awal sebesar US$ 100 juta atau sekitar Rp 1,77 triliun. Ke depan, Danantara Indonesia Trust ditargetkan menerima alokasi pendanaan filantropi minimal 1% dari total dividen badan usaha milik negara (BUMN) yang diterima Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara Indonesia) setiap tahun.
Menurut dia, Danantara Indonesia Trust akan berfokus pada sektor kesehatan, pendidikan, kebudayaan, serta air, sanitasi, dan higiene (water, sanitation, and hygiene/WASH).
Menurutnya, sejak didirikan pada Oktober 2025, Danantara Indonesia Trust berupaya membangun kolaborasi dengan mitra yang kredibel dan memiliki rekam jejak nyata dalam memberikan manfaat kepada masyarakat.
“Kami fokus pada tiga bidang utama, yaitu pendidikan termasuk kebudayaan, kesehatan, dan sanitasi. Kami ingin memberikan dampak yang besar terhadap bidang-bidang yang menurut kami memang dibutuhkan dan bisa dijadikan prioritas untuk program-program kami ke depan,” ujar Rosan.
Rosan menjelaskan Danantara Indonesia Trust tengah membangun model filantropi yang profesional, kredibel, dan relevan melalui kolaborasi dengan berbagai mitra nasional maupun internasional, termasuk kerja sama dengan Gates Foundation.
Ia berharap keberadaan Danantara Indonesia Trust diharapkan dapat menginspirasi lebih banyak lembaga filantropi untuk turut berkontribusi dalam pembangunan sosial dan kebudayaan Indonesia.
“Bagaimana kita membuat Danantara Trust ini menjadi satu filantropi yang kredibel, yang relevan, yang transparan dengan governance yang tinggi. Kami harapkan ini adalah awal. Kita akan lebih banyak menggandeng mitra-mitra partner lain lagi ke depannya,” ungkap Rosan.
1. Kemitraan dengan Kemenkes
Pada kemitraan perdananya, lembaga ini menyalurkan dukungan sekitar Rp 250 miliar atau setara 15 juta dolar AS untuk program kesehatan ibu dan anak melalui Kementerian Kesehatan (Kemenkes).
Danantara Indonesia Trust mendukung program kesehatan ibu dan anak melalui penyediaan vaksin heksavalen (hexavalent vaccine) untuk melindungi jutaan anak dari berbagai penyakit menular, penguatan rantai dingin (cold chain) vaksin, serta bantuan suplemen multiple micronutrient untuk membantu keselamatan ibu hamil dan ibu nifas guna membantu pencegahan stunting.
Menteri Kesehatan(Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengatakan, Indonesia masih menghadapi tantangan kesehatan dan gizi. Walaupun cakupan imunisasi dasar lengkap mencapai 80,2 persen pada 2025, masih terdapat hampir 960 ribu anak zero-dose yang belum menerima imunisasi sama sekali (WHO & UNICEF, 2026).
Menurut estimasi UN Inter-agency Group for Child Mortality, Angka Kematian Anak di Indonesia berhasil dikurangi dari sekitar 51 per 1.000 kelahiran hidup pada 2000, menjadi sekitar 17 per 1.000 kelahiran hidup pada 2024. Namun Angka Kematian Ibu masih berada di angka 189 per 100 ribu kelahiran hidup (BPS, 2020), yang menjadikannya salah satu yangbtertinggi di ASEAN.
Sementara itu, prevalensi stunting (kekurangan gizi kronis) berkurangbdari sekitar 37 persen di 2013 menjadi 19,8 persen di 2024, namun prevalensibwasting (kekurangan gizi akut) masih 7,4 persen (Survei Status Gizi Indonesia, 2024).
Ia mengatakan dukungan filantropi diperlukan untuk memperkuat pembiayaan kesehatan nasional dan dapat menjadi katalis untuk menarik pendanaan lain dari lembaga donor internasional.
2. Kemitraan dengan Karya Salemba Empat
Kerja sama ini mencakup program beasiswa selama tiga tahun bagi sekitar 500 mahasiswa kurang mampu di berbagai wilayah di Indonesia, yang meliputi pendampingan (mentoring), pengembangan kepemimpinan, dan program kesiapan karier.
Danantara Indonesia Trust menyebutkan bahwa program tersebut penting, mengingat sekitar seperlima pemuda Indonesia usia 15–24 tahun berstatus tidak sekolah, tidak bekerja, atau tidak mengikuti pelatihan (Not in Education, Employment or Training/NEET, Sakernas BPS, 2025). Di saat yang sama, sekitar 4,1 juta anak-anak dan remaja berusia 7-18 tahun juga dilaporkan tidak bersekolah.
3. Kemitraan dengan Museum dan Cagar Budaya
Di bidang budaya, Danantara Indonesia Trust menjalin kerja sama dengan Museum dan Cagar Budaya untuk pengembangan Perpustakaan Danantara Indonesia Trust di Museum Nasional yang dirancang untuk meningkatkan akses publik terhadap pengetahuan budaya.
Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon mengapresiasi Danantara Indonesia Trust atas upayanya dalam mendukung pengembangan infrastruktur kebudayaan nasional melalui revitalisasi Museum Nasional Indonesia. Menurutnya, kolaborasi lintas sektor menjadi kunci penting dalam memajukan kebudayaan Indonesia ke depan.
“Sejak hadirnya Kementerian Kebudayaan sebagai kementerian yang berdiri sendiri, kami juga membentuk Dewan Penyantun Museum dan Cagar Budaya sebagai bagian dari upaya melibatkan semakin banyak pemangku kepentingan, terutama dari sektor swasta, untuk bersama-sama memajukan kebudayaan nasional,” ujar Fadli.
Fadli menegaskan Indonesia memiliki kekayaan budaya yang besar dan beragam atau cultural megadiversity yang berpotensi menjadi fondasi ekonomi dan industri budaya nasional di masa depan.
Namun, menurutnya, potensi tersebut hanya dapat berkembang melalui kolaborasi kuat antara pemerintah, dunia usaha, lembaga filantropi, dan masyarakat. Karena itu, dukungan dari berbagai pihak, termasuk Danantara Indonesia Trust dan lembaga filantropi lainnya, menjadi penting untuk memperkuat posisi kebudayaan Indonesia di tingkat global.
“Kita berharap dengan adanya Danantara Indonesia Trust dapat membangun kepercayaan dan mendorong semakin banyak filantropis untuk ikut memajukan kebudayaan nasional kita,” tambah Fadli.
Hadirnya revitalisasi Museum Nasional Indonesia juga diharapkan dapat memperkuat peran museum sebagai pusat literasi budaya, ruang publik yang inklusif, serta destinasi edukasi dan kebudayaan yang mampu menjangkau masyarakat luas, baik nasional maupun internasional.
Dengan mengintegrasikan pendidikan dan budaya, inisiatif ini berpotensi memberikan dampak jangka panjang terhadap literasi budaya.
“Setiap kemitraan yang diumumkan hari ini dipilih untuk menjawab kebutuhan pembangunan paling mendesak di Indonesia, seperti kesehatan ibu dan anak, akses terhadap pendidikan berkualitas serta literasi budaya. Melalui kolaborasi ini, program-program tersebut akanbmenjadi fondasi DIT sebagai platform yang memobilisasi aksi kolektif, mendorong solusi berskala besar, dan menghadirkan dampak nyata di seluruh Indonesia,” tambah Ketua Yayasan Danantara Indonesia Trust, Nuraini Razak.
Ke depannya, Danantara Indonesia Trust akan berfokus pada pengembangan programprogram catalytic lainnya, penguatan kemitraan dengan institusi global, serta perluasan peluang pendanaan bersama (co-funding) guna memaksimalkan dampak dari sumber daya yang dimiliki.



