PETISI BRAWIJAYA MEDIA, JAKARTA – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan bahwa Indonesia masih menjadi salah satu tujuan investasi yang menarik di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi global akibat gejolak geopolitik dan dinamika rantai pasok dunia.
Menurut Airlangga, meskipun kondisi global saat ini penuh ketidakpastian dan membuat investor cenderung lebih berhati-hati dalam menempatkan modal, Indonesia tetap mampu menjaga daya tarik investasinya melalui stabilitas ekonomi makro dan prospek pertumbuhan yang solid.
“Perdamaian selalu membuat hasil positif terhadap global outlook, terhadap perekonomian global. Dan yang kedua juga akan memperbaiki supply chain. Jadi dua hal itu sangat berpengaruh terhadap ekonomi Indonesia,” ujar Airlangga dalam keterangan resmi di Jakarta, Rabu (24/6/2026).
Airlangga menjelaskan bahwa kawasan Indo-Pasifik masih dipandang sebagai salah satu wilayah yang relatif aman dan prospektif bagi investasi global.
Pertumbuhan ekonomi negara-negara ASEAN yang masih berada di atas 4 persen menjadi salah satu penopang utama optimisme tersebut.
Selain itu, dukungan stabilitas dari negara-negara besar seperti China, Jepang, Korea Selatan, Australia, dan Selandia Baru turut memperkuat kepercayaan investor terhadap posisi kawasan tersebut sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru.
Di dalam negeri, berbagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) dilaporkan terus menunjukkan kinerja positif dengan tingkat keterisian tinggi. Bahkan, sejumlah kawasan mulai melakukan ekspansi untuk mengantisipasi pergeseran rantai pasok global.
Koordinasi fiskal dan moneter diperkuat
Untuk menjaga momentum tersebut, pemerintah terus memperkuat sinergi antara kebijakan fiskal dan moneter, termasuk kerja sama erat dengan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah serta likuiditas pasar keuangan agar tetap kompetitif di mata investor.
Airlangga menilai, kebijakan Bank Indonesia dalam menjaga daya tarik instrumen keuangan berbasis rupiah menjadi salah satu kunci untuk menekan potensi arus modal keluar (capital outflow) sekaligus mendorong masuknya investasi berkualitas ke Indonesia.
“Koordinasi fiskal dan moneter berjalan sangat baik. Kami secara rutin memantau likuiditas perbankan, penyaluran kredit, serta kondisi pasar keuangan,” katanya.
Aksesi OECD dan perluasan akses pasar
Selain menjaga stabilitas domestik, pemerintah juga terus memperluas akses pasar dan investasi melalui berbagai kerja sama internasional. Salah satunya adalah proses aksesi Indonesia menuju Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD).
Keanggotaan OECD diharapkan dapat meningkatkan kualitas regulasi nasional, memperkuat kepercayaan investor global, serta membuka akses ke pasar global dengan nilai ekonomi mencapai sekitar 64 triliun dolar AS.
Indonesia juga mendorong kerja sama ekonomi melalui berbagai perjanjian internasional lain untuk memperkuat posisi dalam rantai pasok global.



