PETISI BRAWIJAYA MEDIA, JAKARTA -Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO) kembali menyoroti polemik rencana impor besar-besaran mobil pick-up dari India oleh PT Agrinas Pangan Nusantara untuk program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP). Menurut asosiasi industri otomotif itu, keputusan membeli kendaraancompletely built-up (CBU) dari negara luar dinilai kontraproduktif terhadap upaya perbaikan industri otomotif dalam negeri.
Sebagai informasi, PT Agrinas Pangan Nusantara berencana menggunakan pickup dari India untuk mendukung operasional Koperasi Merah Putih. Total ada 105.000 unit kendaraan pikap yang akan diimpor dari Negeri Bollywood tersebut.
Mobil-mobil pick-up merek Mahindra dan Tata Motors dari India ini akan digunakan oleh PT Agrinas Palma Nusantara untuk mobilitas di area pedesaan Indonesia.
Kegiatan penting itu jelas menjadi sorotan dan sudah memicu pro-kontra luas di dalam negeri sejak diumumkan akhir Februari 2026, karena industri otomotif dalam negeri memiliki kemampuan untuk memproduksi pickup dengan kandungan lokal.
Pernyataan keras tersebut datang dari Ketua Umum GAIKINDO, Putu Juli Ardika, yang menekankan bahwa saat ini, Indonesia sudah memiliki puluhan perusahaan otomotif yang memproduksi mobil pick-up. Industri otomotif Indonesia sejatinya memiliki kemampuan produksi kendaraan niaga untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
“Sebenarnya anggota Gaikindo dan juga industri-industri pendukungnya, diantaranya industri komponen otomotif yang tergabung dalam GIAMM mempunyai kapasitas produksi untuk memenuhi kebutuhan tersebut, namun memang diperlukan waktu yang mampu agar jumlah dan kriterianya dapat terpenuhi,” kata Ketua Umum Gaikindo Putu Juli Ardika dalam siaran pers
pada Senin, 23 Februari 2026 lalu.
Saat ini GAIKINDO memiliki 61 perusahaan anggota. Untuk segmen pick-up kelas menengah ke bawah, produksi dilakukan antara lain oleh PT Suzuki Indomobil Motor, PT Isuzu Astra Motor Indonesia, PT Krama Yudha Tiga Berlian Motor, PT SGMW Motor Indonesia (Wuling Motors), PT Sokonindo Automobile (DFSK), PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN), dan PT Astra Daihatsu Motor.
Secara total, kapasitas produksi pick-up nasional mencapai lebih dari 400.000 unit per tahun. GAIKINDO meyakini angka tersebut cukup untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik tanpa harus mengandalkan produk impor.
Menurut GAIKINDO, memprioritaskan produk impor CBU dari India tidak hanya menghilangkan peluang besar bagi industri lokal, tetapi juga menghancurkan rantai nilai yang telah dibangun selama puluhan tahun, mulai dari pabrikan, pemasok komponen, hingga jaringan purna jual.
Di sisi lain, industri otomotif dalam negeri lagi lesu-lesunya. Kegiatan impor justru bisa bikin pasar makin lesu.
Sebelumnya, Gabungan Industri Alat-alat Mobil dan Motor (GIAMM), juga turut menyuarakan penolakan terhadap rencana impor sekitar 105 ribu unit mobil pikap secara utuh (completely built up, CBU). GIAMM menyoroti impor pick-up yang merugikan komponen industri dalam negeri.
“Dampaknya cukup besar. Jumlah 105 ribu unit itu sama dengan setengah dari penjualan satu tahun kendaraan komersial di Indonesia,” kata Rachmat Basuki, Sekretaris Jenderal GIAMM, Jumat 20 Februari 2026.
Industri otomotif memiliki rantai pasok panjang dari hulu ke hilir. Satu unit kendaraan terdiri dari lebih 20.000 komponen yang melibatkan ribuan perusahaan, termasuk Industri Kecil dan Menengah (IKM), serta menyerap sekitar 1,5 juta tenaga kerja melalui keterkaitan industri backward dan forward linkage.
Langkah impor ribuan unit mobil pick-up tersebut juga berpotensi memicu dampak negatif bagi pertumbuhan ekonomi serta serapan tenaga kerja yang erat dengan komponen industri.
Paling tidak, pesan dari dalam negeri. Jangan impor terus, kata Rachmat.
Oleh karena itu, GAIKINDO bersama dengan GIAMM meminta pemerintah memberi prioritas pada produksi dalam negeri guna menjaga keinginan industri dan tenaga kerja nasional.




