PETISI BRAWIJAYA MEDIA, JAKARTA – Pemerintah Indonesia dan Jepang memperkuat hubungan bilateral melalui diplomasi hijau dengan menandatangani kerja sama konservasi keanekaragaman hayati melalui skema breeding loan komodo. Kesepakatan ini dinilai tidak hanya memperkuat posisi diplomasi lingkungan Indonesia, tetapi juga membuka peluang ekonomi berbasis konservasi dan edukasi global.
Kesepakatan tersebut diwujudkan melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Menteri Kehutanan (Menhut) RI Raja Juli Antoni dan Gubernur Prefektur Shizuoka, Yasutomo Suzuki, di Shizuoka, Jepang. Kerja sama ini berfokus pada program breeding loan atau peminjaman satwa untuk pengembangbiakan komodo (Varanus komodoensis) sebagai bagian dari upaya perlindungan spesies langka.
Menhut Raja Juli menegaskan bahwa kerja sama ini merupakan bagian dari strategi “green diplomacy” Indonesia di tingkat global. Selain mempererat hubungan kedua negara, program ini juga bertujuan meningkatkan upaya konservasi satwa langka melalui kolaborasi lintas negara dalam menjaga warisan biodiversitas dunia.
“Kerja sama ini menjadi tonggak penting dalam memperkuat diplomasi konservasi Indonesia di tingkat global, sekaligus mendorong peningkatan upaya pelestarian satwa langka melalui pendekatan kolaboratif antara lembaga konservasi kedua pihak,” ujar Raja Juli melalui keterangan pers, Senin (30/3/2026).
Program breeding loan memungkinkan komodo ditempatkan di lembaga konservasi Jepang, seperti iZoo di Prefektur Shizuoka, dengan pengawasan ketat dan mengikuti standar internasional, termasuk ketentuan Convention on International Trade in Endangered Species (CITES).
Selain aspek konservasi, kerja sama ini juga memiliki nilai edukatif dan diplomatik. Kehadiran komodo di Jepang diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat internasional terhadap pentingnya pelestarian satwa langka serta memperkenalkan kekayaan hayati Indonesia ke dunia.
Pemerintah Indonesia juga berharap program ini dapat mendorong minat wisatawan mancanegara untuk mengunjungi habitat asli komodo di Nusa Tenggara Timur, sekaligus memperkuat sektor ekowisata nasional.
“Indonesia adalah salah satu negara tropis terbesar di dunia, memiliki hutan yang sangat luas dan memiliki kekayaan biodiversity yang sangat luar biasa tidak tergantikan di dunia ini. Komodo adalah salah satu binatang flagship yang ada di Indonesia, di antara banyak satwa-satwa lain di Indonesia seperti gajah, harimau, dan lain sebagainya,” katanya.
Selain konservasi satwa, kedua negara juga menjajaki kolaborasi pengelolaan taman nasional melalui skema “sister park” serta pertukaran pengetahuan terkait pengelolaan kawasan konservasi.
“Saya berharap ke depan kita bisa berbincang tentang kemungkinan untuk menjadikan Gunung Fuji dengan gunung yang lain yang ada di Indonesia sebagai sister park,” katanya.
Pemerintah menekankan bahwa seluruh tahapan pelaksanaan akan mengikuti regulasi nasional dan standar global. Hal ini penting untuk menjaga kredibilitas Indonesia dalam pengelolaan satwa dilindungi di kancah internasional.
Sementara itu, Gubernur Shizuoka Suzuki Yasutomo mengaku senang dan bangga dapat bekerja sama dengan Kementerian Kehutanan (Kemenhut) RI.
Ia juga memastikan Jepang akan berkontribusi untuk kelestarian Komodo dengan pengembangbiakan.
“Karena komodo merupakan satwa liar yang terancam punah, kami sangat senang dapat berkontribusi untuk mengembangbiakkan komodo. Kami berharap kerjasama ini dapat berjalan dengan lancar,” kata Suzuki.
Penandatanganan MoU ini menjadi salah satu program memperkuat hubungan Indonesia-Jepang dalam rangkaian kunjungan kenegaraan Presiden Prabowo Subianto ke Jepang, yang bertujuan memperkuat kerja sama strategis di berbagai sektor, termasuk lingkungan dan investasi.
Dalam kunjungan tersebut, Presiden Prabowo juga melakukan pertemuan dengan Kaisar Naruhito dan Perdana Menteri Sanae Takaichi guna mempererat hubungan bilateral antara kedua negara.




