PETISI BRAWIJAYA MEDIA, JAKARTA – Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Industropolis Batang, Jawa Tengah, terus mempercepat pengembangan infrastruktur strategis dengan menyiapkan pembangunan pelabuhan daratan (dry port), guna memperkuat konektivitas logistik kawasan industri tersebut.
Direktur Utama Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB), Ngurah Wirawan, menyatakan bahwa pembangunan dry port menjadi bagian penting dalam mendukung efisiensi distribusi barang, sekaligus meningkatkan daya saing kawasan di tingkat nasional maupun global.
“Pembangunan pelabuhan daratan ini akan terintegrasi dengan sistem logistik kawasan dan segera memasuki tahap peletakan batu pertama,” ujarnya.
Pengembangan dry port tersebut dirancang terintegrasi dengan konsep Transit Oriented Development (TOD) di atas lahan sekitar 50 hektare. Proyek ini juga akan dikerjakan melalui kolaborasi dengan PT Kereta Api Indonesia (KAI) dan Pelindo untuk mengoptimalkan distribusi berbasis rel menuju pelabuhan utama.
Dengan adanya fasilitas ini, distribusi logistik dari kawasan industri diharapkan dapat beralih dari dominasi angkutan truk ke moda transportasi kereta api yang lebih efisien dan ramah lingkungan. Selain itu, konektivitas ke pelabuhan besar seperti Tanjung Priok dan Tanjung Perak akan semakin terintegrasi.
Pembangunan dry port merupakan bagian dari transformasi KEK Industropolis Batang yang tidak hanya difokuskan sebagai kawasan industri, tetapi juga dikembangkan menjadi kota terpadu yang mendukung aktivitas hunian, bisnis, dan pariwisata.
Lebih jauh, KITB juga tengah mengkaji pengembangan waterfront city sebagai bagian dari penguatan kawasan pesisir. Proyek ini akan dilengkapi dengan pembangunan pulau buatan untuk melindungi pelabuhan dari gelombang laut, sebagai alternatif dari pembangunan breakwater konvensional.
“Kami sedang mengajukan izin untuk proyek reklamasi guna membangun dua pulau baru sebagai pelindung pelabuhan di masa depan,” tegasnya.
Selain infrastruktur logistik, pengelola kawasan juga tengah merancang sejumlah proyek pendukung lainnya, seperti pengembangan kawasan hunian pekerja, hingga pengembangan destinasi wisata terpadu.
KITB merencanakan pembangunan kawasan komersial dan pariwisata di sisi barat kawasan. Fasilitas yang akan dibangun meliputi hotel, pusat perbelanjaan, bioskop, hingga sarana rekreasi seperti taman hiburan, lapangan golf, dan arena pacuan kuda.
“Batang bukan sekadar kawasan industri, tetapi kami rancang sebagai kota yang lengkap, tempat orang bisa tinggal dan beraktivitas. Sejalan dengan itu, pemerintah juga merencanakan pengembangan sektor pariwisata di kawasan tersebut, termasuk pembangunan lapangan golf 27 lubang yang ditargetkan dapat beroperasi dalam tiga hingga empat tahun ke depan,” jelasnya.
Melalui pengembangan terpadu ini, KEK Industropolis Batang diharapkan tidak hanya menjadi pusat industri nasional, tetapi juga kawasan modern yang mampu mendukung pertumbuhan ekonomi sekaligus meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
Sebagai informasi, perkembangan kawasan industri menunjukkan tren positif. Hingga akhir tahun 2025, tercatat sebanyak 39 Perjanjian Pemanfaatan Tanah Industri (PPTI) telah ditandatangani. Saat ini, 12 pabrik telah beroperasi dan sekitar 20 pabrik lainnya masih dalam tahap konstruksi.
Pengembangan kawasan ini diproyeksikan mampu membuka sekitar 3.000 hingga 4.000 lapangan kerja baru setiap tahunnya. Pengembangan kawasan juga telah memasuki fase kedua, sekitar 200 hektar lahan industri telah terjual.



