PETISI BRAWIJAYA MEDIA, JAKARTA – Nilai tukar rupiah kembali mencatat pelemahan signifikan pada penutupan perdagangan Jumat (17/4/2026). Mata uang Garuda ditutup di level Rp17.189 per dolar Amerika Serikat (AS), sekaligus menjadi salah satu posisi terlemah sepanjang sejarah. Ini membuat rupiah melemah 0,29% dibanding penutupan hari sebelumnya yang berada di Rp 17.139 per dolar AS.
Berdasarkan data pasar, rupiah bahkan sempat menyentuh level lebih dalam di kisaran Rp17.194 per dolar AS pada pukul 14.19 WIB sebelum akhirnya ditutup sedikit lebih tinggi di akhir perdagangan.
Pelemahan rupiah pada hari ini memperpanjang tren depresiasi yang telah terjadi sejak awal April 2026. Dalam beberapa pekan terakhir, nilai tukar rupiah terus bergerak melemah dari kisaran Rp17.000 hingga menembus rekor baru.
Hingga pukul 15.00 WIB, mayoritas mata uang di Asia melemah. Di mana, baht Thailand menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam di Asia setelah anjlok 0,33%.
Selanjutnya ada won Korea Selatan yang ambles 0,17% dan dolar Taiwan yang ditutup tertekan 0,13%. Disusul, peso Filipina yang ditutup turun 0,1%.
Berikutnya, ringgit Malaysia terkoreksi 0,08%. Lalu, yen Jepang dan yuan China sama-sama tergelincir 0,07%.
Kemudian ada dolar Hong Kong yang turun 0,05% serta dolar Singapura yang bergerak tipis dengan kecenderungan melemah di sore ini.
Berbeda dengan tren regional, rupee India menjadi satu-satunya mata uang di Asia yang mampu melawan arus penguatan dolar AS. Rupee India dilaporkan melonjak 0,44 persen terhadap the greenback di tengah pelemahan massal mata uang negara tetangga.
Analis Doo Financial Futures Lukman Leong memperkirakan rupiah akan bergerak nyaris datar dengan kecenderungan melemah tipis. Sentimen pasar dinilai belum cukup kuat untuk mendorong penguatan signifikan, meskipun tekanan terhadap dolar AS mulai mereda.
Analis pasar menilai tekanan terhadap rupiah masih kuat, seiring meningkatnya ketidakpastian global dan minimnya sentimen positif dari dalam negeri.
Selain itu, pelaku pasar cenderung mengambil sikap “wait and see” terhadap perkembangan global, terutama terkait dinamika geopolitik dan kebijakan moneter Amerika Serikat.
Disisi lain, perhatian pelaku pasar kini tertuju pada kelanjutan perundingan antara Iran dan Amerika Serikat yang dijadwalkan memasuki babak kedua pada akhir pekan ini. Ketidakpastian hasil negosiasi tersebut turut menahan minat investor untuk masuk ke aset berisiko, termasuk rupiah.
Dengan berbagai sentimen tersebut, pergerakan rupiah dalam waktu dekat diperkirakan masih akan terbatas dan cenderung tertekan, dengan kisaran di level Rp17.100 hingga Rp17.200 per dolar AS pada perdagangan hari ini.



