27.1 C
Jakarta
Wednesday, May 6, 2026
spot_img

Kolaborasi RI–Korsel di Bidang Militer Dinilai Strategis, Pakar Soroti Dampak Besar bagi Industri Pertahanan

PETISI BRAWIJAYA MEDIA, JAKARTA – Kerja sama militer antara Indonesia dan Korea Selatan (Korsel) dinilai memberikan berbagai keuntungan strategis bagi Indonesia, mulai dari akses teknologi hingga penguatan industri pertahanan nasional.

Pakar pertahanan dan hubungan internasional dari Universitas Bina Nusantara, Curie Maharani, menyebut kemitraan kedua negara memiliki nilai penting di tengah dinamika geopolitik kawasan Indo-Pasifik yang semakin kompleks.

Menurut Curie, salah satu manfaat utama yang diperoleh Indonesia adalah akses terhadap teknologi pertahanan berstandar Barat melalui Korea Selatan. Hal ini dinilai dapat meningkatkan kualitas alat utama sistem senjata (alutsista) sekaligus kapasitas sumber daya manusia (SDM) di sektor pertahanan.

Selain itu, Korea Selatan yang kini berkembang sebagai salah satu kekuatan baru dalam industri pertahanan global membutuhkan rantai pasok yang kompetitif. Dalam konteks ini, Indonesia memiliki peluang untuk terlibat dalam ekosistem produksi, logistik, hingga distribusi industri pertahanan tersebut.

‘’Meski Indonesia dan Korsel sama-sama bukan negara inovator teknologi pertahanan, Korsel bernilai strategis bagi Indonesia sebagai penyuplai, pemandu utama, dan kolaborator norma,’’ kata Curie saat acara pembukaan Lomba Menulis yang diselenggarakan Indonesia Strategic and Defence Studies (ISDS) bertema ‘’Kemitraan Strategis RI-Korsel 2026: Pertahanan, AI, dan Pengembangan SDM’’ seperti dikutip siaran pers resmi yang diterima di Jakarta, Jumat, (24/2/2026).

Kerja sama ini juga membuka peluang kolaborasi dalam pengembangan teknologi masa depan, khususnya kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) untuk sektor militer. Curie menilai sinergi ini penting mengingat AI akan menjadi komponen utama dalam sistem pertahanan modern.

Salah satu contoh konkret kerja sama strategis kedua negara adalah pengembangan pesawat tempur KF-21 Boramae. Proyek ini dinilai berkontribusi terhadap upaya kemandirian industri pertahanan Indonesia, meski manfaatnya perlu disesuaikan dengan perkembangan terbaru dan dinamika pembiayaan.

‘Pengembangan KF-21 tetap strategis meski mungkin manfaat yang akan didapat tidak sama seperti yang diperhitungkan di awal,” kata dia.

“Harapannya, penambahan mitra baru dalam pengembangan versi lanjutan KF-21 akan mengurangi cost share dan risiko kegagalan yang ditanggung kedua negara,” lanjutnya.

Curie pun merinci beberapa keuntungan yang akan didapat Indonesia dari kerja sama ini. Pertama, sebagai sumber akses bagi Indonesia untuk mendapatkan teknologi standar Barat dari tangan kedua.

“Dengan demikian, Indonesia mempunyai kesempatan untuk meningkatkan kualitas teknologi alat utama sistem senjata (alutsista) berikut SDM-nya,” ujarnya.

Kedua, kata Cure, Korsel sebagai raksasa baru industri pertahanan dunia dengan konsumen global, membutuhkan rantai suplai berdaya saing yang memungkinkan diisi oleh Indonesia.

Ketiga, Curie juga menekankan pentingnya fokus bersama Indonesia dan Korea Selatan dalam pengembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) di sektor pertahanan, yang dinilai akan menjadi masa depan sistem militer modern.

“Indonesia perlu menyusun strategi yang tepat untuk memaksimalkan potensi kemitraan dengan Korsel tersebut,” ujarnya.

Dia menilai AI dan keamanan siber kini menjadi variabel utama dalam menentukan kekuatan nasional suatu negara. Teknologi tersebut tidak hanya memperkuat kemampuan militer, tetapi juga menjadi fondasi daya saing ekonomi.

Pengalaman konflik modern, seperti perang di Ukraina dan Gaza, menunjukkan bahwa AI dan sistem siber memberikan keunggulan dalam pengumpulan data, analisis cepat, serta perluasan cakupan target operasi militer. Pada akhirnya, lanjut Curie, kemitraan yang disepakati harus diimplementasikan oleh manusia.

‘’Ada banyak faktor yang memengaruhi sukses/gagalnya. Bukan hanya meniscayakan keahlian dan pengetahuan SDM untuk menjembatani kolaborasi dan alih teknologi, tetapi juga rasa saling percaya dan memahami budaya kerja masing-masing bangsa. Inilah kenapa pertukaran budaya dan pengembangan SDM menjadi strategis,’’ jelasnya.

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

1,459FollowersFollow
7,451FollowersFollow
7,700SubscribersSubscribe
- Advertisement -spot_img

Latest Articles