PETISI BRAWIJAYA MEDIA, JAKARTA – Kinerja sektor industri pengolahan nasional masih menunjukkan tren positif. Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat Indeks Kepercayaan Industri (IKI) pada April 2026 berada di level 51,75, yang menandakan industri tetap berada dalam fase ekspansi.
Meski melambat tipis 0,11 poin dibandingkan bulan sebelumnya yang berada di posisi 51,86, Namun, angka IKI yang tetap berada di atas ambang batas 50 menunjukkan aktivitas industri manufaktur masih tumbuh.
Juru Bicara Kemenperin, Febri Hendri Antoni Arief, menjelaskan bahwa kondisi ini mencerminkan ketahanan sektor industri di tengah berbagai tekanan global yang masih berlangsung.
Juru Bicara Kementerian Perindustrian Febri Hendri Arief mengatakan, tekanan global mulai terasa di beberapa subsektor.
“Dampak krisis energi akibat gejolak geopolitik saat ini sudah sama-sama kita ketahui, yakni memengaruhi sejumlah subsektor tertentu, seperti industri kimia dan sektor industri hilir lainnya, termasuk tekstil,” ujar Febri saat rilis IKI April 2026 di Jakarta, Rabu (29/4/2026).
Meskipun secara agregat ekspansi masih terjadi, tingkat kepercayaan pelaku usaha terhadap masa depan usahanya justru menampakkan pelemahan.
Febri mengungkapkan bahwa proporsi pelaku industri yang merasakan kondisi usahanya memburuk kini naik menjadi 27,6 persen.
Sementara itu, sebanyak 72,5 persen responden mengaku kegiatan usahanya membaik atau stabil, dengan rincian 30,8 persen membaik dan 41,7 persen stabil.
Lebih lanjut, angka optimisme untuk enam bulan ke depan juga ikut tergerus.
“Tingkat optimisme pelaku usaha terhadap kondisi usahanya enam bulan ke depan sebesar 70,1 persen, ini melambat 1,7 persen dibandingkan bulan sebelumnya,” kata Febri.
Dari sisi komponen pembentuk IKI, perlambatan terlihat paling nyata pada indikator pesanan baru yang turun menjadi 51,43, dan produksi yang melemah ke angka 51,34. Sebaliknya, indikator persediaan melonjak menjadi 53,13, dengan indikasi adanya penumpukan stok di tengah permintaan yang mulai turun.
Sementara itu, industri lokal mencatatkan peningkatan IKI hingga 50,90.
“Ini menunjukkan bahwa pasar domestik masih cukup kuat menopang industri di tengah tekanan global,” ucap Febri.
Febri mendorong pelaku usaha memanfaatkan dinamika geopolitik untuk genjot ekspor, terutama sektor yang pesanan naik pada April. Di antaranya: industri pengolahan tembakau, pakaian jadi, kertas dan barang dari kertas, farmasi dan obat tradisional, barang logam dan mesin, komputer-barang elektronik-optik, serta peralatan listrik.
Sementara subsektor yang kontraksi antara lain industri minuman, tekstil, kayu dan barang dari kayu, bahan kimia, barang galian bukan logam, barang logam, serta alat angkutan lainnya.
Sebaliknya, kata Febri, industri tekstil masih mengalami kontraksi akibat kendala bahan baku petrokimia
“Industri tekstil mengalami kontraksi karena masalah bahan baku yang berasal dari petrokimia, sedangkan industri pakaian justru meningkat, karena akses bahan baku yang lebih mudah di kawasan berikat. Kami berharap arus produk ke pasar domestik dapat diatur lebih baik agar industri tekstil kembali pulih,” tambah Febri.
Bantah Isu Deindustrialisasi Dini
Menanggapi isu deindustrialisasi, Febri menegaskan bahwa manufaktur Indonesia tidak mengalami gejala tersebut. Ia menjelaskan adanya perbedaan metodologi perhitungan PDB sebelum dan sesudah tahun 2009 yang sering disalahpahami oleh pengamat.
“Tidak apple-to-apple jika membandingkan kontribusi PDB industri sebelum dan sesudah 2009 karena adanya perubahan konsep dan definisi. Namun, jika melihat periode Q2 2022 hingga Q4 2025, kontribusi PDB industri terhadap nasional terus menunjukkan tren positif,” tegasnya.
Data menunjukkan kontribusi industri pengolahan terhadap PDB pada tahun 2025 mencapai 19,07%. Pertumbuhan ini didorong oleh kebijakan hilirisasi yang efektif serta penguatan konsumsi domestik.
Selain itu, serapan tenaga kerja di sektor ini tetap stabil di angka 21,6 juta orang tanpa ada pergeseran (shifting) massal ke sektor lain.
“Tren positif kontribusi industri terhadap ekonomi nasional ini membuktikan bahwa manufaktur kita tetap kuat di bawah kepemimpinan Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita,” pungkas Febri.



