PETISI BRAWIJAYA MEDIA, JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil bangkit dan berbalik menguat pada perdagangan Rabu pagi, 20 Mei 2026. Setelah sebelumnya mengalami tekanan tajam dalam beberapa hari terakhir, IHSG melesat hampir 1 persen ke level 6.430,97 jelang pidato Presiden Prabowo Subianto di rapat paripurna DPR RI pagi ini. Pidato tersebut dinilai krusial lantaran datang saat IHSG dan rupiah tengah tertekan.
Sebelumnya, pada penutupan perdagangan Selasa (19/5/2026), IHSG anjlok 3,46% atau 228,560 poin ke level 6.370,679. Sementara nilai tukar rupiah di pasar spot melemah 0,22% ke posisi Rp 17.706 per dolar AS.
Kemudian indeks komposit melorot ke level 6.352 pada pembukaan perdagangan hari ini. Namun belakangan, IHSG berbalik arah dengan menguat 1,37% ke zona hijau 6.547 pada pukul 10.00 WIB. Indeks komposit sempat menyentuh level tertinggi 6.458.
Total saham yang diperdagangkan sebanyak 9.46 miliar, dengan nilai transaksi mencapai Rp5,34 triliun, serta ditransaksikan sebanyak 680.324 kali.
Sementara itu, sebanyak 399 saham harganya mengalami kenaikan. Tak hanya itu, mayoritas sektor juga menguat dipimpin oleh sektor konsumer non siklikal, industri dan kesehatan.
Kondisi itu membuat pelaku pasar menanti sinyal arah kebijakan pemerintah, terutama terkait stabilitas ekonomi, disiplin fiskal, hingga langkah menjaga kepercayaan investor.
Oleh karena itu, pidato Prabowo hari ini menjadi perhatian pelaku pasar karena untuk pertama kalinya penyampaian kerangka fiskal tersebut dilakukan langsung oleh presiden, bukan oleh Menteri Keuangan seperti sebelumnya.
Sejumlah pelaku pasar juga menanti kemungkinan pengumuman kebijakan strategis, yang juga menjadi sorotan yakni pembentukan badan khusus untuk pengelolaan ekspor komoditas.
Pelaku pasar disebut-sebut merespons negatif rencana pemerintah mendirikan badan khusus bentukan negara untuk mengatur pengapalan komoditas strategis melalui sistem satu pintu.
Adapun, sejumlah komoditas yang dirumorkan akan diatur di antaranya batu bara, CPO hingga mineral logam. Hal tersebut menimbulkan kekhawatiran investor bahwa akan ada potensi pengendalian harga jual yang dapat berdampak pada penurunan margin laba perusahaan.
Agenda kedua yang juga dinanti para pelaku pasar adalah hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) hari ini, yang akan mengumumkan keputusan suku bunga acuan (BI Rate).
Tekanan yang kian berat terhadap nilai tukar rupiah, ditambah meningkatnya risiko eksternal, membuat ruang BI untuk tetap menahan suku bunga semakin sempit.
Pada RDG terakhir di April 2026, BI kembali mempertahankan BI Rate di level 4,75%. Suku bunga Deposit Facility juga tetap sebesar 3,75%, sementara Lending Facility dipertahankan di 5,50%.
Keputusan tersebut menjadi kali ketujuh BI menahan suku bunga acuannya secara berturut-turut.
Jika hasil RDG kali ini sesuai dengan mayoritas konsensus, maka ini akan menjadi kenaikan suku bunga pertama dalam dua tahun terakhir. Terakhir kali BI menaikkan suku bunga terjadi pada April 2024, saat bank sentral mengerek BI Rate sebesar 25 basis poin dari 6,00% menjadi 6,25%.
Tekanan terhadap rupiah menjadi salah satu alasan utama pasar mulai memperhitungkan peluang kenaikan suku bunga.
Mata uang Garuda terus mencetak level terlemah baru terhadap dolar AS, sementara gejolak eksternal dari perang AS-Iran masih membuat ketidakpastian global tinggi dan menahan harga energi dunia di level yang mahal.
Kondisi tersebut meningkatkan risiko imported inflation, terutama jika harga minyak terus bertahan tinggi dan rupiah tetap lemah. Di sisi lain, tekanan terhadap pasar keuangan domestik juga masih terlihat dari pergerakan IHSG dan yield SBN.
Sebagian ekonom mulai membuka kemungkinan kenaikan suku bunga apabila tekanan rupiah terus memburuk dan capital outflow semakin besar. Bahkan, salah satu ekonom memproyeksikan BI Rate bisa naik ke posisi 5,25% jika tekanan terhadap rupiah makin tak terbendung.
Kini, pasar menunggu bagaimana arah kebijakan ekonomi Prabowo untuk 2027 di tengah gejolak pasar dan tekanan eksternal yang masih membayangi ekonomi nasional.



