PETISI BRAWIJAYA MEDIA, JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali mengalami tekanan tajam dan menyentuh level psikologis Rp17.600 pada perdagangan Jumat (15/5/2026). Pelemahan ini menjadi salah satu titik terendah rupiah sepanjang sejarah di tengah meningkatnya tekanan global dan sentimen pasar internasional.
Berdasarkan data Bloomberg pada perdagangan pagi ini pukul 09.23 WIB, rupiah berada di level Rp 17.613 per dolar AS atau melemah 0,48% dibandingkan penutupan sehari sebelumnya di posisi Rp 17.529 per dolar AS.
Pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) disinyalir masih terdampak oleh kondisi geopolitik global. Perang yang memanas antara AS dan Iran di Timur Tengah terus menguatkan indeks dolar AS.
Tak hanya rupiah, Yen Jepang juga menjadi salah satu mata uang yang ikut tertekan. USD/JPY tercatat turun 0,10% ke level 158,53. Dolar Singapura juga melemah dengan USD/SGD menguat 0,13% ke posisi 1,27.
Tekanan serupa terjadi pada dolar Taiwan yang turun 0,09% dengan kurs USD/TWD berada di level 31,536. Won Korea Selatan bahkan melemah lebih dalam setelah USD/KRW turun 0,47% ke posisi 1.499,22.
Sementara itu, peso Filipina tercatat turun 0,13% terhadap dolar AS dengan USD/PHP berada di level 61,72. Rupee India juga melemah tipis 0,06% ke posisi 95,76 per dolar AS.
Di kawasan lain, yuan China terdepresiasi 0,16% dengan USD/CNY berada di level 6,79. Ringgit Malaysia turun 0,37% ke posisi 3,94 per dolar AS, sedangkan baht Thailand melemah 0,24% ke level 32,49.
Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan penguatan USD meningkat setelah Iran melakukan latihan militer besar-besaran di Selat Hormuz yang merupakan jalur penting perdagangan minyak dunia. Situasi tersebut mendorong kenaikan harga minyak mentah dan memicu permintaan terhadap aset safe haven seperti dolar AS.
Selain itu, pasar juga mencermati dinamika hubungan geopolitik di Timur Tengah, termasuk dugaan peningkatan kerja sama antara Israel dengan sejumlah negara kawasan seperti Uni Emirat Arab dan Arab Saudi.
Ketegangan semakin meningkat setelah insiden tenggelamnya kapal kargo di perairan Oman serta laporan penahanan sejumlah kapal oleh Iran usai latihan militernya di Selat Hormuz.
“Secara eksternal, kondisi geopolitik membuat dolar AS menguat, harga minyak naik, dan rupiah mengalami pelemahan,” ujar Ibrahim pada Jumat (15/5/2026).
Selain itu, Ibrahim menilai kenaikan harga energi berpotensi mendorong inflasi AS tetap tinggi sehingga membuka peluang suku bunga acuan Federal Reserve bertahan di level tinggi lebih lama dari sisi kebijakan moneter AS.
Menurut dia, kondisi tersebut akan semakin menopang penguatan dolar AS, terlebih di tengah ketidakpastian perang dagang antara AS dan China.
Pasar juga menyoroti pertemuan Presiden AS, Donald Trump dengan Presiden China, Xi Jinping yang membahas isu perdagangan, Taiwan, hingga konflik Timur Tengah. Pernyataan China yang meminta AS tidak mencampuri isu Taiwan turut menambah ketidakpastian global.
Di dalam negeri, Ibrahim menilai tekanan terhadap rupiah juga dipengaruhi terbatasnya ruang intervensi Bank Indonesia (BI) di pasar domestic selama periode libur panjang nasional, sehingga intervensi Bank Indonesia (BI) hanya dilakukan melalui pasar internasional. Meski demikian, BI disebut tetap melakukan langkah stabilisasi untuk menjaga volatilitas rupiah agar tidak bergerak lebih dalam.
“Bank Indonesia diperkirakan masih akan melakukan intervensi di pasar spot maupun pasar obligasi untuk menjaga stabilitas nilai tukar,” ujar Ibrahim.
Menurutnya, langkah tersebut terlihat dari pergerakan rupiah yang sempat menembus Rp 17.600 per dolar AS sebelum kembali bergerak di bawah level tersebut.
“Bank Indonesia benar-benar melakukan intervensi di pasar internasional untuk menjaga stabilitas rupiah,” kata Ibrahim.
Selain faktor eksternal, Ibrahim menilai tingginya kebutuhan impor minyak mentah untuk subsidi bahan bakar minyak (BBM) juga menjadi salah satu faktor yang menekan rupiah. Kenaikan harga minyak global dinilai meningkatkan kebutuhan dolar AS untuk impor energi.
Ibrahim bahkan memperkirakan rupiah berpotensi tembus Rp 18.000 per USD dalam waktu dekat apabila tekanan global terus meningkat.
“Jika Rp 18.000 per USD tembus di bulan Mei, maka ada kemungkinan besar rupiah akan menembus level Rp 22.000 per dolar AS,” ucap Ibrahim.
Maka dari itu, terdapat kemungkinan BI menaikkan suku bunga acuan pada pertemuan berikutnya guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Meski demikian, Ibrahim menilai fundamental ekonomi Indonesia masih relatif kuat, salah satunya tercermin dari dominasi investor domestik dalam kepemilikan obligasi pemerintah.



