PETISI BRAWIJAYA MEDIA, JAKARTA – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia mulai melintasi batas wilayah dan mencapai Filipina. Kondisi tersebut berdampak pada kualitas udara di sejumlah kawasan Metro Manila yang pada Selasa (1/9/2026) tercatat berada pada kategori sangat tidak sehat hingga sangat berbahaya bagi kesehatan.
Berdasarkan angka Indeks Kualitas Udara (AQI) tertinggi, seperti dilansir media lokal Filipina, ABS-CBN, Inquirer.net, dan Phil Star, Selasa (1/9/2026), terdeteksi di wilayah Paranaque, Quezon City, dan Las Pinas.
Imbasnya, pembelajaran tatap muka di sekolah negeri di Quezon City pada Selasa (1/9) ditangguhkan sementara. Situasi ini diperkirakan akan terus berlanjut di wilayah tersebut beberapa waktu ke depan.
Penangguhan kelas tatap muka tersebut berlaku untuk jenjang pendidikan negeri mulai level PAUD, TK, SD, SMP, dan SMA, maupun untuk kelas sistem pembelajaran alternatif.
Otoritas penanggulangan bencana kota melaporkan, jaringan 68 sensor pemantau udara di Quezon City mencatat tingkat AQI dari “sangat tidak sehat” hingga “sangat tidak sehat akut”.
Pada tingkat konsentrasi tersebut, paparan dapat memicu batuk, iritasi saluran pernapasan, dan kesulitan bernapas—yang menimbulkan risiko kesehatan tinggi bagi individu dengan asma dan kondisi pernapasan yang sudah ada sebelumnya.
Pemerintah Kota Quezon City sangat mendorong institusi swasta untuk menerapkan penangguhan secara lokal atau menggunakan sistem pembelajaran daring guna menjamin keselamatan siswa dan tenaga pengajar.
Pemerintah kota menyarankan anak-anak, lansia, ibu hamil, serta masyarakat dengan penyakit paru-paru atau jantung yang sudah ada sebelumnya untuk mengenakan masker, terutama ketika harus beraktivitas di luar ruangan.
Warga juga disarankan mengurangi aktivitas di luar ruangan dan tetap berada di dalam ruangan selama mungkin ketika kualitas udara masih buruk.
Departemen Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam-Biro Pengelolaan Lingkungan (DENR-NCR), yang secara resmi melaporkan bahwa beberapa kota di Metro Manila mencatat level kualitas udara yang “sangat tidak sehat” hingga “sangat berbahaya bagi kesehatan” pada Selasa (1/9) pagi.
Kabut asap yang menyelimuti kawasan tersebut diduga berkaitan dengan kebakaran hutan yang sedang berlangsung di Kalimantan, Indonesia.
Berdasarkan data per Selasa (1/9) pagi, pukul 06.00 waktu setempat, DENR-EMB untuk Wilayah Ibu Kota Nasional mencatat bahwa beberapa wilayah mencatat kadar PM2,5 yang tinggi.
Istilah “PM2,5” mengacu pada partikel halus dengan diameter 2,5 mikrometer atau kurang. Partikel-partikel kecil ini dapat menembus jauh ke dalam sistem pernapasan dan menimbulkan risiko lebih besar bagi kelompok rentan.
Paranaque menjadi salah satu wilayah dengan angka tertinggi, yakni mencapai AQI 296. Sementara itu, Quezon City tercatat 241, Las Piñas 237, dan kawasan Manila 231.
Angka AQI pada level-level tersebut dikategorikan sebagai “Acutely Unhealthy” atau “sangat berbahaya bagi kesehatan”.
Pada level ini, DENR-EMB menyatakan bahwa nilai AQI berkisar antara 201-300 membuat setiap orang merasakan dampaknya secara nyata dan aktivitas di luar ruangan harus dibatasi.
Sebagian besar wilayah lainnya yang dipantau di kawasan Metro Manila mencatat kualitas udara dengan kategori “Very Unhealthy” atau “sangat tidak sehat”.
Pada level ini, dengan angka AQI berkisar antara 151-200, otoritas setempat memperingatkan bahwa kondisi kesehatan penderita gangguan jantung dan paru dapat memburuk.
Seorang fisikawan atmosfer dan profesor meteorologi di Institut Ilmu Lingkungan dan Meterologi Universitas Filipina, Dr Gerry Bagtasa, mengatakan bahwa citra satelit menunjukkan adanya titik api aktif di wilayah Kalimantan bagian barat dan selatan dalam beberapa hari terakhir.
Menurut Dr Bagtasa, pola angin yang tidak biasa membawa asap dari pulau di Indonesia tersebut ke arah Filipina, sehingga memungkinkan polutan untuk melintasi garis khatulistiwa dan mencapai wilayah negara tersebut.
Mengutip data Kemenhut RI, per 31 Agustus 2026 pukul 21.18 WIB terdeteksi 535 hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi (high confidence) di Indonesia.
Wilayah yang menjadi perhatian meliputi Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sumatera Selatan, Riau, dan Jambi.
Munculnya kabut asap hingga Filipina menjadi pengingat bahwa penanganan karhutla memiliki konsekuensi yang jauh lebih luas daripada wilayah yang terbakar. Lintas batas asap kebakaran hutan Kalimantan ini kini menjadi ancaman nyata bagi lingkungan antarnegara di Asia Tenggara.



