PETISI BRAWIJAYA MEDIA, JAKARTA – Nilai tukar rupiah kembali menghadapi tekanan di pasar spot pada penutupan perdagangan Kamis (22/10/2026). Pelemahan mata uang Garuda tidak hanya terlihat terhadap dolar Amerika Serikat (AS), tetapi juga terhadap mata uang negara tetangga, yakni dolar Singapura dan ringgit Malaysia.
Berdasarkan data Bloomberg, dollar Singapura berada pada level Rp 14.141,19, naik 45,86 poin atau 0,33 persen. Sementara, ringgit Malaysia menguat 6,87 poin atau 0,16 persen menjadi Rp 4.423,10 per satu ringgit. Pergerakan tersebut menunjukkan meningkatnya tekanan terhadap rupiah di tengah dinamika pasar keuangan global.
Sebaliknya, baht Thailand justru melemah 1,08 poin atau 0,20 persen ke posisi Rp 535,85 terhadap mata uang garuda.
Pelemahan rupiah tidak terbatas pada mata uang Singapura dan Malaysia. Pada perdagangan Kamis (22/10), kurs rupiah di pasar spot ditutup turun 38 poin atau 0,21% menjadi Rp 18.060 per dollar Amerika Serikat (AS).
Kurs rupiah Jisdor juga melemah turun 61 poin atau 0,34% menjadi Rp 18.047 per dolar AS. Sehari sebelumnya, Rabu (21/10/2026), rupiah ditutup di level Rp 18.022 per dollar AS.
Rupiah spot melemah dalam dua hari berturut-turut dan berkinerja lebih rendah jika dibandingkan dengan mata uang Asia lain setelah Bank Indonesia (BI) menahan suku bunga acuan BI Rate sebesar 5,75 persen pada Rabu (21/10).
BI menaikkan suku bunga deposito serta memangkas giro wajib minimum bagi perbankan mulai bulan depan. BI juga menegaskan akan tetap menjaga stabilitas rupiah lewat serangkaian kebijakan lain melalui kombinasi intervensi valuta asing, insentif bagi investor, dan pendalaman pasar uang serta pasar valuta asing.
“Bank Indonesia akan terus mengoptimalkan berbagai instrumen kebijakan moneter untuk memperkuat ketahanan eksternal, termasuk melalui langkah-langkah penyesuaian yang diperlukan guna menjaga stabilitas perekonomian,” kata Gubernur BI Destry Damayanti dalam konferensu pers RDG BI, Rabu (21/10/2026).
Pergerakan rupiah tidak terlepas dari dinamika arus modal asing di pasar keuangan domestik.
Arus keluar tersebut terutama disebabkan penarikan investasi dari pasar saham sejalan dengan tingginya ketidakpastian pasar keuangan global.
Ketika ketidakpastian global meningkat, preferensi investor terhadap aset portofolio di negara berkembang cenderung terbatas.



