32.2 C
Jakarta
Sunday, May 17, 2026
spot_img

Rupiah Melemah Tajam ke Rp 17.500, Purbaya Siap Bantu BI Aktifkan Bond Stabilization Fund

PETISI BRAWIJAYA MEDIA, JAKARTA – Pemerintah akhirnya turun tangan membantu stabilisasi nilai tukar rupiah setelah mata uang Garuda menembus level psikologis Rp 17.500 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (12/5/2026).

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan pihaknya akan mulai membantu Bank Indonesia (BI) melalui intervensi di pasar obligasi guna meredam tekanan di pasar keuangan domestik.

Purbaya mengatakan pemerintah akan mulai mengaktifkan sejumlah instrumen stabilisasi pasar mulai Rabu (13/5/2026), salah satunya melalui intervensi di pasar obligasi negara atau Surat Berharga Negara (SBN).

“Kita akan mulai membantu besok mungkin dengan masuk ke bond market. Kita kan punya BSF tapi belum fund semuanya, kita aktifkan instrumen yang kita punya di sini. Besok baru jalan,” ujar Purbaya di Kantor Kementerian Keuangan, Selasa (12/5/2026).

Menurutnya, kenaikan yield atau imbal hasil obligasi yang terlalu tinggi berpotensi memicu keluarnya investor asing dari pasar keuangan domestik karena mengalami kerugian nilai investasi (capital loss). Jika arus keluar modal terjadi besar-besaran, tekanan terhadap rupiah dapat semakin meningkat.

“Kita intervensi bond market supaya yield-nya enggak naik terlalu tinggi. Kalau yield-nya naik terlalu tinggi artinya asing yang pegang bond di sini kan ada capital loss, dia akan keluar,” kata dia.

Purbaya menjelaskan pemerintah akan mengaktifkan instrumen yang dimiliki dalam skema Bond Stabilization Fund untuk menjaga pasar obligasi tetap stabil.

Purbaya mengklaim kas pemerintah saat ini sangat berlimpah untuk membantu BI melakukan intervensi tekanan rupiah di pasar obligasi.

“Kita akan coba membantu nilai tukar, kita membantu BI lah sedikit-sedikit kalau bisa. Kita masih banyak uang nganggur, kita intervention bond market supaya yield-nya nggak naik terlalu tinggi,” ucap Purbaya.

Meski begitu, Purbaya mengakui kalau Kemenkeu tidak akan mengaktifkan semua dana untuk menstabilkan Rupiah.

Ia menegaskan tugas utama menjaga stabilitas nilai tukar tetap berada di tangan Bank Indonesia sebagai otoritas moneter.

“Itu kan Anda mesti tanya bank sentral, jangan tanya saya. Tugas bank sentral hanya satu, menjaga stabilitas nilai tukar, dan kita serahkan itu ke ahlinya di sana,” kata Purbaya.

Lebih lanjut Purbaya juga menyebut kalau nilai tukar Rupiah ini tidak terlalu berpengaruh pada alokasi subsidi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Purbaya memastikan APBN masih aman meski nilai tukar rupiah terhadap dolar AS telah menembus level Rp17.500.

Pemerintah sejak awal telah mengantisipasi pelemahan rupiah saat menyusun APBN 2026. Meski asumsi kurs resmi dalam APBN dipatok Rp16.500 per dolar AS, pemerintah disebut sudah menggunakan simulasi kurs di atas level tersebut.

“Jadi waktu kita hitung itu, kita asumsinya sudah di atas asumsi APBN rupiahnya. Jadi enggak saya umumin, tapi di atas itu, enggak jauh sama sekarang. Jadi APBN-nya masih relatif aman,” ujar Purbaya.

Ia menegaskan tekanan rupiah saat ini belum memberikan dampak signifikan terhadap kondisi fiskal pemerintah, termasuk beban utang negara.

Sebagaimana diketahui, nilai tukar rupiah mengawali perdagangan pagi ini pada level pelemahan sepanjang sejarah karena telah mencapai level Rp17.500/US$.

Merujuk data Refinitiv, mata uang Garuda mengalami pelemahan ke level Rp17.500/US$ pada pukul 9.15 WIB. Di mana pada pembukaan Rupiah dibuka di zona merah dengan pelemahan sebesar 0,43% ke level Rp17.480/US$. DXY pada pembukaan juga terpantau menguat 0.21% ke posisi 98,115.

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

1,459FollowersFollow
7,451FollowersFollow
7,700SubscribersSubscribe
- Advertisement -spot_img

Latest Articles