32.2 C
Jakarta
Sunday, May 17, 2026
spot_img

Perusahaan Rusia ‘Rosatom’ Temui Prabowo di Istana, Tawarkan Kerja Sama Energi Nuklir Damai di RI

PETISI BRAWIJAYA MEDIA, JAKARTA – Perusahaan energi nuklir milik negara Rusia, Rosatom, menawarkan kerja sama pengembangan energi nuklir damai kepada Indonesia dalam pertemuan dengan Presiden RI Prabowo Subianto di Jakarta, pada, Selasa, (12/5/2026).

Dalam keterangan resmi Rosatom, kedua pihak mendiskusikan sejumlah area kerja sama strategis di bidang pemanfaatan energi nuklir untuk tujuan damai, mulai dari pengembangan proyek pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN), pembangunan infrastruktur nuklir, pelatihan sumber daya manusia, hingga pemanfaatan teknologi nuklir non-energi.

Menurut Rosatom, sangat penting bagi Rusia bahwa dialog antara Rusia dan Indonesia di bidang nuklir berkembang dalam suasana saling percaya dan menghormati.

Saat ini, Indonesia telah menetapkan tujuan yang ambisius untuk pengembangan energi nuklir, dan oleh karena itu kami tidak hanya membahas teknologi, tetapi juga pembentukan kemitraan jangka panjang yang berfokus pada pengembangan industri baru bagi negara, pelatihan personel nasional, munculnya kompetensi baru, dan penguatan kedaulatan teknologi negara.

Direktur Jenderal Rosatom, Alexey Likhachev, menyampaikan bahwa pihaknya siap mendukung pengembangan program nuklir nasional Indonesia untuk tujuan damai. Dalam pernyataan resmi perusahaan, Rosatom menawarkan pendekatan komprehensif mulai dari pembangunan PLTN skala besar hingga reaktor modular kecil (small modular reactor/SMR) dan pembangkit listrik terapung yang dinilai cocok untuk kondisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan.

“Kami siap menawarkan kepada Indonesia lokalisasi maksimum proses teknologi pada tahap konstruksi PLTN hingga tahap pemeliharaannya,” kata Likhachev usai pertemuan dengan Presiden Prabowo. seperti dikutip Rabu, 13 Mei 2026.

Menurut Likachev, konsep PLTN apung menjadi opsi paling realistis untuk fase awal pengembangan energi nuklir nasional, terutama dengan mempertimbangkan bentang garis pantai Indonesia yang luas dan ribuan pulau yang tersebar.

Model ini dinilai mampu menjawab kebutuhan elektrifikasi wilayah terpencil sekaligus memperkuat ketahanan energi jangka panjang.

Ia juga menyoroti bahwa Indonesia sejatinya tidak memulai dari nol. Selain telah memiliki reaktor penelitian, Indonesia disebut memiliki fondasi kuat dalam pengembangan sumber daya manusia nuklir, termasuk generasi muda profesional yang menempuh pendidikan di Rusia.

Dengan target kapasitas 500 megawatt pada awal 2030, meningkat menjadi 7-8 gigawatt pada 2040-an, dan 35-37 gigawatt pada 2060-an, Rosatom menilai kebutuhan Indonesia pada pembangkit besar tak terhindarkan.

“Hal itu berarti kita tak bisa melakukannya tanpa bantuan pembangkit besar berdaya 1.000 megawatt dan 1.200 megawatt. Kami (Rosatom) tahu cara membangunnya dalam iklim dan sistem regulasi yang berbeda,” ujar Likachev.

Selain bertemu Presiden Prabowo, agenda kunjungan Rosatom di Indonesia juga mencakup pertemuan dengan menteri energi dan sumber daya mineral, pimpinan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), direktur utama PT PLN, hingga ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI.

Likhachev menyebut, hubungan kerja sama Indonesia dan Rusia di bidang nuklir telah berlangsung lama.

“Tahun 2026 menjadi penanda 20 tahun perjanjian kerja sama antar pemerintah mengenai pemanfaatan energi atom untuk tujuan damai yang diteken pada 1 Desember 2006. Perjanjian tersebut menjadi fondasi kerja sama bilateral Indonesia-Rusia di industri nuklir,” tandasnya.

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

1,459FollowersFollow
7,451FollowersFollow
7,700SubscribersSubscribe
- Advertisement -spot_img

Latest Articles