PETISI BRAWIJAYA MEDIA, JAKARTA – Bencana banjir dan tanah longsor yang melanda berbagai wilayah di Pulau Sumatra terus menelan korban jiwa. Hingga Selasa, 2 Desember 2025, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sebanyak 631 orang meninggal dunia, 472 orang masih dinyatakan hilang, dan 2.600 orang mengalami luka-luka.
Banyak warga terluka akibat tertimpa material longsor atau terseret arus banjir. Operasi pencarian masih berlangsung dengan dukungan tim SAR gabungan, TNI, Polri, dan relawan daerah.
Dampak Bencana yang Meluas
Banjir dan longsor yang terjadi sejak akhir November telah melanda 50 kabupaten/kota di Sumatra, termasuk wilayah-wilayah terdampak parah seperti Sumatra Utara, Sumatra Barat, dan Aceh.
BNPB merinci jumlah korban jiwa sebagai berikut:
– Sumatra Utara: 293 jiwa
– Sumatra Barat: 165 jiwa
– Aceh: 173 jiwa
“Jumlah meninggal dunia 631 jiwa,” demikian data Dashboard Penanganan Darurat Banjir dan Longsor Sumatera Tahun 2025 yang tertulis di situs Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Bencana (Pusdatin BNPB) pada Selasa (2/12/2025), sebagaimana dilihat pada pukul 11:00 WIB.
Selain korban jiwa, bencana ini juga berdampak pada lebih dari 2,1 juta jiwa, dengan 1 juta orang terpaksa mengungsi ke tempat-tempat aman. Para pengungsi kini tersebar di berbagai posko darurat yang didirikan oleh pemerintah daerah dan lembaga kemanusiaan.
Kerusakan Infrastruktur
Kerusakan infrastruktur akibat bencana ini pun tergolong masif. BNPB melaporkan:
– 3.500 rumah rusak berat
– 4.100 rumah rusak sedang
– 20.500 rumah rusak ringan
– 282 fasilitas pendidikan rusak
– 271 jembatan rusak
Jalanan di sejumlah wilayah, seperti di Kabupaten Agam, Sumatra Barat, tertutup lumpur dan material longsor, menyulitkan akses bantuan dan evakuasi. Di beberapa desa terisolir, prajurit TNI bahkan harus menempuh medan berat sejauh lima kilometer untuk mengevakuasi dan memakamkan korban.
BNPB menegaskan, data ini masih bersifat dinamis dan akan terus diperbarui. Petugas lapangan masih melakukan asesmen, pendataan ulang warga terdampak, dan verifikasi laporan orang hilang akibat banjir Sumatera. Pembaruan data akan diumumkan secara berkala melalui situs resmi BNPB untuk memastikan publik mendapat informasi akurat.
Pemerintah pusat bersama TNI, Polri, BNPB, dan relawan terus melakukan upaya pencarian korban hilang, evakuasi warga, serta distribusi bantuan logistik.
Kerugian ekonomi akibat banjir
Center of Economic and Law Studies (Celios) meyebut kerugian ekonomi akibat banjir di wilayah Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh cukup berpengaruh secara regional maupun nasional.
Dikutip dari Kontan, secara regional, ekonomi Provinsi Aceh diprediksi mengalami kerugian mencapai Rp 2,04 triliun, Sumatera Utara Rp 2,07 triliun dan Sumatera Barat sebesar Rp 2,01 triliun.
Angka kerugian itu didapat dengan menghitung beberapa aspek. Pertama, kerugian rumah dengan masing-masing mencapai Rp 30 juta per rumah.
Kedua, kerugian jembatan jembatan dengan masing-masing biaya pembangunan kembali jembatan mencapai Rp1 miliar.
Ketiga, kerugian pendapatan keluarga sesuai dengan pendapatan rata-rata harian masing-masing provinsi dikali dengan 20 hari kerja.
Keempat, kerugian lahan sawah dengan kehilangan mencapai Rp 6.500 per kg dengan asumsi per Ha dapat menghasilkan 7 ton.
Kelima, perbaikan jalan per 1000 meter mencapai Rp100 juta. Celios juga menyebut bahwa secara nasional banjir yang terjadi di Sumatera dan Aceh berdampak pada penurunan Produk Domestik Bruto (PDB) mencapai Rp68,67 triliun atau setara dengan 0,29.




