26.6 C
Jakarta
Monday, March 9, 2026
spot_img

“JK Wanti-Wanti: Indonesia Jadi Mediator Konflik AS–Israel–Iran? Mustahil dan Berbahaya!”

PETISI BRAWIJAYA MEDIA, JAKARTA – Wakil Presiden Ke-10 dan Ke-12 RI Jusuf Kalla alias JK menyatakan prihatin atas tindakan kejam dan tidak beretika yang dilakukan Amerika Serikat (AS) bersama Israel terhadap Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.

“Ini memang suatu hal yang menjadi bagian menyampaikan kita kepada masalah Amerika dengan sifat dan kekejaman yang dilakukan terhadap Iran,” ujar JK kepada wartawan di Jakarta, Minggu, 1 Maret 2026.

Selain itu, dia mengaku bersedih atas wafatnya Ali Khamenei akibat serangan AS bersama Israel tersebut.

“Kami tentu sangat bersedih bahwa Pemimpin Iran Ali Khamenei wafat,” katanya.

JK menyebut bahwa tindakan AS-Israel terhadap Iran dinilai tidak beretika karena perundingan antarnegara terkait nuklir sedang berlangsung.

“Dari segi etik, kalau sedang berunding, jangan serang. Ini memang keadaan yang bagi kita semua sangat memprihatinkan karena Amerika menyerang apa saja yang tidak sesuai dengan pandangan-pandangannya,” ujarnya.

Ia juga juga merespons wacana terkait Presiden RI, Prabowo Subianto, yang ingin memediasi perdamaian antara Iran dan Israel-Amerika Serikat.

JK mengaku ragu akibat konflik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat merupakan masalah geopolitik yang sangat kompleks.

Menurutnya, faktor utama kesulitan perundingan damai adalah ketegaran kekuatan antarnegara, khususnya dominasi Amerika Serikat.

“Ya niat, rencana itu baik saja. Tapi situasi ini yang jauh lebih besar masalahnya. Ya Palestina dengan Israel saja tidak bisa, sulit didamaikan. Karena dunia ini sangat ditentukan oleh sifat Amerika,” ujar JK.

JK menambahkan, Indonesia sendiri telah membuat perjanjian dengan Amerika yang dianggapnya tidak seimbang.

“Dan sayangnya Indonesia telah mengadakan perjanjian tidak seimbang yang sangat merugikan Indonesia. Itu saja kita tidak setara Amerika. Bagaimana mendamaikan orang yang tidak setara dalam keadaan ini dalam hal perundingan seperti itu,” tegasnya.

Meskipun Indonesia berada jauh dari pusat konflik, JK menekankan dampak dari situasi ini tetap akan terasa, terutama pada sektor energi dan perdagangan yang berpotensi menimbulkan dampak ekonomi serius.

Kenaikan harga minyak dunia menjadi salah satu dampak yang paling cepat muncul bila konflik berkepanjangan karena tingginya ketergantungan negara-negara pengimpor, termasuk Indonesia, terhadap minyak dari kawasan Timur Tengah.

“Tentu harga minyak naik. Pasti, itu yang pertama,” ujar JK.

JK menilai bahwa serangan gabungan AS dan Israel terhadap Iran memutus sejumlah jalur penting dalam rantai impor minyak dunia yang kerap melewati wilayah tersebut.

“Kita biasanya mengimpor minyak dari Timur Tengah karena kita kekurangan. Sekarang pasti stop,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa suplai dari negara-negara penghasil minyak seperti Saudi Arabia, Iran, Kuwait, Qatar, dan Uni Emirat Arab bisa terganggu karena respons militer dan keamanan di kawasan meningkat. Dampaknya, kata JK, kemungkinan akan dirasakan secara nyata dalam beberapa minggu kedepan.

Lebih jauh, JK mengingatkan bahwa Indonesia hanya memiliki persediaan BBM domestik rata-rata cukup untuk sekitar tiga minggu. Setelah itu, pasokan dari luar negeri yang terganggu dapat menyebabkan keterbatasan BBM di beberapa wilayah jika konflik terus berlanjut.

“Itu berarti adanya suatu logistik sistem impor-ekspor di Timur Tengah ke selatan dan ke utara jadi masalah. Kita antara lain ada di selatan yang mengalami seperti itu. Ya kita… Jadi hati-hati akan sulitnya bahan bakar dalam waktu mungkin sebulan. Mungkin kita ada persediaan rata-rata persediaan kita 3 minggu,” tandas dia.

Sebagai informasi, AS-Israel melancarkan serangan ke Teheran, Iran, Sabtu (28/2/2026). Pemerintah Iran pada hari Minggu (1/3/2026) mengonfirmasi bahwa Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei telah meninggal dalam serangan gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel pada Sabtu pagi. Pemerintah Iran pun mengumumkan 40 hari masa berkabung nasional.

Iran kemudian meluncurkan serangan roket terhadap Israel, dan sejumlah target lain di Qatar, Uni Emirat Arab hingga Bahrain, yang dirasa sebagai basis kekuatan militer musuh di wilayah Teluk dan sekitarnya sebagai balasan atas tewasnya Ayatollah Ali Khamenei.

Selain itu, Pemerintah Iran juga menutup Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia bagi perdagangan energi global, sebagai respons atas serangan gabungan Amerika Serikat-Israel pada Sabtu (28/2/2026).

Gulf News melaporkan, sejumlah kapal di kawasan Teluk menerima siaran radio frekuensi tinggi dari Garda Revolusi Iran (IRGC) yang memperingatkan, kapal-kapal tidak akan diizinkan melintasi jalur air tersebut.

Selat Hormuz yang berada di Teluk Arab selama ini menjadi jalur penting bagi sekutu AS dan pasar energi global.

Kelompok pakar pasar energi global memperingatkan bahwa gangguan pasokan minyak melalui jalur strategi seperti Selat Hormuz yang menangani sekitar 20% perdagangan minyak dunia dapat mendorong harga minyak mentah ke tingkat tinggi lebih dari US$100 per barel jika konflik tidak segera mereda.

Para analis memperkirakan kenaikan harga minyak dunia berpotensi menimbulkan dampak yang lebih luas dari sekedar energi, termasuk memicu tekanan inflasi dan gangguan logistik di sejumlah negara pengimpor, seperti Indonesia.

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

1,459FollowersFollow
7,451FollowersFollow
7,700SubscribersSubscribe
- Advertisement -spot_img

Latest Articles