PETISI BRAWIJAYA MEDIA, JAKARTA – Gubernur Pramono Anung Wibowo menyerukan agar seluruh warga Jakarta memperkuat rasa kebersamaan dan gotong royong di tengah kondisi global yang sedang memanas. Pernyataan ini disampaikan menyusul kekhawatiran global atas konflik yang melibatkan sejumlah negara besar, termasuk insiden serangan yang dilaporkan terjadi di kawasan Timur Tengah baru-baru ini.
Seruan Pramono itu disampaikan ketika menghadiri acara buka puasa bersama Majelis Kaum Betawi (MKB) di Masjid Jami Tangkuban Perahu, Setiabudi, Jakarta Selatan, Senin, 2 Maret 2026.
“Kondisi terakhir dunia sekarang ini, global sekarang ini, sedang tidak baik-baik saja. Maka untuk itu kebersamaan, gotong royong, itu menjadi hal yang utama dalam rangka kita semua untuk menjaga Jakarta,” ujar Pramono.
Ketegangan seperti ini tidak hanya berimplikasi pada hubungan diplomatik antarnegara, tetapi juga menyentuh aspek ekonomi domestik, seperti potensi tekanan terhadap harga barang dan kestabilan pasar di dalam negeri.
Ia berharap, gejolak yang tengah terjadi di Timur Tengah tidak memberikan dampak negatif bagi Indonesia, terutama Jakarta.
Kendati demikian, dia mengaku sudah memerintahkan jajarannya untuk menghadapi kemungkinan terburuk.
Pramono meminta seluruh Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) agar mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan krisis.
“Sehingga kalau ada kekurangan, misalnya produk-produk tertentu, kita harus mempersiapkan untuk itu,” ujar Pramono.
Salah satunya, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta beberapa waktu lalu telah menerima impor sapi Australia. Menurut Pramono, hal ini dilakukan sebagai upaya menyeimbangkan harga daging sapi di ibu kota.
Pada 23 Februari 2026, Pemprov DKI menerima impor sapi dari Australia sebanyak 3.100 ekor.
Kuota impor yang didapatkan Jakarta, yakni sebanyak 7.500 ekor sapi. Apabila nantinya Jakarta masih membutuhkan stok tambahan daging sapi, maka Pemprov DKI akan kembali memesan impor daging sapi.
“Ini cara kita untuk supaya harga daging tidak mengalami kenaikan, dan Alhamdulillah, sampai hari ini tidak mengalami kenaikan,” ungkap Pramono.
Disisi lain, Pramono juga menekankan bahwa persatuan dan solidaritas di tingkat lokal menjadi fondasi penting untuk meredam dampak ketidakpastian tersebut.
Ia menyatakan bahwa stabilitas Jakarta adalah tanggung jawab bersama dan saling menjaga satu sama lain merupakan bentuk nyata kebersamaan warga dalam menghadapi situasi yang penuh tantangan.
Menurut Pramono roh Jakarta adalah kebudayaan Betawi. Ia meyakini jika peran masyarakat Betawi diperkuat melalui kebersamaan, maka dampak positifnya akan langsung dirasakan oleh seluruh warga Jakarta.
Pramono pun ingin agar budaya Betawi bisa tampil lebih terhormat. Ia berharap kesenian seperti ondel-ondel tidak lagi berada di jalanan, melainkan naik ke panggung-panggung internasional.
Bahkan Pramono juga berencana untuk merevitalisasi Museum Husni Thamrin dengan anggaran sekitar Rp15 miliar. Upaya ini diambil agar generasi muda, terutama pelajar, dapat belajar dari kegigihan tokoh-tokoh Betawi dalam membangun Jakarta.
Karena itu, ia berpesan agar Majelis Kaum Betawi bisa memperkuat kerukunan dan kebersamaannya untuk memajukan kaum Betawi.
Tak hanya itu, Gubernur juga berencana menyelenggarakan haul untuk ulama Betawi yang berjasa bagi pembangunan budaya di Jakarta. Acara tersebut akan digelar setiap Juni di Monumen Nasional.




