PETISI BRAWIJAYA MEDIA, JAKARTA – Pemerintah Indonesia bergerak cepat merespons eskalasi konflik di Timur Tengah yang berdampak pada penutupan Selat Hormuz oleh Iran. Presiden Prabowo Subianto menggelar rapat terbatas bersama sejumlah menteri di Istana Kepresidenan Jakarta guna memastikan stabilitas energi nasional tetap terjaga di tengah ketegangan geopolitik di Iran yang berdampak pada sektor energi nasional.
Konflik antara Iran melawan Israel dan Amerika Serikat itu sebelumnya menyebabkan Selat Hormuz, salah satu jalur distribusi minyak paling vital di dunia, ditutup oleh otoritas Iran.
Akibat penutupan tersebut, berpotensi mengancam stabilitas pasokan energi global, termasuk Indonesia yang masih mengandalkan impor.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, melaporkan secara langsung kondisi terkini pasokan minyak mentah dunia kepada Presiden.
Usai pertemuan, Bahlil mengungkapkan bahwa pembahasannya dengan Presiden fokus pada pemetaan geopolitik terbaru.
“Kami mengantisipasi pasokan minyak dunia karena penutupan Selat Hormuz. Bagaimanapun, kita masih melakukan impor, apalagi ini menjelang momentum Lebaran,” ujar Bahlil kepada awak media di Kompleks Istana Kepresidenan.
Bahlil mengatakan cadangan BBM di Indonesia masih cukup untuk hampir tiga pekan. Ia juga mengimbau masyarakat agar tidak khawatir akan terjadinya kelangkaan bahan bakar di dalam negeri.
“Masih cukup dalam kurun waktu 20 hari ke depan. Pemerintah terus memantau cadangan BBM nasional agar tidak terjadi kelangkaan di tengah masyarakat,” ujar Bahlil saat menghadiri rapat dengan Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan, Jakarta, pada Senin, 2 Maret 2026.
Kendati demikian, pemerintah tengah menghitung dampak serta upaya antisipasi jika terjadi kenaikan harga ataupun hambatan pasokan.
Soal mitigasi apa yang disiapkan pemerintah, Bahlil sendiri mengatakan pihaknya akan melakukan rapat koordinasi terlebih dahulu dengan Dewan Energi Nasional (DEN) untuk merumuskan strategi mitigasi yang lebih detail sebelum melaporkannya kembali ke Presiden.
“Besok saya akan rapat dengan Dewan Energi Nasional, setelah itu baru saya sampaikan apa hasil dan analisis dari Dewan Energi Nasional.”
Di sisi lain, dia belum bisa memastikan apakah impor migas dari Amerika Serikat (AS) —sebagai bagian dari kesepakatan tarif resiprokal— akan dipercepat sebagai dampak dari dinamika pasar minyak dan gas yang tengah mengalami turbulensi akibat krisis Iran.
“Rapat dulu, baru saya sampaikan hasilnya,” ujarnya. “Ya perlahan-lahan sebagian sudah ada perubahan harga [minyak] naik.”
Soal dampak kenaikan harga minyak ke subsidi energi, Bahlil mengaku sampai hari ini belum ada masalah berarti. Namun, pemerintah terus memantau kondisi geopolitik yang memanas.
Namun, ia memberikan catatan penting jika ketegangan di Timur Tengah terus berlanjut dan memicu lonjakan harga minyak mentah dunia, pemerintah tidak menutup kemungkinan akan melakukan koreksi harga di masa mendatang.
“Sampai hari ini nggak ada masalah, tapi kan harga dunia akan terjadi koreksi ketika kondisi geopolitik terus memanas di Timur Tengah,” kata Bahlil.
Pemerintah menegaskan akan terus berada dalam posisi siaga untuk melindungi kepentingan nasional serta memastikan ketersediaan energi bagi seluruh rakyat Indonesia di tengah ketidakpastian geopolitik global.
Harga minyak dunia kembali melonjak pada perdagangan Senin, 2 Maret seiring memanasnya konfik Amerika Serikat dan Israel melawan Iran. Lonjakan harga juga dipengaruhi penutupan salah satu jalur vital perdagangan minyak global, Selat Hormuz, oleh Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC).
Mengutip data Trading Economics, harga minyak mentah Brent sempat melonjak sampai 12 persen pada Senin pagi atau pembukaan perdagangan. Harga minyak mentah Brent menembus US$ 78,2 per barel atau naik dibanding penutupan perdagangan 28 Februari yang tercatat US$ 72,8 per barel.
Sedangkan harga minyak mentah West Texas intermediate (WTI) naik menjadi sekitar US$ 71,9 per barel. Melambung dibanding penutupan perdagangan 28 Februari 2026 yang tercatat US$ 67,2 per barel.
Ketegangan di Timur Tengah memuncak setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan agresi gabungan terhadap Iran pada Sabtu, 28 Februari 2026. Presiden AS Donald Trump mengumumkan bahwa serangan itu menewaskan pimpinan tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Serangan balasan dilakukan Iran dengan meluncurkan gelombang rudal dan drone ke Israel dan ke beberapa pangkalan militer di Timur Tengah tempat pasukan AS beroperasi.
Kondisi konflik belum menunjukan tanda-tanda mereda. Diberitakan Daily Mail, 2 Maret 2026, Donald Trump mengungkap kemungkinan perang dengan Iran bisa berlangsung selama empat minggu ke depan.
Trump mengatakan militer AS akan terus membombardir Iran hingga tujuannya tercapai, sambil mengakui bahwa “kemungkinan akan ada lebih banyak” korban jiwa di pihak Amerika.




