26.6 C
Jakarta
Thursday, March 19, 2026
spot_img

Pertamina Cari Sumber Impor Alternatif BBM hingga ke Afrika di Tengah Dinamika Selat Hormuz

PETISI BRAWIJAYA MEDIA, JAKARTA – PT Pertamina (Persero) tengah agresif mencari sumber impor alternatif bahan bakar minyak (BBM) di tengah meningkatnya dinamika geopolitik di kawasan Selat Hormuz, jalur strategis energi dunia yang menghubungkan Teluk Persia dengan pasar global. Diketahui, ketegangan di Timur Tengah meningkat usai Amerika Serikat (AS)-Israel menyerang Iran.

Direktur Utama Pertamina, Simon Aloysius Mantiri, mengatakan perusahaan telah menyiapkan berbagai langkah strategis termasuk membuka peluang pasokan dari negara dan wilayah lain sebagai cadangan jika rute distribusi melalui Selat Hormuz terganggu.

“Kami sudah antisipasi mencari sumber lain supaya ketahanan stok juga bisa baik dan bagus,” ujar Simon dalam konferensi pers di Jakarta sebagaimana dikutip pada Jumat (13/3/2026).

Menurutnya, Pertamina tidak hanya bergantung pada pasokan energi dari kawasan Timur Tengah. Perusahaan telah melakukan diversifikasi sumber impor dengan menggandeng pemasok dari berbagai wilayah lain.

“Untuk antisipasi kami juga melakukan diversifikasi sumber. Sumber-sumber kita tidak hanya dari Timur Tengah, ada juga dari Afrika, ada dari Amerika Serikat, dan berbagai tempat lainnya,” ujarnya.

Sebagai informasi, Selat Hormuz menjadi perhatian dunia setelah meningkatnya ketegangan antara sejumlah negara di Timur Tengah, termasuk konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang berimbas pada aktivitas pelayaran di jalur tersebut.

Selat Hormuz merupakan rute penting bagi distribusi minyak mentah dan produk energi lainnya ke berbagai negara di Asia, Eropa, dan Amerika.

Hambatan atau gangguan di wilayah ini berpotensi memengaruhi supply chain energi global, termasuk pasokan minyak dan BBM ke Indonesia.

Pemerintah mencatat sekitar 20 hingga 25 persen impor minyak mentah Indonesia dikirim melalui jalur Selat Hormuz.

Situasi tersebut membuat Pertamina mulai menyiapkan langkah alternatif, termasuk membuka sumber impor dari wilayah lain.

Langkah antisipasi ini juga dipicu oleh kondisi dua kapal tanker milik Pertamina International Shipping (PIS) yang masih berada di kawasan Teluk Arab dan belum dapat melintasi Selat Hormuz.

Dua kapal tersebut adalah very large crude carrier (VLCC) Pertamina Pride yang dikelola oleh NYK serta kapal Gamsunoro yang dioperasikan oleh Synergy Ship Management.

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

1,459FollowersFollow
7,451FollowersFollow
7,700SubscribersSubscribe
- Advertisement -spot_img

Latest Articles