PETISI BRAWIJAYA MEDIA, JAKARTA – Tiga prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang tergabung dalam misi penjaga perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa dilaporkan gugur dalam serangkaian insiden di wilayah Lebanon selatan, di tengah meningkatnya eskalasi konflik antara Israel dan kelompok Hizbullah.
Informasi terbaru menyebutkan bahwa ketiga prajurit tersebut meninggal dunia dalam kurun waktu 24 jam akibat insiden terpisah yang terjadi di area operasi United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL).
Meski Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tengah melakukan investigasi berkaitan dengan insiden yang menewaskan pasukan penjaga perdamaian tersebut, namun media Lebanon melaporkan bahwa pasukan TNI di UNIFIL mendapat serangan dari artileri yang ditembakkan tentara Israel saat bertugas di area blue line.
Salah satu prajurit dilaporkan gugur akibat serangan artileri yang menghantam pangkalan UNIFIL di dekat wilayah Adchit al-Qusayr Lebanon Selatan. Sementara dua prajurit lainnya tewas setelah kendaraan yang mereka tumpangi hancur akibat ledakan di sekitar Bani Hayyan.
UNIFIL mengatakan telah meluncurkan penyelidikan atas kedua insiden tersebut tetapi tidak mengatakan siapa yang bertanggung jawab atas kematian tiga tentara Indonesia tersebut.
Para pejabat PBB mengonfirmasi ketiga pasukan penjaga perdamaian tersebut memang berasal dari Tentara Nasional Indonesia (TNI).
Kementerian Pertahanan (Kemenhan) Republik Indonesia mengonfirmasi bahwa jumlah korban meninggal dunia dari pihak TNI saat ini bertambah menjadi 3 orang. Selain korban jiwa, 5 lainnya juga dilaporkan mengalami luka-luka akibat insiden tersebut.
Adapun prajurit TNI yang dinyatakan gugur dalam insiden tersebut yakni Kapten Infanteri Zulmi Aditya Iskandar, Sertu Muhammad Nur Ichwan dan Praka Farizal Rhomadhon yang tewas sehari sebelumnya pada 29 Maret 2026.
Kepala Biro Informasi Pertahanan Kementerian Pertahanan Brigadir Jenderal Rico Ricardo Sirait mengatakan para prajurit TNI yang mengalami luka saat ini telah mendapatkan penanganan medis intensif di fasilitas kesehatan di Beirut, Lebanon.
“Langkah-langkah evakuasi dan penanganan medis dilakukan secara cepat sesuai prosedur operasional Perserikatan Bangsa-Bangsa,” ujarnya dalam keterangannya, Selasa, 31 Maret 2026.
Jenderal bintang satu ini menegaskan keselamatan pasukan perdamaian harus menjadi prioritas utama. Kementerian Pertahanan, kata dia, meminta seluruh pihak yang terlibat dalam konflik agar menghormati hukum humaniter internasional, termasuk menjamin keamanan personel penjaga perdamaian.
“Indonesia tetap berkomitmen untuk berkontribusi aktif dalam menjaga perdamaian dunia dan mendukung stabilitas kawasan melalui partisipasi dalam misi perdamaian PBB,” ucapnya.
Selain itu, Rico menyatakan pemerintah terus berkoordinasi dengan markas besar UNIFIL untuk memastikan keselamatan seluruh personel penjaga perdamaian di wilayah konflik.
“Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pertahanan dan TNI terus melakukan koordinasi erat dengan markas besar UNIFIL guna memastikan keselamatan seluruh personel serta menjamin penanganan terbaik bagi para korban,” ujarnya.
Namun, dia menyebut bahwa penyebab pasti kejadian belum dapat disimpulkan.
“Hingga saat ini penyebab pasti kejadian masih dalam proses investigasi oleh pihak UNIFIL sesuai mekanisme yang berlaku,” ucap Rico.
Misi penjaga perdamaian di Lebanon selatan pertama kali dibentuk oleh Dewan Keamanan PBB pada tahun 1978 untuk mengonfirmasi penarikan Israel dari Lebanon dan membantu memulihkan ketertiban setelah invasi pertama Israel ke negara tersebut.
Saat ini, lebih dari 8.200 penjaga perdamaian PBB—atau dikenal sebagai Helm Biru—dari 47 negara ditempatkan di Lebanon selatan, menurut data UNIFIL yang diperbarui pada 23 Maret.
Para pakar PBB mengatakan bahwa meskipun perjanjian gencatan senjata ditandatangani pada November 2024, Israel terus menyerang wilayah Lebanon “hampir setiap hari”, menambah jumlah korban jiwa, luka-luka, dan kerusakan di kalangan warga sipil.




