27.1 C
Jakarta
Sunday, May 17, 2026
spot_img

Data BPS DKI: Separuh Penduduk Jakarta Didominasi Generasi Milenial dan Gen Z

PETISI BRAWIJAYA MEDIA, JAKARTA – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi DKI Jakarta mencatat struktur penduduk ibu kota saat ini didominasi oleh generasi muda, khususnya generasi milenial dan Generasi Z (Gen Z). Berdasarkan hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025, kedua kelompok usia tersebut menguasai hampir separuh total populasi Jakarta yang mencapai 10,72 juta jiwa.

Berdasarkan tahun kelahiran, penduduk dikelompokkan ke dalam Generasi Pre-Boomer (lahir sebelum 1945), Baby Boomer (lahir tahun 1946-1964), Generasi X (lahir tahun 1965-1980) Milenial (lahir tahun 1981-1996), Generasi Z (lahir tahun 1997-2012) dan Post Generasi Z (lahir tahun 2013 dan seterusnya).

Kepala BPS DKI Jakarta, Kadarmanto, mengungkapkan bahwa generasi milenial menjadi kelompok terbesar dengan kontribusi mencapai 24,82 persen dari total penduduk Jakarta. Sementara itu, Generasi Z menyusul dengan angka 24,12 persen.

“Generasi milenial dan Gen Z secara bersama-sama mencakup hampir separuh populasi di Jakarta. Ini menunjukkan dominasi penduduk usia produktif dalam struktur demografi ibu kota saat ini,” ujar Kadarmanto dalam keterangannya, di Jakarta, Rabu, (6/5/2026).

Selain milenial dan Gen Z, komposisi penduduk Jakarta juga diisi oleh Generasi X sebesar 21,85 persen, Post Gen Z sebanyak 17,78 persen, Baby Boomer 10,72 persen, dan Pre-Boomer sekitar 0,71 persen.

“Secara umum sekitar 66,72 persen penduduk DKI Jakarta merupakan generasi Z, milenial, dan post generasi Z,” kata Kadarmanto.

Jika dilihat dari struktur umur, penduduk usia produktif (15–64 tahun) masih mendominasi dengan porsi 71,26 persen. Namun, proporsi ini mulai menunjukkan penurunan dibandingkan periode sebelumnya. Sebaliknya, tren penuaan penduduk mulai terlihat. Jumlah penduduk usia lanjut terus meningkat dalam satu dekade terakhir.

“Hal ini mengindikasikan bahwa struktur umur penduduk Jakarta secara bertahap bergerak menuju proses penuaan penduduk (ageing population),” ungkap Kadarmanto.

Meski demikian, Jakarta masih berada dalam fase bonus demografi. Hal ini terlihat dari rasio ketergantungan yang masih berada di bawah ambang 50.

“Hasil SUPAS 2025 menunjukkan rasio ketergantungan di Jakarta sebesar 40,34,” tulis BPS.

Artinya, setiap 100 penduduk usia produktif menanggung sekitar 40 penduduk usia nonproduktif. Angka ini memang meningkat dibanding sensus sebelumnya, tetapi belum menggeser posisi Jakarta dari fase bonus demografi.

Pertumbuhan penduduk Jakarta dalam lima tahun terakhir tercatat lebih rendah dibanding dekade sebelumnya. Laju pertumbuhan penduduk hanya 0,32 persen pada periode 2020–2025, turun dari 0,92 persen pada 2010–2020.

Jumlah penduduk Jakarta berdasarkan hasil Supas 2025 sebanyak 10.724.330 ribu jiwa, meningkat 162.240 ribu jiwa dibandingkan hasil Sensus Penduduk 2020 (SP2020) dan meningkat 1.116.540 jiwa dibandingkan hasil Sensus Penduduk 2010 (SP2010).

Ia menambahkan, berdasarkan rasio jenis kelamin, jumlah penduduk laki-laki di Jakarta sebanyak 5.371,39 ribu jiwa atau 50,09 persen dari seluruh penduduk. Sedangkan jumlah penduduk perempuan sebanyak 5.352,94 ribu jiwa atau 49,91 persen dari seluruh penduduk.

“Berdasarkan komposisi jenis kelamin tersebut, rasio jenis kelamin di Jakarta tercatat sebesar 100, yang berarti terdapat sekitar 100 laki-laki untuk setiap 100 perempuan di Jakarta,” kata Kadarmanto.

Disisi lain, Staf Khusus Gubernur DKI Jakarta Bidang Komunikasi Publik, Chico Hakim menyebut, hasil SUPAS 2025 menjadi sinyal kuat bahwa Jakarta berada pada fase puncak bonus demografi.

“SUPAS 2025 memberikan sinyal kuat bahwa Jakarta sedang berada di puncak bonus demografi. Dominasi generasi muda yang produktif, tingkat kesuburan yang terkendali, serta rasio ketergantungan yang rendah adalah modal emas bagi kita untuk membangun Jakarta yang lebih maju, inklusif, dan berdaya saing,” ujar Chico.

Ia menambahkan, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah memperkuat berbagai program untuk menjaga kualitas penduduk, termasuk kesehatan reproduksi dan keluarga berencana.

“Kami telah memperkuat program kesehatan reproduksi dan keluarga berencana di seluruh Puskesmas serta Posyandu, sehingga TFR berhasil ditekan ke level 1,79. Program imunisasi dan gizi balita juga terus digencarkan, berkontribusi pada penurunan angka kematian bayi dan balita,” katanya.

Pemprov DKI Jakarta juga merespons peningkatan jumlah penduduk lanjut usia yang mencapai 12,01 persen melalui pengembangan program ramah lansia.

Salah satunya melalui penguatan program kesehatan reproduksi dan keluarga berencana di fasilitas layanan kesehatan.

Di sisi lain, pemerintah juga mendorong pengembangan sumber daya manusia melalui pelatihan vokasi, inkubasi startup, serta penguatan ekosistem ekonomi kreatif yang menyasar generasi muda.

“Ke depan, fokus kami pada pemberdayaan generasi muda, perlindungan kelompok rentan, serta pengelolaan kependudukan yang terencana,” jelas Chico.

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

1,459FollowersFollow
7,451FollowersFollow
7,700SubscribersSubscribe
- Advertisement -spot_img

Latest Articles