PETISI BRAWIJAYA MEDIA, JAKARTA – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memperbarui data jumlah korban gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT). Hingga hari ke-11 pascagempa atau Selasa, 25 Agustus 2026, pukul 16.00 WIB, jumlah korban meninggal dunia bertambah menjadi 103 jiwa dan 1.666 orang mengalami luka-luka.
BNPB mencatat terdapat tambahan tiga korban meninggal dunia dibandingkan data sehari sebelumnya yang mencapai 100 orang.
“Pada hari ini kami mencatat ada ketambahan tiga jiwa meninggal, menjadi 103 untuk hari ini catatan kami,” kata Plt Kapusdatin dan Komunikasi BNPB Berton SP Panjaitan, dalam jumpa pers virtual, pada Selasa (25/8/2026).
Berton melaporkan, jumlah korban meninggal dunia terbanyak tercatat di Kabupaten Manggarai sebanyak 41 orang, disusul Manggarai Timur 34 orang, serta Nagekeo dan sejumlah kabupaten lainnya.
Berdasarkan jenis kelamin, 55 persen korban meninggal dunia merupakan perempuan, sedangkan 45 persen lainnya laki-laki.
Sementara berdasarkan kelompok umur, korban terbanyak merupakan lansia dengan persentase 45 persen, disusul kelompok dewasa 37 persen, anak-anak dan remaja 12 persen, serta sisanya balita dan batita.
Sementara itu, angka korban luka-luka juga mengalami penambahan sebanyak 63 orang, sehingga totalnya mencapai 1.666 orang.
“Kami mendapat tambahan angka sebesar 63 orang yang luka-luka, sehingga total yang kami catat adalah sebesar 1.666 orang,” ungkap Berton.
Jumlah korban luka terbanyak di wilayah Manggarai Timur, dengan luka berat sebanyak 239 orang dan luka ringan sebanyak 404 orang.
“Kemudian diikuti Kabupaten Manggarai, dengan korban luka berat sebanyak 58 orang dan luka ringan sebanyak 474 orang,” kata Berton.
Pada kesempatan tersebut Berton juga menyampaikan duka cita kepada seluruh keluarga korban yang terdampak bencana gempa tersebut.
“Kami tetap menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya, seikhlas-ikhlasnya dari kami untuk keluarga, handai tolan, tetangga, kenalan, ataupun untuk seluruh masyarakat Indonesia karena adanya korban akibat gempa ini,” ujarnya.
Sementara itu, ada tambahan jumlah pengungsi sebanyak 4.804 orang. Sehingga, total menjadi 185.113 orang. Pengungsi tersebar di Manggarai, Nagekeo, Manggarai Timur, Manggarai Barat, Sika, Endeh, Daun, hingga Ngada.
Banyaknya warga yang memilih bertahan di lokasi pengungsian juga berkaitan dengan masih terjadinya gempa susulan. Guncangan lanjutan membuat sebagian masyarakat merasa khawatir untuk kembali ke rumah, terutama mereka yang rumahnya mengalami kerusakan.
Lebih lanjut Berton juga menyampaikan adanya aktivitas kegempaan di NTT yang masih berlangsung setelah gempa utama M 7,7 pada 15 Agustus 2026. Berdasarkan catatan BMKG yang disampaikan BNPB, hingga Selasa telah terjadi 7.029 gempa susulan. Ratusan di antaranya bahkan terjadi hanya dalam kurun waktu 24 jam terakhir.
“Sejak Senin, 24 Agustus kemarin hingga hari ini, terdapat 141 gempa susulan,” ungkap Berton.
Menurut Berton, gempa susulan masih berpotensi terjadi hingga tiga sampai empat minggu setelah gempa utama.



