PETISI BRAWIJAYA MEDIA, JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mengalami tekanan tajam pada perdagangan Senin (19/10/2026). Indeks saham Indonesia merosot 5,05 persen ke level 4.923,26 pada penutupan sesi pertama, menjadikannya salah satu pasar saham dengan pelemahan terdalam di kawasan Asia pada hari tersebut. Posisi terendah IHSG hari ini ada di 4.907 sedang tertinggi sempat tersentuh di 4.974.
IHSG terkoreksi 261,84 poin dari penutupan sebelumnya di level 5.185,10. Tekanan jual yang meluas membuat indeks kembali terperosok di bawah level psikologis 5.000.
Tekanan jual terlihat hampir di seluruh pasar. Pada penutupan sesi pertama, sebanyak 744 saham tercatat melemah, sementara hanya 42 saham menguat dan 13 saham bergerak stagnan.
Indeks LQ45 yang mencerminkan pergerakan 45 saham unggulan juga turun 5,54% ke level 480,42. Pelemahan ini memperlihatkan bahwa tekanan pasar tidak hanya terkonsentrasi pada saham berkapitalisasi kecil, tetapi juga menjangkau saham-saham unggulan.
Merujuk data perdagangan Bursa Efek Indonesia, volume transaksi perdagangan sepanjang sesi pertama melibatkan sebanyak 16,89 miliar saham dan frekuensi sebanyak 872,55 ribu kali. Kapitalisasi pasar tercatat mencapai Rp 8.737 triliun dengan total nilai transaksi siang ini sebesar Rp 10,03 triliun.
Hingga perdagangan sesi pertama, investor asing mencatatkan aksi jual bersih atau net sell senilai Rp 1,05 triliun. Saham bank swasta raksasa PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi saham yang paling banyak dijual investor asing yaitu senilai Rp 670,83 miliar. Lalu disusul saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dijual Rp 515,17 miliar dan PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) senilai 205,54 miliar.
Seluruh sektor yang ada di bursa parkir di zona merah. Saham sektor perbankan rontok berjamaah hingga menyentuh batas auto rejection bawah (ARB) baru, yaitu 7%. Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) anjlok 6,86% ke level 4.820 dan menyentuh ARB. Sementara itu, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) merosot 6,82% ke level 2.460 dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) berkurang 2,65% ke level 3.300.
Di samping itu, saham sektor bahan baku anjlok 6,35% secara sektoral. Di dalamnya, saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) turun 6,67% ke level 2.380, PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) rontok 6,74% ke level 6.575 dan PT Vale Indonesia Tbk (INCO) turun 6,67% ke level 3.220.
Lebih lanjut, saham-saham yang melemah dalam dan menjadi top losers di antaranya saham PT Bumi Teknokultura Unggul Tbk (BTEK) yang ambles 33,3% saham PT Express Transindo Utama Tbk (TAXI) yang jatuh 25%, dan saham PT PP Properti Tbk (PPRO) yang ambruk 21,4%.
Koreksi lebih dari 5% membuat kinerja IHSG tertinggal dibandingkan sejumlah indeks saham Asia pada perdagangan Senin.
IHSG menjadi indeks dengan pelemahan terdalam di kawasan Asia pada periode pengamatan tersebut. Sebaliknya, sejumlah bursa regional mengalami koreksi lebih terbatas atau bergerak menguat.
Di kawasan Asia Timur, indeks Hang Seng Hong Kong memimpin penguatan dengan naik 0,52% atau 124,11 poin ke level 24.186,83. Indeks Shanghai juga menguat 0,26% ke posisi 3.726,05.
Sementara itu, indeks KOSPI Korea Selatan naik 0,19% ke level 5.678,77. Penguatan ketiga indeks tersebut menunjukkan pergerakan yang berbeda dibandingkan tekanan jual yang terjadi di pasar saham Indonesia.
Sebaliknya, indeks Nikkei 225 Jepang melemah 1,04% atau 676,29 poin ke posisi 64.648,00. Pelemahan juga terjadi pada indeks KLCI Malaysia yang turun 0,47% atau 7,48 poin ke level 1.600,28.
Di Asia Tenggara, indeks SET Thailand terkoreksi 0,18% atau 2,87 poin ke posisi 1.573,01. Instrumen SPDR Straits Times Singapura juga tercatat melemah 0,45% ke level 5,48.
Berbeda dengan mayoritas bursa yang melemah di kawasan tersebut, indeks PSEi Composite Filipina masih bergerak di zona hijau. Indeks ini naik 0,35% atau 20,31 poin ke level 5.803,01, meskipun terdapat indikasi volume perdagangan yang tidak wajar berdasarkan data pantauan pasar.
Jadi, IHSG adalah indeks dengan pelemahan paling ambles hingga menjadi yang paling jatuh di Bursa Asia.
Sentimen yang menggerakkan IHSG hari ini hingga kembali ke level 10 tahun yang lalu, datang dari kegelisahan meningkatnya tekanan jual pasca announcement Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang tengah mempertimbangkan untuk menurunkan Indonesia menjadi Standalone Market, dua tingkat di bawah Emerging Market.
Investor kini mencermati perkembangan evaluasi MSCI terhadap klasifikasi pasar modal Indonesia, serta respons pemerintah dan regulator dalam menjaga kepercayaan pasar.
Situasi ini menjadi perhatian karena tekanan tidak hanya terlihat pada IHSG, tetapi juga pada saham-saham berkapitalisasi besar dan berbagai sektor industri.



