28.5 C
Jakarta
Monday, February 2, 2026
spot_img

Tangis Gubernur Aceh Muzakir Manaf: Empat Kampung Hilang Diterjang Banjir dan Longsor, “Seperti Tsunami Kedua”

PETISI BRAWIJAYA MEDIA, JAKARTA – Gubernur Aceh Muzakir Manaf atau Mualem mengaku tak kuasa menahan tangis saat memaparkan kondisi terkini penanganan banjir dan longsor yang menerjang Aceh.

Menurutnya ada sekitar empat kampung di Aceh yang dilaporkan hilang total akibat bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda provinsi tersebut sejak akhir November 2025.

“Ada beberapa kampung hilang entah ke mana, yaitu Sawang, Jambo Aye di Aceh Utara, Peusangan di Bireuen, malam itu 4 kampung juga nggak tahu entah ke mana. Jadi, Aceh sekarang seperti tsunami kedua,” ujar Mualem dengan suara bergetar dalam Apel Tim Recovery Bencana di Landasan Udara Sultan Iskandar Muda (SIM), akhir pekan lalu, dan dikutip Senin (1/12/2025).

Ia menyatakan penanganan bencana di 18 kabupaten/kota di Aceh harus dilakukan secara cepat dan terukur. Tidak boleh ada penundaan karena kondisi di lapangan membutuhkan respons segera.

Percepatan pembukaan akses darat menjadi prioritas utama dalam proses penanganan bencana. Pemerintah ingin memastikan bahwa distribusi logistik bisa segera menjangkau masyarakat terdampak.

“Tugas kita adalah melayani mereka yang terdampak. Tidak boleh ada jeda kemanusiaan di lapangan,” ujar Mualem menegaskan.

Bantuan Darurat Diterjunkan Lewat Udara dan Darat

Mualem sebelumnya juga bergerak cepat menyalurkan bantuan tanggap darurat. Total 10 ton beras disalurkan ke sejumlah titik pengungsian yang membuka dapur umum di sepanjang jalan nasional Banda Aceh-Medan, Kabupaten Aceh Utara.

“Kami mengantar bantuan ke semua pelosok di seluruh Aceh. Kendala dalam distribusi bantuan karena ada wilayah yang tidak dapat diakses transportasi,” kata dia di Aceh Utara, Minggu.

Oleh karena tak bisa sepenuhnya menggunakan jalur darat akibat rusaknya akses, Mualem mengambil langkah menggunakan pesawat udara dari Banda Aceh ke Aceh Utara. Bantuan diserahkan secara simbolis, termasuk 10 ton beras dari Dinas Pangan Aceh serta logistik dari Triangle Pase dan BPMA.

Setelah pendaratan, penyaluran bantuan dilanjutkan secara langsung kepada para pengungsi di pinggir jalan nasional Banda Aceh-Medan, termasuk di Alue Gunto, Geumata, Meunasah Reudeup, Keude Sampoiniet, dan Panton Labu.

Hingga saat ini, beberapa ruas jalan lintas nasional masih terendam. Di Cot Mane, Kecamatan Baktiya, ketinggian air dilaporkan masih sekitar 70 sentimeter, membuat distribusi logistik via darat semakin sulit.

Mualem menyebut, wilayah yang baru bisa dilewati kendaraan darat secara lancar hanya sampai Kabupaten Pidie, Pidie Jaya, dan Bireuen. Bantuan ke lokasi-lokasi ini pun terus mengalir.

Untuk wilayah lain yang masih terisolasi, Mualem menjamin bahwa bantuan akan terus diupayakan menjangkau masyarakat.

“Untuk wilayah lain akan kita tempuh lewat darat, laut, dan udara,” katanya.

Ribuan warga masih mengungsi di tenda-tenda darurat dengan kondisi memprihatinkan. Listrik padam, air bersih terbatas, dan bantuan logistik belum merata. Pemerintah Aceh telah mengerahkan seluruh sumber daya yang tersedia, namun keterbatasan anggaran dan infrastruktur membuat penanganan belum optimal.

Gubernur Mualem menyerukan kepada pemerintah pusat untuk segera menetapkan status bencana nasional agar penanganan bisa lebih terkoordinasi dan menyeluruh.

“Kami tidak bisa sendiri. Ini sudah di luar kemampuan daerah,” tegasnya.

Media Sosial dan Solidaritas Publik

Tagar #AcehBerduka dan #TsunamiKedua menjadi trending di media sosial. Warganet menyampaikan simpati dan menyerukan solidaritas nasional untuk membantu Aceh. Banyak komunitas dan lembaga kemanusiaan mulai menggalang donasi dan mengirimkan relawan ke lokasi bencana.

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

1,459FollowersFollow
7,451FollowersFollow
7,700SubscribersSubscribe
- Advertisement -spot_img

Latest Articles