24.4 C
Jakarta
Sunday, February 1, 2026
spot_img

4 Gajah Jinak Dikerahkan Bantu Bersihkan Puing Banjir di Aceh: Simbol Harmoni Alam dan Manusia

PETISI BRAWIJAYA MEDIA, JAKARTA – Empat ekor gajah Sumatra (Elephas maximus sumatranus) dikerahkan oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh untuk membantu membersihkan ratusan puing kayu dan material berat sisa banjir bandang yang melanda Kabupaten Pidie Jaya, Aceh. Aksi ini menjadi sorotan publik karena menunjukkan sinergi luar biasa antara manusia dan satwa dalam menghadapi bencana alam.

Gajah dari Pusat Latihan Gajah Saree

Keempat gajah jinak tersebut—bernama Abu, Mido, Ajis, dan Noni—berasal dari Pusat Latihan Gajah (PLG) Saree. Mereka tiba di lokasi terdampak banjir di Desa Meunasah Bie, Kecamatan Meurah Dua, pada Senin, 8 Desember 2025, bersama para mahout (pawang gajah) yang memandu mereka dalam proses evakuasi dan pembersihan.

Menurut Kepala KSDA Wilayah Sigli, Hadi Sofyan, pemanfaatan tenaga gajah ini dilakukan karena banyaknya puing kayu besar yang tidak dapat dijangkau oleh alat berat.

“Gajah-gajah ini sangat terlatih dan mampu menjangkau area yang sulit diakses, terutama di kawasan yang terisolasi. Kita target pembersihan di lokasi terdampak banjir bandang di Kecamatan Meureudu dan Meurah Dua Kabupaten Pidie Jaya,” ujarnya.

Hadi mengatakan bahwa gajah-gajah ini akan bertugas selama tujuh hari, terakhir sampai tanggal 14 Desember 2025.

Peran Vital dalam Pemulihan Pascabencana

Gajah-gajah tersebut membantu membuka akses jalan yang tertutup reruntuhan, mengangkat kayu gelondongan, dan membersihkan permukiman warga dari sisa-sisa banjir. Selain itu, gajah juga dapat digunakan untuk mengantar logistik kepada para korban banjir di Pidie Jaya, termasuk mencari korban yang belum ditemukan.

Selain peran fisik, kehadiran gajah juga memberikan dampak psikologis positif bagi warga. Banyak warga yang merasa terhibur dan terharu melihat hewan-hewan besar ini bekerja dengan tenang dan penuh dedikasi.

Beberapa warga bahkan menyebut kehadiran gajah sebagai “penyembuh luka” pascabencana.

Simbol Pelestarian dan Kearifan Lokal

Penggunaan gajah dalam penanganan bencana ini juga menjadi pengingat pentingnya pelestarian satwa liar dan kearifan lokal. Gajah Sumatra merupakan spesies yang terancam punah, dan pelibatan mereka dalam kegiatan kemanusiaan menunjukkan bahwa konservasi satwa dapat berjalan seiring dengan kebutuhan masyarakat.

BKSDA Aceh berharap langkah ini dapat menjadi contoh bagi daerah lain dalam mengintegrasikan pendekatan ekologis dalam penanganan bencana.

“Ini bukan hanya soal efisiensi, tapi juga tentang membangun harmoni antara manusia dan alam,” tambah Hadi Sofyan.

Dirinya mengaku, gajah jinak yang membantu melakukan pembersihan ini sudah memiliki pengalaman panjang. Di mana, keempatnya pernah terlibat membantu membersihkan material saat bencana tsunami Aceh 2004.

“Berdasarkan pengalaman sebelumnya, termasuk saat tsunami di Aceh, kehadiran gajah sangat membantu membersihkan puing-puing,” tandasnya.

Aksi heroik Abu, Mido, Ajis, dan Noni bukan hanya membantu membersihkan puing-puing banjir, tetapi juga membersihkan luka batin masyarakat yang terdampak. Mereka menjadi simbol kekuatan, ketenangan, dan harapan di tengah bencana.

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

1,459FollowersFollow
7,451FollowersFollow
7,700SubscribersSubscribe
- Advertisement -spot_img

Latest Articles