33.7 C
Jakarta
Monday, March 16, 2026
spot_img

Imbas AS–Iran, CORE Perkirakan Defisit APBN Bisa Melebar Rp200 Triliun

PETISI BRAWIJAYA MEDIA, JAKARTA – Konflik geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran dinilai membawa dampak serius bagi kondisi fiskal Indonesia. Ekonom dari Center of Reform on Economics (CORE) memperingatkan potensi pelebaran defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 mencapai sekitar Rp200 triliun jika tekanan pasar akibat konflik terus berlangsung.

Peringatan itu disampaikan oleh ekonom CORE, Yusuf Rendy Manilet, menurutnya, eskalasi ketegangan di Timur Tengah akan berdampak langsung pada perekonomian Indonesia melalui dua saluran utama, yakni kenaikan harga minyak global dan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

“Keduanya memiliki konsekuensi langsung terhadap belanja negara, khususnya melalui subsidi energi dan beban pembiayaan,” katanya di Jakarta, Senin (2/3), dikutip dari Antara.

Kenaikan harga minyak memang akan meningkatkan pendapatan negara, terutama dari sektor migas dan penerimaan negara bukan pajak (PNBP), namun kenaikan belanja negara jauh lebih besar karena pemerintah harus menanggung pengeluaran negara pada pos-pos strategis, terutama subsidi energi dan kompensasi harga, yang belum diperhitungkan sepenuhnya dalam asumsi APBN 2026.

Dalam simulasi fiskal pemerintah, setiap kenaikan US$1 per barel di atas asumsi harga minyak akan meningkatkan pendapatan negara sekitar Rp3,5 triliun. Namun di sisi lain, belanja negara untuk subsidi energi justru meningkat sekitar Rp10,3 triliun pada saat yang sama. Artinya, terdapat selisih beban fiskal negatif hingga sekitar Rp6,8 triliun per US$1 per barel kenaikan harga minyak.

“Dalam skenario moderat, ketika harga minyak naik sekitar US$15 per barel, defisit APBN berpotensi melebar lebih dari Rp100 triliun. Bahkan dalam skenario yang lebih berat, pelebaran defisit bisa melampaui Rp200 triliun,” ujar Yusuf.

Selain kenaikan harga minyak, pelemahan rupiah juga menjadi faktor risiko tambahan terhadap defisit APBN. Konflik global sering kali mendorong arus modal keluar dari pasar negara berkembang, sehingga investor beralih ke aset safe haven seperti dolar AS.

Dalam kondisi ini, pelemahan rupiah akan menambah beban belanja negara, terutama pada pembayaran kewajiban dalam valuta asing dan subsidi energi yang dihitung dalam dolar.

Yusuf memperkirakan bahwa setiap pelemahan Rp100 terhadap dolar AS dapat meningkatkan belanja negara sekitar Rp6,1 triliun, sementara tambahan pendapatan hanya sekitar Rp5,3 triliun.

“Akibatnya, defisit tetap melebar sekitar Rp0,8 triliun untuk setiap pelemahan Rp100. Jika rupiah melemah hingga Rp1.500, maka tambahan tekanan terhadap defisit bisa mencapai sekitar Rp12 triliun,” tutur dia.

 

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

1,459FollowersFollow
7,451FollowersFollow
7,700SubscribersSubscribe
- Advertisement -spot_img

Latest Articles