33.7 C
Jakarta
Monday, March 16, 2026
spot_img

Pendakian Gunung Rinjani Dibuka Kembali Mulai 1 April 2026

PETISI BRAWIJAYA MEDIA, JAKARTA – Aktivitas pendakian di Gunung Rinjani, salah satu ikon pariwisata alam Indonesia yang berada di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), dipastikan kembali dibuka mulai 1 April 2026 setelah sebelumnya ditutup sementara. Pengumuman ini disampaikan oleh Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) sebagai bagian dari upaya konservasi dan pemulihan ekosistem kawasan.

“Jalur pendakian Gunung Rinjani dibuka kembali pada 1 April 2026,” ujar Kepala Balai TNGR NTB, Budhy Kurniawan, di Mataram, NTB, Selasa.

Pembukaan jalur pendakian ini menjadi angin segar bagi para pencinta alam, komunitas pendaki, dan pelaku ekowisata, setelah lebih dari tiga bulan kawasan tersebut ditutup untuk mendukung pemulihan lingkungan selama musim hujan serta melakukan perbaikan fasilitas di berbagai titik jalur pendakian.

Budhy mengatakan bahwa pembukaan jalur pendakian akan ditandai dengan kegiatan bertajuk Ajang Rinjani Begawe 2026, yang akan digelar pada 28 Maret 2026 di Teras Udayana, Kota Mataram.

“Kegiatan ini menjadi penanda resmi pembukaan jalur pendakian Gunung Rinjani sekaligus peluncuran berbagai program strategis berbasis kolaborasi dan pemberdayaan masyarakat,” katanya.

Adapun agenda utama yang akan diluncurkan dalam kegiatan tersebut meliputi program Rinjani 7, Kalender Event Rinjani, Putri Rinjani, deklarasi kerja sama dengan Universitas Mataram, serta penyerahan Surat Keputusan (SK) persetujuan penggunaan air non-komersial. Kegiatan ini merupakan wujud sinergi pengembangan ekowisata berkelanjutan.

Budhy menyampaikan bahwa kegiatan tersebut tidak hanya menjadi seremoni pembukaan jalur, tetapi juga momentum peluncuran sejumlah program strategis yang dirancang untuk memperkuat konservasi lingkungan, memberdayakan ekonomi masyarakat lokal, memajukan ekowisata berkelanjutan di kawasan Rinjani, serta memastikan pendakian yang aman, nyaman dan bertanggung jawab.

Selama masa penutupan jalur pendakian, Balai TNGR melakukan survei di berbagai jalur untuk memperbaiki sarana dan prasarana pendakian.

“Ini salah satu upaya untuk peningkatan keselamatan jalur pendakian di kawasan Gunung Rinjani,” jelasnya.

Lebih lanjut Budhy mengatakan bahwa, selama masa penutupan, Balai TNGR memanfaatkan waktu untuk melakukan survei menyeluruh di jalur-jalur pendakian, mulai dari Aik Berik, Timbanuh, Tetebatu, Sembalun, Torean, hingga Senaru guna meningkatkan fasilitas, keselamatan, dan kenyamanan bagi pendaki. Pembangunan shelter, pemasangan railing pengaman, hingga penataan jalur dan sumber air menjadi bagian penting dari persiapan ini.

Setiap temuan di lapangan, mulai dari kondisi jalur, titik rawan, hingga kebutuhan fasilitas keselamatan dan kenyamanan pendaki, dicatat dan dianalisis secara menyeluruh.

Budhy menekankan bahwa data hasil survei menjadi dasar utama dalam pembaruan dan pengembangan fasilitas pendakian agar proses pendakian dapat berlangsung lebih aman, nyaman, tertata, dan tetap berwawasan lingkungan.

Melalui langkah ini, pengelolaan jalur pendakian tidak dilakukan berdasarkan asumsi, melainkan berbasis data dan kondisi riil di lapangan.

“Harapannya, seluruh jalur dapat terus ditingkatkan kualitasnya sehingga mampu memberikan pengalaman pendakian yang lebih baik tanpa mengesampingkan aspek konservasi,” pungkasnya.

 

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

1,459FollowersFollow
7,451FollowersFollow
7,700SubscribersSubscribe
- Advertisement -spot_img

Latest Articles