PETISI BRAWIJAYA MEDIA, JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mengalami tekanan tajam pada awal perdagangan pekan ini hingga menembus level psikologis Rp17.000 per dolar AS. Pelemahan tersebut dipicu oleh meningkatnya ketidakpastian ekonomi global, lonjakan harga minyak dunia, serta sentimen pasar yang cenderung menghindari risiko (risk-off).
Berdasarkan data pasar spot, rupiah sempat diperdagangkan di kisaran Rp17.001 hingga Rp17.019 per dolar AS pada Senin (9/3/2026), melemah dibandingkan posisi penutupan perdagangan sebelumnya. Tekanan terhadap mata uang Garuda tersebut terjadi seiring penguatan dolar AS dan meningkatnya kekhawatiran investor terhadap perkembangan geopolitik global.
Lonjakan Harga Minyak Dunia
Analis mata uang dari Doo Financial Futures Lukman Leong, menilai salah satu faktor utama pelemahan rupiah adalah kenaikan tajam harga minyak mentah dunia yang dipicu eskalasi konflik di Timur Tengah.
“Rupiah diperkirakan melemah terhadap dolar AS oleh sentimen risk off yang memburuk dipicu kenaikan harga minyak mentah yang melewati US$ 100 per barel yang dikhawatirkan akan berdampak besar pada perekonomian global dan inflasi,” kata Lukman di Jakarta pada Senin, 9 Maret 2026, seperti dikutip dari Antara.
Sementara itu, Analis Pasar Modal sekaligus pendiri Republik Investor Hendra Wardana mengatakan, eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran menjadi salah satu pemicu utama meningkatnya ketidakpastian di pasar keuangan global, khususnya lonjakan harga minyak dunia.
“Kondisi ini membuat investor asing cenderung melakukan aksi jual di pasar saham negara berkembang, termasuk Indonesia, yang terlihat dari masih terjadinya arus dana keluar (foreign net sell) di pasar saham,” kata Hendra.
Lonjakan harga minyak juga meningkatkan risiko bagi negara pengimpor energi seperti Indonesia. Jika harga minyak terus meningkat hingga di atas asumsi anggaran negara, beban fiskal pemerintah berpotensi bertambah dan mempengaruhi stabilitas ekonomi domestik.
Bagi negara seperti Indonesia yang masih menjadi net importir minyak, kenaikan harga energi global berpotensi menekan neraca perdagangan, nilai tukar rupiah, serta meningkatkan beban subsidi energi dalam APBN.
Hal senada juga disampaikan oleh Pengamat Pasar Modal Ibrahim Assuabi, yang menyoroti perkembangan politik di Iran yang dinilai berpotensi memperpanjang konflik di Timur Tengah.
Ketegangan geopolitik tersebut dinilai berpotensi memicu gangguan pasokan energi global, terutama jika jalur distribusi strategis seperti Selat Hormuz terdampak.
Selain itu, konflik geopolitik yang melibatkan negara-negara besar di kawasan Timur Tengah meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap gangguan jalur distribusi energi global, termasuk di wilayah Teluk yang menjadi salah satu pusat produksi minyak dunia.
Ibrahim bahkan memperkirakan harga minyak mentah dunia berpotensi melonjak lebih tinggi jika konflik tidak segera mereda.
“Nah banyak analis yang mengatakan kemungkinan besar harga minyak mentah ini akan mencapai level USD 200 per barrel apabila dalam jangka waktu satu bulan ini belum ada penyelesaian tentang krisis di Timur Tengah,” ujarnya.
Situasi ini membuat investor global cenderung menghindari aset berisiko dan beralih ke aset yang dianggap lebih aman, termasuk dolar AS. Pemerintah pun dinilai perlu menyiapkan langkah antisipatif untuk menjaga stabilitas ekonomi di tengah ketidakpastian global yang meningkat.




