26.5 C
Jakarta
Sunday, March 15, 2026
spot_img

Harga Minyak Dunia Tembus 118 Dolar AS per Barel, Bahlil Pastikan Pertalite Cs Tidak Akan Naik

PETISI BRAWIJAYA MEDIA, JAKARTA – Lonjakan harga minyak mentah dunia yang menembus level 118 dolar Amerika Serikat (AS) per barel memicu kekhawatiran masyarakat terhadap potensi kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri. Namun pemerintah memastikan harga BBM bersubsidi, termasuk Pertalite, tidak akan mengalami kenaikan dalam waktu dekat.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa pemerintah berkomitmen menjaga stabilitas harga BBM subsidi meskipun harga minyak global tengah melonjak tajam akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Menurutnya, pemerintah menjamin harga BBM subsidi tetap stabil setidaknya sampai periode Lebaran.

“Sekali lagi saya pastikan, sampai dengan hari raya ini insyaallah tidak ada kenaikan harga BBM subsidi,” ujar Bahlil saat ditemui di kantor Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral di Jakarta, Senin (9/3/2026).

Meski harga minyak dunia meningkat, Bahlil memastikan kondisi pasokan BBM di dalam negeri tetap aman dan cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, terutama menjelang Ramadan dan Idulfitri yang biasanya diiringi lonjakan konsumsi energi.

Menurutnya, pemerintah telah mengantisipasi potensi lonjakan permintaan dengan menjaga cadangan BBM nasional serta memastikan distribusi berjalan lancar.

“Pasokan tidak ada masalah. Untuk puasa dan Hari Raya semuanya terjamin,” kata Bahlil.

Ia juga meminta masyarakat tidak melakukan pembelian berlebihan atau panic buying karena ketersediaan BBM dipastikan mencukupi.

Pemerintah, lanjut dia, tengah menyiapkan berbagai langkah komprehensif untuk merespons kenaikan harga minyak dunia tersebut.

Salah satu langkah yang dipertimbangkan adalah percepatan program energi alternatif, termasuk peningkatan campuran biodiesel dari B40 menjadi B50 serta percepatan penerapan campuran etanol atau E20 pada bensin.

“Kalau harga minyak fosil melampaui US$100 dolar per barel, maka alternatif seperti biodiesel dan etanol menjadi lebih murah. Karena itu kita akan percepat B50 dan juga penerapan E20,” ujar Bahlil.

Menurutnya, berbagai langkah tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah melakukan efisiensi sekaligus mengoptimalkan pemanfaatan energi domestik agar pasokan energi nasional tetap terjaga di tengah gejolak harga global.

“Atau kita bikin mandatory untuk bensin dan itu lebih bersih. Jadi ada beberapa langkah-langkah yang akan kita lakukan,” pungkasnya.

Untuk diketahui, harga minyak mentah berjangka Brent saat ini telah mencapai 108,40 dollar AS per barrel, sementara harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS sudah di level 104,48 dollar per barrel.

Kenaikan harga tersebut dipicu eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Israel yang berhadapan dengan Iran. Ketegangan meningkat setelah AS dan Israel melancarkan serangan besar terhadap Iran pada 28 Februari 2026.

Serangan tersebut dilaporkan menewaskan lebih dari 1.000 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei, lebih dari 150 siswi sekolah, serta sejumlah pejabat tinggi militer.

Iran kemudian membalas dengan serangkaian serangan yang menargetkan pangkalan militer AS, fasilitas diplomatik, serta personel militer di berbagai wilayah kawasan tersebut, termasuk sejumlah kota di Israel.

Konflik juga berdampak pada infrastruktur energi Iran. Pada Minggu (8/3), AS dan Israel dilaporkan melancarkan serangan udara yang menargetkan fasilitas penyimpanan minyak di Teheran dan sekitarnya.

Serangan tersebut menyebabkan kerusakan signifikan pada beberapa fasilitas penyimpanan minyak, termasuk Depo Minyak Shahran. Ketegangan yang terus meningkat ini turut mendorong volatilitas harga minyak di pasar global.

 

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

1,459FollowersFollow
7,451FollowersFollow
7,700SubscribersSubscribe
- Advertisement -spot_img

Latest Articles